Babad Ksatria Tamanbali


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.


40a. Ana muwah makabeteling tingalira, saking rakwa pakayan yan Mong­sor.
Nihan ana rakwa inaranan Pan Mongsor kawit wanging Sukawati olih pejah kahilangang ring Bangli, kunang rahnia dinuduk winadahing paruk, ginenahaken ring longaning paturwan, sakeng rakwa patuduh Pan Mongsor, mawates atiban. Sampun pwa tutuging sengker, irika atmane Pan Mongsor, angaturang ayah ring I Dewa Anom Rai, saking warahing wecana, ya matangna sinangguh beteling tingal, Pan atmania Pan Mongsor pinaka tatlik. Nahan prestawania Kunang yan inucapaing para, katon den ikang loka, wetning susaktin 1kang kuda, kang ingaran Ki Gandawesi. Mangka ucaping janapada.  

Beliau juga memiliki ilmu tembus pandang, konon berasal dari kekuatan ilmu batin Pan Mongsor.
Yang bernama Pan Mongsor adalah asal penduduk Sukawati mati terbunuh di Bangli, darahnya diambil dan disimpan dalam sebuah periuk, ditaruh di bawah balai-balai, konon atas pennohonan Pan Mongsor selama setahun. Setelah tiba batas waktunya, ketika itulah roh Pan Mongsor akan mengabdikan diri kepada I Dewa Anom Rai, dari petunjuk rahasia itu, menyebabkan I Dewa Anom Rai dijuluki tembus pandang. Karena roh Pan Mongsor itu menyatu dengan pandangan I Dewa Anom Rai. Demikian kisahnya, tetapi menurut ungkapan semen­tara masyarakat yang terlihat oleh mereka, disebabkan oleh kesaktian kuda yang bernama Ki Gandawesi. Demikian ucapan masyarakat umum.


40b. Apa matangnia mangka, uwus acihna, jagat masatru, olih kahunggahin/ de I Dewa Anom Rai, awetu masunia tan ana ripu tekap kasidiania kalingihin Ki Gandewesi, molih labdajaya, mangka margahanira nguni. Nging tekaning wang tapwan mawruh ing katatwania Pan Mongsor, kewala Sang Prabu juga mawruha,tan sinipi kapingit denira tan ana kawedar.
Yata domehnia karesres durbiksa sabuwana sapunpunanira, wetning I Dewa Anom Rai urip wesi sajnya putus apisan. Etunia ikang wang tapwan wani lumiat apan ana maka subanimitania, kaprenah sameton panawing, pejah kinira-kira kinlungan.

Iti pres tawania, nguni kalanira I Dewa Anom Rai lunga magegebug maring bumi Madangan, ana sanakira panawing tumut mangkating yuda, nanging sira angamong Iara anyang-anyangan, bilang dangka pwa janggel mawarih, wasana kati­ngalan de I Dewa Anom Rai mangka, tan sinipi/runtikira, karawus lengit tur getap, uring-uringen krodanira tan kena pinalehan.

Mengapa demikian, karena sudah terbukti, setiap daerah yang ingin memusuhi raja Bangli jika saja didatangi oleh I Dewa Anom Rai, akhirnya menjadi sunyi tidak ada musuh menampakkan diri, disebabkan oleh kesaktian kuda Ki Gandawesi yang ditunggangi, berhasil menang unggul, demikian sarana beliau dahulu. Namun sementara masyarakat belum mengenal cerita Pan Mongsor, hanya raja Bangli yang tahu, sangat dirahasiakan oleh beliau agar tidak bocor.
Sebab itu masyarakat di wilayah beliau menjadi resah dan takut, karena I Dewa Anom Rai bertindak sewenang-wenang segala perin­tahnya tanpa pertimbangan. Sebab itu rakyat beliau tidak berani menen­tang karena sudah terbukti, ada adik beliau lain ibu, diupayakan dibunuh dan dipatahkan kakinya.

Begini kisahnya, dahulu ketika I Dewa Anom Rai pergi menyerang daerah Madangan, ada saudara be­liau lain ibu turut berangkat ke medan perang, tetapi adik beliau itu mengidap sakit gangguan kencing, setiap saat berhenti membuang air kencing, hal itu dilihat oleh I Dewa Anom Rai, beliau tidak dapat me­nahan marah, dianggap main akal dan pengecut, bangkit amarah beliau tak tertahankan.


41a.

I Dewa Anom Rai lalu memerintahkan untuk menyiksa dan mematahkan kakinya seketika. Demikian keras watak beliau, menyebabkan masyarakat tidak ada yang berani menentang beliau, selalu merasa takut. Sesudah berselang lama tiba saat kutukan I Dewa Gde Tangkeban almarhum dahulu, yang merupakan bencana, sebab itu akhirnya I Dewa Anom Rai merasa seperti terganggu jiwanya.
Entah berapa lama berselang I Dewa Prasi lalu wafat, dan telah selesai diupacarai, I Dewa Anom Rai malan menampakkan sikap yang tidak terpuji, angkara murka memenuhi hawa nafsu, tidak meng­hiraukan datangnya bahaya.

41b...

Beliau menikah lagi dengan anak orang kebanyakan, tiada bandingan cinta kasihnya bersuami istri disongsong naik disongsong turun, sangat disayang oleh sang suami, terus berada di tempat tidur bercumbu rayu berkasih-kasihan. enantiasa demikian perilakunya, akhirnya I Dewa Ayu Den Bancingah dikucilkan oleh madunya. Selamanya tidak dihiraukan oleh sang suami, beliau hanya menyayangi istri kedua, tidak menghiraukan tugas sebagai penguasa daerah Bangli. Dan I Dewa Ayu Den Bancingah merasa sakit hati dan beririkad malu tidak dapat menahan amarah, beliau lalu memanggil para Manca, Perbekel, utamanya para pendita, upapati, jaksa, akhirnya di tan ya; “J ika ada seorang wanita mengawini suami orang lain apa sanksinya?” Jawaban mereka kepada I Dewa Ayu Den Bancingah; “Orang itu dapat dihukum mati. Demikian tersurat di dalam undang­undang Adigama. Karena itu I Dewa Ayu Den Bancingah percaya da­lam hati tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Beliau lalu masuk puri akhirnya memerintahkan mencari-cari dukun sakti. 

42a. ….

Kemudian ada Brahmana ras Kemenuh, bernama Ida Waneng Pati dialah yang disuruh oleh I Dewa Ayu Den Bancingah memasang ilmu gaib tidur semalam suntuk; Ida Wayan Waneng Pati pun memenuhi permintaan permaisuri raja. Ida Wayan Waneng Pali akhimya melakukan pemasangan ilmu gaib tidur semalam suntuk, dengan mencipta Dewa Tripurusa (Dewa Brahma, Wisnu, Siwa), lalu tidur pulas semua mahluk hidup yang ada di puri, termasuk binatang berbisa, binatang melata, dan I Dewa Anom Rai, usai memenuhi hawa nafsu cti peraduan, bercumbu rayu berkasih­kasihan, sangat nyenyak tidurnya. Pada waktu itulah I Dewa Ayu Den Bancingah tiba-tiba dengan perkasa mengamuk sang suami cti peraduan, dengan membawa keris pusaka yang bemama Ki Dompo, sekali saja ditikam beliau sudah wafat, istri kedua juga turut mcninggal dunia Berdua-duaan beliau wafat di peraduan. Demikian ceritanya. 

42b. ….

Dan setelah I Dewa Gde Anom Rai wafat bersama istri, lalu dibuatkan upacara pembakaran jenazah oleh I Dewa Ayu Den Ban­cingah, lengkap menurut seorang raja utama, tidak kurang sesuatu, karena memang demikian seharusnya beliau berbuat terhadap suami.

Usai pembakaran jenazah itu, I Dewa Ayu Den Bancingah akhirnya menggantikan menjadi raja, aman sentosa daerah kekuasaan beliau, menimbulkan girang hati sanak keluarga beliau, sampai pada kerabat tidak menemukan keresahan bersama-sama hormat dan tunduk kepada raja. Demikian juga para pendita dengan tenang melaksanakan yoga, sama-sama memuji jasa-jasa raja sampai masyarakat yang berada di pantai dan pegunungan juga memuji, diibaratkan Dewa Baruna bersih tak ada yang menyamai keluhuran budinya. Demikian sesamanya, apa sebabnya, karena beliau senantiasa memuja Dewa dan menghormati rah leluhur, sebab itu Tuhan Yang Maha Esa sayang kepadanya. Masya­rakat di daerah menjadi tunduk.




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Blog Terkait