Kepercayaan Balian Usada & Ketakson di Bali


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

2. Balian Ketakson

Yang dimaksud dengan balian ketakson pada umumnya adalah balian yang minta bantuan roh-roh halus, dewa, gamang, pitara, bhuta dan sebagainya dengan jalan membiarkan dirinya dimasuki, atau dipengaruhi sehingga tampaknya seperti orang trance atau setengah sadar serta bisa menangkap firasat atau petunjuk dari roh atau kekuatan gaib dari luar itu.

Dengan jalan mendapat penjelasan dari kekuatan gaib dari luar inilah dia bisa mengetahui apa sakit si pasien serta apa obatnya.

Balian-balian ketakson umumnya lebih reaktif kelihatan bisa begitu cepat mengetahui sakit seseorang sehingga cepat terkenal, tetapi biasanya juga cepat punah kemanjurannya.

Balian kjetakson umumnya tidak banyak mau mempelajari usada, tetapi suka nakti atau ndewaeraya ke Pura-pura atau ketempat-tempat yang angker. Balian ketakson juga menggunakan beberatan-beberatan (pantangan-pantangan) untuk menjaga kesucian dirinya. Oleh karena itu tubuhnya sudah biasa dimasuki oleh roh-roh gaib kadang-kadang macam-macam roh dan bhuta kala juga bisa masuk, dan andaikata demikian maka berhati-hatilah kalau terjadi salah masuk.

Umumnya kecuali balian metetuun (yang biasa memanggil roh-roh orang yang sudah meninggal) umumnya balian itu hanya bisa memberikan satu kekuatan gaib saja yang memasuki dirinya.

Baik balian usada maupun balian ketakson bisa juga menjadi spesialis-spesialis, tetapi kebanyakan balian ketaksonlah yang bersifat spesialis sehingga menurut spesialisasinya dapat disebutkan beberapa diantaranya sebagai berikut : balian bebai, balian buduh, balian berung (luka), balian lung (patah tulang), balian lelipi (ahli menyembuhkan gigitan ular), balian pengeleakan dan sebagainya. balian usada kalau menyalah gunakan kandapatnya bisa juga menjadi balian pengeleakan. Pada umumnya balian usada itu bersifat balian umum.


Dalam ilmu Balian aksara dipergunakan panca aksara, tri aksara, dwi aksara, aksara bijaksana, dan aksara modre sebagai sebuah simbol berperanan menambah kekuatan magis religius usada di Bali.

Setiap balian usada mesti menguasai tentang pembuatan, fungsi, makna dan cara penggunaan aksara suci Bali tersebut sebagai sarana dalam pengobatan dan mempercepat proses pengobatan pasiennya.

Oleh karena itu para balian ini harus mempelajari dengan benar dan sungguh-sungguh tentang tulisan dan makna dari masing-masing aksara tersebut dan tata cara penggunannya. Jikalau salah dalam penulisannya dan pemanfaatnya serta ritual yang mengiringinya akan menimbulkan akibat yang tidak diinginkan baik oleh baliannya sendiri maupun pasiennya.

Dan hampir disetiap pengucapan mantra dari balian menggunakan kata Om, yang dalam Hindu dikenal dengan kekuatan Sanghyang Widhi, seperti simbol aksara A-U-M (OM). Kalau di Bali OM tersebut disimbolkan dengan OMKARA yang merupakan perwujudan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, yang terdiri dari nada merupakan simbol Sang Parama Siwa, paragayan purusa;  arda chandra berbentuk bulan sabit, simbol Sang Hyang Siwa; Windu berbentuk bulatan, merupakan simbol Sang Hyang Sadasiwa, dan ulu candra biasanya dipakai menyegaukan huruf-huruf gaib.

Serta jika dilihat dalam fungsi aksara lebih kompleks dipakai dalam pangider-ider (arah mata angin sebagai simbol kosmologi Hindu), dengan simbol senjata, wama, dan aksara. Mata angin di sini secara kosmologi merupakan arah keluhuran, kesucian, keindahan dan kebenaran. Oleh karena itu, konsep mata angin ini tidak dapat dipertukarkan satu sama lain, baik warna, aksara, lambang, dan sebagainya. Inilah yang dijadikan dasar bagi sebagaian balian untuk melakukan pengobatan.

Balian secara umum mengunakan mantra-mantra yang masih ada kaitannya dengan dewa-dewi Hindu yang terdapat dalam teks-teks Hindu yaitu dasa aksara yang dicakupkan pada panca akasara dan dicakupkan menjadi tri aksara dan dicakupkan menjadi dwi aksara menjadi rwa bhineda dan dicakupkan menjadi eka aksara dan eka aksara tersebut adalah Hyang Tunggal (Ida Sang Hyang Widi Wasa).



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan