Kepercayaan Balian Usada & Ketakson di Bali


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Berdasarkan teori anthropologi, bahwa kehidupan masyarakat prasejarah dipimpin oleh seorang pemimpin yang dipilih dari lingkungan mereka dan yang mempunyai keistimewaan-keistimewaan misalnya kekuatan pisik, keberanian luar biasa, kemampuan berhubungan dengan dunia gaib.

Untuk di Bali, pada masa dahulu datang seorang Maha Rsi yaitu “Padanda Sakti Wawurauh“. Beliau seorang yogi dan seorang sastrawan, beliau juga adalah seorang mistikus besar. Beliaulah mengembangkan lebih lanjut sistem pengobatan usada di Bali dikaitkan dengan mistik – putih yang kini terkenal dengan “angēn balian sakti”.

Dengan pengembangan ini, maka muncullah berbagai jenis usada di Bali yang jumlahnya sangat banyak antara lain: usada kurantabolong, usada cukildaki, usada banyu, usada tarupramana, usada babahi, usada tenung.

Sistem pengobatan usada di Bali, berkaitan pula dengan sistem keagamaan yaitu beberapa aspek agama Hindu.
Aspek keagamaan yang sering berhubungan dengan sistem pengobatan usada adalah macaru dan melukat, sebagai suatu usaha untuk memulihkan kembali kesehatan si sakit. Sistem pengobatan usada di Bali bersumber pada Ayurweda dan Atharwaweda yang dikembangkan oleh mistikus-mistikus besar dimasa lalu. Kenyataan inilah yang terlihat di Bali sekarang di samping juga ada sistem pengobatan katakson yang merupakan kelanjutan dari alam pikiran Prasejarah.

Di dalam kepercayaan masyarakat balian- balian yang ingin mendapat panugrah mengobati kebanyakan mohon panugrah di Pura Dalem. Balian yang mendapat panugrah Pura Dalem biasanya mempunyai pesimpangan Bhatara Dalem di rumahnya dan linggih pepatih bhatara Dalem yaitu Ratu Nyoman Sakti Pengadangan.

Di dalam kandapat tokoh Ratu Nyoman Sakti adalah tokoh yang allround dalam arti beliau adalah penguasa dan black dan white magic, sebab itu kepada beliaulah para balian minta perlindungan atau bantuan. Disamping itu dikenal lagi yaitu tokoh Ratu Gde Nusa atau sering disebut Ratu Gde Macaling.

KLASIFIKASI BALIAN

Balian yang dikenal di Bali secara garis besar dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu :

1. Balian Usada

Balian Usada adalah balian yang pada dasarnya mengutamakan penggunaan pengetahuan mengenai teknik pengobatan dan jenis-jenis obat-obatan. Pengetahuannya didapat dari mempelajari berjenis-jenis usada antara lain Lontar Usada, Lontar Bodagama, Boda kecapi dan sebagainya yang pada umumnya memuat soal-soal therapi menentukan jenis penyakit dan soal-soal obat yaitu obat apa yang cocok untuk suatu penyakit. Jadi usada itu garis besarnya memuat soal bagaimana menentukan jenis penyakit dan menentukan obatnya.

Untuk mendapatkan kemanjuran dari pengobatannya itu pengetahuan soal jenis penyakit dan jenis obat-obatan itu saja belum dianggap cukup sebab pada umumnya balian usada mempelajari Kandapat (detail kandapat disini) mulai dari Kandapat Rare, Bhuta, Dewa dan Sari atau sejenis kandapat lainnya seperti Anggastya Prana, Kuranta Bolong, Sundari, ding, Purwa Bhumi Kemulan, Welanda Kateng dan sebagainya.

Untuk mempelajari dan “ngerangsuk” (dapat menghayati betul-betul) kandapat ini diperlukan pengendalian diri berupa puasa dan beberatan (pantangan) puasa tidak makan minum, tidak mengajak istri dalam waktu tertentu dan sebagainya. Puasa dan beberatan ini bertujuan untuk penyucian diri sehingga kekuatan ilmu kandapat itu betul-betul  menyatu pada dirinya.

Balian usada mempelajari usada agar mengetahui khasiat dari benda-benda ramuan obat dan mempelajari kandapat sebagai sarana-sarana “ngurip” atau memberikan kekuatan pada obat itu dengan bantuan saudaranya yang empat.



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan