- 1Kosmologi Kelahiran - Pewarigaan dan Otonan
- 1.1A. Karakter Saptawara
- 1.1.11. Redite (Minggu)
- 1.1.22. Soma (Senin)
- 1.1.33. Anggara (Selasa)
- 1.1.44. Buda (Rabu)
- 1.1.55. Wraspati (Kamis)
- 1.1.66. Sukra (Jumat)
- 1.1.77. Saniscara (Sabtu)
- 1.2B. Karakter Pancawara
- 2Sistem Tenung dan Diagnosis Penyakit dalam Lontar Wrhaspati Kalpa
- 2.1Tenung Saptawara
- 2.2Tenung Catur Cantaka - Divinasi Uang Kepeng
- 2.3Tenung Firasat Tubuh (Polahing Wong)
- 3Usada dalam Lontar Wrhaspati Kalpa
- 3.1Bahan Obat dan Mantra
- 3.2Ritual Caru dan Bayuh Oton
- 4Terjemahan Naskah Lontar Wrhaspati Kalpa
- 5Naskah Lontar Wrhaspati Kalpa
Usada dalam Lontar Wrhaspati Kalpa
Wrhaspati Kalpa memuat kompendium pengobatan (Usada) yang sangat kaya, menggabungkan pengetahuan herbal (etnobotani) dengan mantra sakti. Fokus utama bagian ini adalah penanganan penyakit Tiwang, sebuah istilah payung untuk berbagai kondisi kejang, kram, epilepsi, stroke, atau gangguan saraf mendadak yang dianggap memiliki akar supranatural.
Naskah dan referensi pendukung mengklasifikasikan Tiwang berdasarkan gejala visual dan mistisnya :
- Tiwang Nage (Naga) :
Gejala utamanya adalah sakit perut yang melilit dan bergejolak (angulet-ulet), seolah-olah ada naga yang bergerak di dalam perut.
Terapi : Bedak (wedak) yang terbuat dari campuran kunyit warangan, pamor bubuk (kapur sirih), dan babakan undung. - Tiwang Buaya :
Kulit pasien berubah warna menjadi hitam atau gelap, kasar, dan menakutkan.
Terapi : Prinsip “simpatik” digunakan di sini. Obatnya adalah gempong panggal buaya (tanaman paku buaya) dicampur ragi dan rempah (sinrong). - Tiwang Banyu :
Tubuh pasien membengkak berisi air (edema/busung air).
Terapi : Minuman loloh dari daun kapkap, tingulun, dan ragi. Ampasnya diborehkan ke tubuh. - Tiwang Gandrong :
Tubuh pasien kurus kering (ngerigis) tetapi perutnya membulat besar.
Terapi : Pucuk liligundi, pule, dan suren. Disembur (sembar) pada pusar menggunakan kacang hijau dan sinrong. - Tiwang Tojos :
Gejala yang sangat spesifik dan mengerikan : mata mendelik (manelik), tubuh kejang kaku, dan tatapan kosong.
Terapi : Tetes hidung (tutuh) dari daun jempinis dan bawang.
Bahan Obat dan Mantra
Bahan-bahan obat dalam Wrhaspati Kalpa tidak dipilih sembarangan. Setiap bahan memiliki muatan energi kosmologis :
- Sune-Jangu (Bawang Putih & Dringo) :
Ini adalah pasangan bahan paling fundamental dalam Usada Bali. Hampir setiap resep boreh dalam naskah menggunakan sune-jangu. Bawang putih diyakini memiliki sifat panes (panas) untuk mengusir energi dingin Bhuta, sedangkan Dringo (Acorus calamus) memiliki aroma tajam yang ditakuti roh jahat. - Warangan (Arsenik) & Pamor (Kapur) :
Penggunaan bahan beracun seperti warangan (dalam jumlah sangat kecil atau pemakaian luar) menunjukkan prinsip homeopati kuno : racun melawan racun. Pamor (kapur) memberikan sifat panas yang membakar penyakit. - Bawang & Adas :
Pasangan ini merepresentasikan keseimbangan panas (bawang) dan dingin (adas). Sering digunakan untuk menyeimbangkan suhu tubuh. - Unsur Hewani :
Penggunaan tain lancingan (kotoran tikus – seringkali metafora untuk tanaman tertentu atau bahan asli) dan tain besi (karat besi) menunjukkan pemanfaatan segala unsur alam untuk penyembuhan.
Obat fisik dalam Wrhaspati Kalpa tidak akan manjur tanpa “diurip” (dihidupkan) dengan mantra. Mantra bertindak sebagai kunci pembuka potensi penyembuhan.
- Mantra Sang Hyang Nilekanta :
“Ong Sang Hyang Nilekanta ring canteling lidahku…”.
Mantra ini memanggil kekuatan Dewa Siwa dalam wujud Nilekanta (Si Leher Biru). Mitologi menyebutkan Siwa meminum racun HalaHala yang keluar saat pengadukan samudra, sehingga lehernya membiru namun alam semesta selamat. Dengan mantra ini, tabib memvisualisasikan dirinya sebagai Siwa yang mampu menetralisir segala racun penyakit dalam tubuh pasien. - Mantra Aji Kereket :
“Ong durgana eroh durganing kerik pemali…”.
Ini adalah mantra perlindungan agresif. Digunakan untuk memagari rumah dari serangan leyak atau desti. Mantra ini memanggil api spiritual (Geni Rudra) untuk membakar entitas jahat yang mencoba masuk. - Mantra Pengelebur Ipian Ala :
Digunakan ketika pasien mengalami mimpi buruk berturut-turut (pertanda serangan niskala). Mantra ini memohon kepada Indra Kesuma untuk menghapus jejak buruk tersebut.
Ritual Caru dan Bayuh Oton
Bagian terakhir dari sistem pengetahuan Wrhaspati Kalpa adalah tindakan korektif melalui ritual. Ketika obat (usada) menangani tubuh fisik dan tenung mendiagnosis penyebab, maka Yadnya (ritual) menangani akar masalah kosmologisnya.
Konsep dasar Caru dalam naskah ini bukanlah “mengusir setan”, melainkan “memberi makan” (somya). Bhuta dan Kala dianggap sebagai kekuatan alam yang lapar. Jika tidak diberi makan secara teratur melalui ritual, mereka akan memakan vitalitas manusia (menyebabkan sakit).
Naskah merinci “menu” makanan untuk Bhuta yang sangat spesifik :
- Warna Ayam : Sangat krusial. Ayam Putih untuk Bhuta di Timur, Ayam Biying (Merah) untuk Selatan, Ayam Putih-Kuning (Barat – catatan : biasanya Kuning, tapi teks menyebut putih/kuning), Ayam Ireng (Hitam) untuk Utara, dan Brumbun untuk Tengah. Kesalahan memberi warna ayam dianggap sebagai penghinaan yang bisa memperparah penyakit.
- Asu Bang Bungkem : Untuk kasus berat yang melibatkan kutukan leluhur atau serangan ilmu hitam tingkat tinggi, naskah meresepkan Asu Bang Bungkem (anjing berwarna merah dengan moncong hitam). Anjing jenis ini dianggap hewan sakral dalam konteks Bhairawa, mampu menyerap energi negatif dalam jumlah besar.
Salah satu kontribusi terpenting Wrhaspati Kalpa adalah pelestarian ajaran tentang Kanda Pat (Empat Saudara Spiritual). Naskah menegaskan bahwa setiap manusia lahir bersama empat saudara non-fisik yang harus dirawat.
Nama-nama saudara ini dalam tradisi esoteris Wrhaspati Kalpa dan referensi terkait adalah :
- I Legeprana : Saudara tertua, sering diasosiasikan dengan ari-ari (plasenta) yang menjaga vitalitas fisik.
- I Selabir, I Mekair, I Mokair : Tiga saudara lainnya yang merupakan manifestasi dari air ketuban (yeh nyom), darah (getih), dan lemak (lamas).
Ritual penanaman ari-ari dijelaskan dengan sangat rinci sebagai ritual fondasi kehidupan :
- Ari-ari harus dicuci bersih, dimasukkan ke dalam batok kelapa (nyuh) yang dibelah dua, lalu disatukan kembali. Ini melambangkan kembalinya ke rahim ibu pertiwi.
- Dibungkus kain putih (sukele) dan diberi tulisan aksara suci (puncuk).
- Ditanam di sisi kanan pintu balai (untuk laki-laki) atau kiri (untuk perempuan).
- Disertai mantra permohonan kepada Ibu Pertiwi : “Duh ibu peretiwi, tabe ingsun anikel tibe wereti sire muktiang ingsun…”. Mantra ini menitipkan “saudara” sang bayi kepada tanah agar dijaga dan energinya bisa dipanggil kembali saat sang anak sakit atau membutuhkan kekuatan.
Sebagai penutup terhadap Lontar Wrhaspati Kalpa ini mengajarkan psikologi preventif : mengenali kelemahan diri sejak lahir untuk diantisipasi.
Melalui Tenung, ia mengajarkan sosiologi medis : bahwa penyakit seringkali berakar dari konflik sosial (iri hati) atau spiritual (hutang leluhur).
Melalui Usada, ia mewariskan kekayaan botani.
Dan melalui Ritual, ia mengajarkan etika kosmis : bahwa manusia harus berbagi ruang dan makanan dengan kekuatan yang tak terlihat, menjaga keseimbangan antara yang ilahi (Dewa) dan yang demonik (Bhuta).
Wrhaspati Kalpa adalah bukti tertulis dari kearifan lokal Bali dalam merajut harmoni di tengah ketidakpastian nasib dan waktu.
















