Jnana Tattwa, Dasar Semua Tattwa Siwa


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Donasi

Total: Rp100.000,00


Penting :

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email yang aktif untuk Konfirmasi dan Login.
  • Pembayaran : Transfer Bank (VA Account), QRIS (QR scanner seperti BCA Mobile, OVO, Dana, LinkAja, Gopay, Shopee pay, Sakuku, dll).
  • Tidak diperlukan untuk melakukan konfirmasi pembayaran, karena sistem Gateway  akan melakukan verifikasi otomatis jika pembayaran sudah terverifikasi (sukses) oleh penyedia Payment Gateway kami di iPaymu.
  • Aktivasi akun 1×24 jam di Hari / Jam Kerja setelah pembayaran diterima.
  • Contoh PDF hasil dari download
    Klik disini

Perbedaan Pramana dan Wisesa yaitu :

  • Sanghyang Pramana lebih rendah dari pada Sanghyang Wisesa.
  • Sanghyang Pramana aktif dalam perbuatan baik atau buruk. Namun Sanghyang Wisesa tidak aktif, tidak berkata tanpa tujuan, tidak mengetahui akan baik dan buruk. Hanya tetap diam  tenang, tak bergerak, tidak terguncang, tidak berjalan, tidak mengalir.
  • Atma itu berada di Turyapada, Jarapada, Suptapada.
  • Atma berada di Turyapada disebut  Pramana Wisesa
  • Atma berada di Jarapada disebut Pramana
  • Atma berada si Suptapada disebut Wisesa. Yang menyebabkan  Ahangkāra itu  disebut  Pramana ialah sebagai  sarana untuk mengaku  untuk menentukan sehingga atam itu mengalami sengsara  atau  Ātma itu menjelma berkali-kali.  Ahangkāra  itu ada tiga macamnya yaitu :  tempatnya pada buddhi : ada buddhi sattwa,  buddhi rajas, buddhi  tamas. Itulah yang  mengikuti apa yang diingini oleh  Yoninya sebagai penjelmaannya. Yoni  itulah yang menyebabkan kemoksan, sorga, demikian pula penjelmaan yang  berulang-ulang.
  • Bila ada  buddhi  sattwa sangat menekankan kepada hakekat kebijaksanaan, mengamati baik-baik sastra, melaksanakan kesamyagjanan, maka kelahirannya Sanghyang Tripurusa. Kelahiran sattwa.
  • Bila buddhi sattwa sangat menekankan  pada hakekat  brata, tapa,  yoga samadhi, maka pancarsi kelahiran sattwa yang demikian .
  • Bila buddhi  sattwa menekankan  pada hakekat  puja, arcana, japa, mantra dan puji-pujian terhadap  bhatara, maka saptarsi kelahiran sattwa yang demikian.
  • Bila buddhi satwa  tidak mengindahkan  baik dan buruk, namun  kasih – sayang pada  segala makhluk ; dewa rsi kelahiran  sattwa yang demikian.
  • Apabila buddhi  sattwa sangat  menekankan pada  hakekat dharma, kirti, yasa, kebijakan maka kelahiran dewa sattwa yang  demikan.
  • Apabila buddhi  sattwa, sangat menekankan  pada hakekat keberanian, keperwiraan, ketangkasan, tidak memperdulikan bahaya, sangat rela ikhlas pada jiwanya, sombong hendak membunuh mengalahkan dirinya sendiri dengan kasih sayangnya, bhaktinya, tak bingung dalam  berperilaku, hanya  tenang pikirannya, pikirannya semata-mata  jernih,  bila akan melaksanakan  ketetapan  hatinya, keberaniannya, widhyadhara  kelahiran sattwa yang demikian.
  • Apabila buddhi  sattwa, sangat menekankan pada hakekat  keindahan, ia senang mendengarkan  bunyi-bunyian yang menyebabkan  senangnya telinga, cinta pada tari-tarian, kidung, cinta  bercengkrama,  setiap yang  indah menawan  didatanginya, ia senang memandang bunga yang  harum. Gandharwa  kelahiran sattwa yang demikian. Adapun  yang dijadikan dasar oleh para  arif bijaksana  untuk mencapai  kemoksan oleh  para rsi, dewarsi, saptarsi,  terutama oleh sanghyang Tripurusa ialah, buddhi  sattwa yang  kenista, madhyama, uttama.

Buddhi Rajas

  • Ada buddhi rajas, diberi kata-kata yang tak layak, menjadi marahlah ia, maka tak mampu  menahan, tidak keluar dalam penampilannya, karena sesungguhnya ada orang lain. Maka itu ia diam saja menahan  dirinya. Karena sesak hatinya maka mengalir  keluar dalam wujud  tangis. Jika demikian kelahirannya  Denawa rajas yang demikian.
  • Ada buddhi rajas, diberi kata yang tak baik menjadi  marah,  tetapi ia tidak tinggal diam, seketika ia  menjauh dan berkata, katanya : “paling hebatlah padaku, ia  kira aku orang penakut, hanya karena enggan untuk  bertengkar karena aku sayang akan kebaikanku.  Itulah  kelahiran Daitya rajas yang demikian.
  • Ada buddhi rajas diberi kata-kata yang tidak baik, menjadi marah gemetar  badannya, seketika ia  menyerang, lancang. Kata-katanya :  lancang tangan, lancang kaki, menjerit, meraung, berkata seenaknya saja, Raksasa kelahiran  rajas yang demikian.  Dewa kris pencabut nyawa  adalah Raksasa. Daitya menjadi dewanya  keris yang menjadi senjata seorang petani. Danawa adalah dewanya keris yang menjadi senjata seorang pendeta.

Buddhi Tamas

  • Tidak resah pada apa yang dimakan, ia merasa kenyang dengan secabik sayur, sekepal nasi, seteguk air, seteguk tuak, puaslah hatinya. Itulah kelahiran Bhutayaksa tamas yang demikian.
  • Bhutayaksa  tempat tinggalnya di desa sebagai dewanya logam, tinggal pada lingga pratima, arca pujaan.
  • Bila ada buddhi tamas, memilih apa yang di makan, bukan  emas yang diinginkannya yaitu  yang paling  tidak ditolaknya, apa saja yang gemerlapan tidak diingininya. Tidak masuk dihatinya, namun bila ia  menemukan makanan, sejuklah hatinya. Kelahiran  Bhuta dengen tamas yang demikian. Bhuta dengen tempat tinggalnya  di wanglu, sebagai dewanya kayu  banaspati (beringin).
  • Bila buddhi tamas, sama saja apa yang dimakan, tidak memilih  apa yang diingininya, semua  daging yang dipandang orang haram dimakannya saja, asalkan membuat kenyang, katanya, kelahiran bhutakala tamas yang demikian. Bhutakala tamas  tempat tinggal  di kuburan, perbatasan  pemakaman, simpang empat.
  • Bila  ada buddhi tamas, mau saja ia makan  yang tidak enak yang  menyebabkan ia  kemudian gelisah resah, ke barat ke timur, tidak mengenal  letih, kemudian sadarlah ia  tertipu  barang  orang, yang menyebabkan ia menjadi manggul dan lesu  namun masih tergila-gila. Dipasang juga telinganya, bila  mendengar ada makanan kelahiran  Bhutapisaca tamas yang demikian. Bhutapisaca tamas  tempat tinggalnya di angkasa, berjalan-jalan, tidak bergerak (sasabawuh).
  • Bertemunya  Bhutayaksa dengan dewarsi, saptarsi, pancarsi, tripurusa  terang bercahaya  buddhi itu, itulah  atma mencapai Kamoksaan.  Adapun bhuta dengan  hanya daitya bertemu dengan daitya, wedyadhara, dewata, terang bercahaya  besar buddhi itu, itulah yang menyebabkan atma mencapai sorga.  Bhutakala bertemu dengan raksasa, gandharwa, terang bercahaya buddhi itu, itulah  yang menyebabkan lahirnya  sebagai manusia.  Bhutapisaca bertemu dengan raksasa, terang bercahaya buddhi itu, itulah  menyebabkan atma itu  jatuh ke Neraka. Bhutapisaca, terang  bercahaya besar buddhi itu, maka atma  menjelma sebagai Binatang.  Tripurusa  ialah Bhatara Brahma, Wisnu, Iswara, bila ia kurang hati-hati, kurang  yoga, pancarsi  jadinya.
  • Pancarsi   kurang yoga Sapta rsi jadinya
  • Saptarsi   kurang yoga Dewa rsi jadinya
  • Dewarsi kurang yoga Dewata jadinya
  • Dewata   kurang yoga Widyadhara jadinya
  • Widyadhara   kurang yoga Gandharwa jadinya
  • Gandharwa   kurang yoga Danawa jadinya
  • Danawa kurang yoga Daitya jadinya
  • Daitya kurang yoga Raksasa jadinya
  • Raksasa kurang  yoga  Bhuta Dengen jadinya
  • Bhuta Dengen kurang yoga bhuta kala jadinya
  • Bhuta kala kurang yoga Bhutapisaca jadinya
  • Bhutapisaca kurang yoga Manusia jadinya
  • Manusia kurang yoga  menjadi binatang

Binatang ada lima :

  • Pasu (binatang) yang lahir di desa.
  • Mrga ialah binatang yang lahir di hutan
  • Paksi ialah  segala  yang terbang
  • Mina ialah yang  lahir di air
  • Pipilika ialah nama binatang yang berjalan-jalan  dengan dadanya.

Apabila dengan baik dapat  memahami  Sanghyang  Tattwajnāna, oleh masyarakat yaitu dari kesadarannya untuk melaksanakan Prayogasandhi, dengan  penerangan Samyagjnāna, dengan berdasarkan brata,  tapa, yoga, Samadhi, itulah obat dari atma yang sengsara.

Tempat  Sanghyang  ātmā di Turyapada, telah lebih dulu dikatakan Bhatara jungjungan disebut wyāpi wyapaka. Ia berada di alam niskala kriya saktinya  Bhatāra  merasuki ahangkāra. Ahangkāra  merasuki wāyu. Wayu  meresap pada  nadi. Nadi itu  merasuki tubuh dengan halus. Tubuh itulah  yang menanggung  pancagati (lima kesengsaraan ) itu. Ketika  ātmā memberi kesadaran  pada pradhānatattwa maka pada saat itulah Sanghyang  ātmā yang  terbagi dua yaitu  ada yang wyāpāra  dan yang tidak wyāpāra.

Wyāpāra adalah ketika  atma pada saat memberikan kesadaran pada pradhanatattwa. Tidak Wyāpāra adalah  Bhatāra junjungan berhenti diam tidak lagi menyuruh memberi kesadaran.

Ātma tetap  tinggal diam tak begerak dan tak terguncang, ialah yang disebut  Ātmāwisesa dan ia  pulalah yang  disebut Bhatāra Dharma. Ketika ātmā itu aktif memberi kesadaran di sebut dengan Pramāna. Ātmā yang disebut  Sanghyang pramāna  dan Sanghyang Ātmā Wisesa hanya tetap  akan di Turyapada, Begitu juga Ātmā yang berada di Jāgrapada ia juga tunggal sifatnya hanya saja perbedaan  halus dan kasar. Ātmā yang berada di Jāgrapada sebab cetana sifatnya. Cetana adalah wujud kasar Ātmā yang berada di Turyapada yang  disebut citta yang dilekati  oleh Triguna. Citta   ialah  tutur  Wyapara  kesadaran  yang kacau yang tahu baik dan buruk. Tutur adalah  ketika  tetap  diam tak bergerak.  Ātmā yang  berada di Jagrapada berkeadaan sama pada tutur wyapara dan tanpa  waypara. Ātmā yang diberi nama Ahangkara si Waikrtha, ialah  dibuat oleh bhatara untuk membuat  pancatanmatra dan pancamahabhuta. Adapun  manah (pikiran)  itu diwujudkan lagi menjadi tattwa lawölawö (kelopak bunga). Ātmā lawölawö adalah atma pari wara. Ātmā Pariwara  adalah pancatmā yaitu, ātmā, parātmā,  nirātmā, antarātmā dan suksmātmā. Itulah  yang disebut dengan inti wujud kasarnya ātmā  ialah yang sesungguhnya  mengalami baik dan buruk  perbuatannya, tidak habis-habisnya.

Ātmā disebut  Ahangkara si waikrta adalah buddhi sattwa, ialah  yang menanggung  sengsara. Ātmā yang dinamai  Ahangkara  si tejasa, ia adalah buddhi rajas, ialah yang menyakiti. Ātmā yang disebut si bhutadi  ialah buddhi  tamas, ia sebagai kesengsaraan orang yang ditempati oleh bhatāra  Siwa memiliki atma wisesa. Walaupun ātmā worang ātmā wisesa ia  harus melaksanakan  tapa, brata,  samādhi. Pada waktu samādhi Bhatāra Siwa akan menyatakan dirinya. Pada  binatang  tidak ada ātmā  wisesa itu, ia lebih  namyak digerakkan  oleh wāyu, idep dan sabda. Sabda, wāyu dan idep itu meresapi  seluruh  tubuh manusia yang dibei kesadaran  oleh ātmā dalam kadar yang  berbeda-beda yang menyebabkan perbedaan itu ialah  Subhāsubha Karma. Ātmā yang berada  dijāgrapada dan tūriapada adalah ātmā yang luput dari  subhāsubha karma karena kesuciannya. Sedangkan  ātmā yang berada di suptapada adalah ātmā sengsara karena  terus menerus lahir menjadi dewata, manusia dan binatang. Ia selalu  diombang-ambing oleh pikiran yang berangan-angan. Adapun  turyapada dan  tūryāntapada  itu sukar  dijangkau oleh pikiran  manusia  yang begitu  halusnya. Untuk menentukan sesuatu  itu dapat  dipergunakan Tri Pramāna,  yaitu  Praktiyasa, Anumāna dan āgama pramāna. Turyāntapada  hanya dapat dibayangkan dengan āgama, pramāna. Ātma-ātmā itulah yang lahir  menjadi manusia, tinggal dalam  badan manusia meresap dalam sadrasa, yang membangun  tubuh manusia. Adapun  Sadrasa (enam rasa) itu adalah : Amla (asam), Kesaya (sepet), Tikta ( pahit ), Katuka (pedas ), Lawana (asin), Madhura (manis). Namun tubuh  itu dasarnya dibangun dari Panca Mahābhuta yaitu : tanah dijadikan kulit,  air dijadikan  darah,  teja dijadikan daging, angin dijadikan tulang, udara dijadikan sumsum. Dan pancatanmatra  yaitu : sabda tanmatra menjadi telinga. Sparsa tanmatra menjadi kulit, rupa tanmatra menjadi mala, rasa tanmatra menjadi lidah, gandha tanmatra  menjadi hidup. Sebenarnya tubuh  itu juga merupakan  tiruan alam besar karena bagian-bagian tubuh itu bagaikan  bagian-bagian alam  besar. Demikianlah  bagian-bagian  tubuh itu  dapat dibandingkan dengan sapta bhuwana, sapta pātāla, sapta parwata, sapta arnawa, sapta dwipa.

  • Sapta Buwana ialah : bhur loka adalah perut,  bhuwarloka adalah ati, swarloka adalah dada, tapaloka adalah kepala,  janarloka adalah lidah, mahaloka adalah hidung dan  satyaloka adalah mata.
  • Sapta Pātāla ialah : petala adalah dubur, wantala adalah  paha, nitala adalah lutut, mahatala  adalah betis, sutala adalah pergelangan kaki,  tala-tala adalah ….., pasatala adalah telapaknya  yang dibawah.
  • Sapta Parwata  ialah  buah pelir  adalah gunung Mālyawān, pelir adalah  gunung Nisada, limpa adalah  gunung Gandhamādana, paru-paru adalah gunung  Malayamahidhara, empedu adalah gunung Trisrengga, hati adalah gunung Windhya, jantung adalah gunung Mahāmeru.
  • Sapta Arnawa, ialah : air kemih  adalah  lautan tuak, darah adalah lautan gula tebu, keringat adalah lautan garam,  lemak adalah  lautan minyak,   air liur adalah lautan madu,  sumsum adalah  lautan susu, otak adalah lautan santan. Sapta  Dwipa,  ialah : tulang adalah pulau jambu, otot adala pulau kusa, daging adalah pulau sangka, kulit adalah pulau samali, bulu adalah pulau  gomedha, sendawa adalah  pulau puskara dan gigi adalah pulau  kraunca.



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

BUKU TERKAIT
Baca Juga