Jnana Tattwa, Dasar Semua Tattwa Siwa


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Donasi

Total: Rp100.000,00


Penting :

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email yang aktif untuk Konfirmasi dan Login.
  • Pembayaran : Transfer Bank (VA Account), QRIS (QR scanner seperti BCA Mobile, OVO, Dana, LinkAja, Gopay, Shopee pay, Sakuku, dll).
  • Tidak diperlukan untuk melakukan konfirmasi pembayaran, karena sistem Gateway  akan melakukan verifikasi otomatis jika pembayaran sudah terverifikasi (sukses) oleh penyedia Payment Gateway kami di iPaymu.
  • Aktivasi akun 1×24 jam di Hari / Jam Kerja setelah pembayaran diterima.
  • Contoh PDF hasil dari download
    Klik disini

Bila dalam  alam  besar terdapat banyak sungai, maka dalam badan terdapat semacam  sungai yang disebut nādi. Nādi  yang utama  terdapat sepuluh nādi yaitu :

  1. Ida adalah nādi disebelah kanan, tempat  makananan lewat terus  masuk meresap sampai kesekat rongga dada.
  2. Pinggala adalah  nādi disebalah kiri, tempat  air lewat terus masuk meresap ke dalam kandung kemih.
  3. Sumsumna adalah nadi ditengah, tempat angin memencar ke tiga  jurusan.
  4. Gandhari,  ialah cabang  nadi, tempat angin lewat melaju sampai  ke kepala, kemata, ke hidung, ke telinga, ke ubun-ubun.
  5. Asti, adalah cabang nadi,  tempat angin lewat  menuju semua  persendian, terus masuk meresap   sampai ke dalam kulit, bulu badan.
  6. Jihwā adalah  cabang nadi, tempat  angin lewat  ke jantung.
  7. Pusā adalah  cabang nadi tempat angin  lewat menuju paru-paru.
  8. Alambusā ialah cabang nadi tempat angin  lewat menuju  sampai ke limpa.
  9. Sangkhini adalah cabang nadi, tempat  angin lewat menuju sampai ke buah pelir dan  batang pelir.
  10. Kuhūh adalah cabang nadi.

Tenaga gerak  tubuh itu di sebut wāyu. Jumlahnya  lima disebut  pancawayu yaitu :

  1. Prana  berada di dalam jantung hingga di dada  batasnya yang menjadi sumber gerak semua wayu, sebagai  jiwanya. Gunanya ialah sebagai nafas.
  2. Apāna ialah  wāyu  yang ada di dalam kandung kemih, mengedarkan  sari-sari  makanan yang dimakan dan diminum,  yang menjadi sperma dan ova. Ampasnya menjadi berak dan air kencing. Sari-sari  yang dibaui menjadi dahak dan ingus.
  3. Udana ialah wayu yang  berada di ubun-ubun, menggerakkan mata dan mulut tujuannya.
  4. Wyāna ialah wayu  yang berada  pada semua persendian, menggerakkan  badan dan  mengamati  umur tua dan kematian.
  5. Samana ialah wayu yang berada dalam hati, mengedarkan  apa-apa yang  dimakan dan diminum, menjadi darah, daging, empedu.

Semuanya itu dihidupi oleh Sanghyang Ātmā yang membagi-bagi dirinya dalam menghidupi bagian-bagian tubuh itu. Akibat dari  pembagian itu, maka ātmā membagi  dirinya menjadi Pancātma yaitu :

  1. Ātma  adalah idep (pikiran ) yang berada dalam  hati. Gunanya  untuk berpikir.
  2. Parātma ialah pikiran yang berada pada mata. Gunanya  untuk melihat.
  3. Antarātma ialah pikiran yang berada di ubun-ubun. Gunanya  sebagai  antara jaga dan tertidur.
  4. Suksmātma ialah  pikiran yang berada  pada telinga. Guanya untuk mendengar.
  5. Nirātma ialah pikiran yang berada dalam kulit. Gunanya untuk  merasakan  rasa panas dan dingin.

Dunia ini dialami oleh ātmā  melalui Dasendriya dan manah.

Dasendriya yaitu :

  1. Srotendriya pada telinga menyebabkan ātmā mendengar kata-kata yang baik dan buruk.
  2. Twagindriya pada kulit yang  menyebabkan ātmā merasakan panas dan dingin, merasakan apa yang dipakai apakah lembut.
  3. Caksuwindriya pada mata, yang menyebabkan ātmā melihat  rupa dan warna.
  4. Jihwendriya pada lidah yang  menyebabkan  ātmā mengecap  sadrasa (enam rasa).
  5. Ghranendriya pada hidung  yang menyebabkan  ātmā dapat membau,  bau busuk dan bau wangi.
  6. Wagendriya pada mulut  yang menyebabkan ātmā dapat memastikan yang ada  atau yang tidak ada.
  7. Panindriya pad atangan, yang menyebabkan ātmā dapat   memegang.
  8. Padendriya pada kaki yang menyebabkan ātmā dapat berjalan.
  9. Paywindriya pada dubur, yang menyebabkan  ātmā dapat kentut dan buang air besar.
  10. Upastendriya pada alat kelamin  perempuan dan laki yang menyebabkan ātmā dapat  melakukan persetubuhan. Demikianlah dasendriya  dalam badan  jasmani, ditambah buddhi, manah  dan ahangkara.

Buddhi adalah sarana atma  berpikir. Manah adalah sarana atma membayangkan  wujudnya.

Ahangkara  adalah sarana  atma mengaku  bermilik dan sebagai sarana atma  mempersiapkan  tinakan yang  baik atau buruk. Buddhi, manah, Ahangkara dan dasendriya disebut Trayodasakārana ( tiga  belas penyebab) ditambah triguna yaitu sattwa, rajah, dan tamah. Lalu para Dewa dan para Rsi  juga menempati bagian-bagian-bagian tubuh kita sepeti :

  • Bhatāra Brahmā menempati hati
  • Bhatāra Wisnu menempati  empedu
  • Bhatāra Iswara pada jantung

Tempat Panca Rési :

  1. Sang Kusika  pada  kulit
  2. Sang Garga pada darah dan daging
  3. Sang Maitri pada lemak, otot.
  4. Sang Kurusya pada tulang, sumsum
  5. Sang Werttanjaya pada otot, daging.

Tempat Dewaresi

  • Sanghyang Maheswara pada buah pelir
  • Sanghyang Sadasiwa pada kandung kemih
  • Sanghyang Paramasiwa pada dada.

Tempat Saptaresi :

  1. Aditya  pada mata kanan
  2. Soma  pada mata kiri
  3. Anggara pada telinga kanan
  4. Budha pada telinga kiri
  5. Wrehaspati pada hidung kanan
  6. Sukra pada  hidung kiri
  7. Saniscara pada mulut.

Tempat Panca Dewata Yaitu :

  1. Hyang Indra  pada dada
  2. Hyang Yama  pada tangan kanan
  3. Hyang Waruna  pada punggung
  4. Hyang Kubera pada tangan kiri
  5. Hyang Waisrawana  pada pinggang.

Tempat Widhyadara yaitu :

  • Citrasena sebagai keberanian
  • Citranggada sebagai keperwiraan
  • Citraratha sebagai keteguhan  hati
  • Gandharwa adalah sebagai ketenangan, kepuasan, keindahan, kegirangan, kelangenan, itulah tempatnya  sattwa.

Tempat  Rajas yaitu :

  • Danawa sebagai kekerasan, kecepatan, panas yang keras.
  • Daitya sebagai kemarahan, kebencian, kesedihan.
  • Raksasa sebagai  kebingungan, penipuan , iri,  kelancangan, kekuasaan

Tempat Tamas yaitu :

  • Bhūtayaksa sebagai lapar, kelelahan dan haus.
  • Bhūtadengen sebagai  keletihan,  kelesuan, sakit.
  • Bhūtakala sebagai kenyang, amat kenyang, mabuk.
  • Bhūtapisacab sebagai lemah, enggan, kotor, kantuk,  tidur, bodoh.

Tempat “Pada” yaitu :

  • Jāgrapada menyebabkan ātmā bangun dari tidur pada diri manusia.
  • Suptapada menyebabkan ātmā tidur.
  • Swapnapada  menyebabkan  ātmā dapat mimpi, mengigau pada dii manusi.

Badan Sanghyang ātmā adalah  Pradhānatattwa yang disebut ambék. Ambék  dan  tubuh  itu disebut anggrapadhana. Dari  ambéklah  timbulnya suka  duka, baik dan buruk. Ambéklah yang  menikmati  obyek kenikmatan  itu melalui  dasendriya. Maka harus ditarik dari obyek  kenikmatannya., kembalikan  kedalam  ambék, ambék kedalam  pramanā, pramāna  ke dharamawisesa, dharmawisesa  kedalam antawisesa, antawisesa ke dalam anatawisesa.

Cara mengembalikan  itu  oalah dengan Prayoga Sandhi yang dapat dilaksanakan dengan tuntunan Samyagjnāna. Samyagjnāna hanya akan diperoleh melalui  tapa, yoga,  dan samādhi. Yang dimaksud  dengan prayogasandhi  ialah āsana, prānayama,  praktyāhara,  dhārana, dhyāna, tarka dan samādhi. Bila Sang  Yogiswara telah menemukan samādhi itu, ia  dikatakan telah memiliki ka-astaiśwaryan. 

Astaiśwaryan itu meliputi : alima, laghima, mahima, prapti, prakāmya, isitwa, wasitwa,  dan yatrakāmawasayitwa. Bila endapan  sattwa sudah  tidak ada lagi, maka saat itulah Sang Yogiswara berpisah dengan panca mahabhuta dan kembali  menyatu dengan Bhatāra Paramaśiwa.



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

BUKU TERKAIT
Baca Juga