Jenis-Jenis Upacara Mecaru dalam Bhuta Yadnya


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Sarana dan Banten Lainnya

1. Tetimpug

Tetimpug ada beberapa ada tiga atau lima buah. Sesuai dengan tingkatan. Upacara caru yang menggunakan tiga buah tetimpug digunakan dalam upacara caru yang biasa dan melambangkan Tri Kona, yaitu utpeti, stiti, dan pralina. Jika yang menggunakan lima buah tetimpug upacara caru tersebut sudah berada dalam tingkatan yang lebih besar, seperti karya agung. Hal tersebut melambangkan  Panca Maha Bhuta, yaitu pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa. Tetimpug merupakan sarana pengundang tenaga dan waktu agar harmonis. Jika tetimpug tidak bersuara maka kala itu tidak datang, begitu juga sebaliknya jika bersuara kala itu datang dan merasa terpanggil.

2. Kelabang Sengkui

Kelabang Sengkui, Kelabang Sengkui ini hampir mirip dengan Kelabang Dangap-dangap Biasanya Kelabang Sengkui ini digunakan dalam ritual upacara bhuta yadnya (caru), di mana jumlah ulatan Sengkui ini mengikuti jumlah urip pacaruan. Makna Sengkui ini adalah nyupat dan nyomia Bhuta kala. Di mana  Sengkui ini digunakan sebagai alas dari segala jenis hidangan atau ulam pacaruan.

3. Sampat

Sampat dalam pacaruan sering digunakan saat berlangsungnya prosesi mapurwa daksina mengelilingi banten caru bersamaan dengan tulud dan kentongan. Adapun makna filosofi dari sampat yakni sebagai sarana pembersihan alam skala maupun niskala dari keberlangsungan caru tersebut. Diharapkan alam skala maupun niskala kembali seimbang (nyomia/menetralisir hal-hal negatif).

4. Tulud

Tulud merupakan bagian yang digunakan saat mapurwa daksina bersamaan dengan sampat serta pentongan. Tulud dalam pecaruan memiliki fungsi untuk meratakan banten-banten caru yang telah usai dihaturkan oleh sulinggih. Tulud memiliki makna sebagai sarana meratakan tanah atau ibu pertiwi serta manyomia agar keseimbangan skala maupun niskala tetap stabil.

 5. Kentongan/Kulkul

Kulkul memiliki fungsi sebagai sarana komunikasi atau sebagai alat untuk memberi peringatan, pemberitahu, maupun sebagai pertanda. Dalam pelaksanaan caru kentongan digunakan saat mapurwa daksina bersamaan dengan tulud dan sampat. Kentongan memiliki makna filosofi sebagai alat pemberitahu kepada Bhuta Kala bahwa persembahan pacaruan telah dilaksanakan dan telah dihaturkan.

6. Lis

Lis dalam pacaruan merupakan simbolisasi dari bapa akasa dan ibu pertiwi. Lis terbuat dari daun kelapa yang dibentuk sedemikian rupa. Lis memiliki makna filosofi sebagai penetralisir mala atau hal-hal negatif. Lis juga merupakan simbolisasi dari keseimbangan alam semesta.

7. Canang Genten

Sebagai alas dapat digunakan taledan, ceper ataupun daun pisang yang berbentuk segi empat. Diatasnya berturut-turut disusun perlengkapan yang lain seperti: bunga dan daun-daunan, porosan yang terdiri dari satu/dua potong sirih diisi sedikit kapur dan pinang, lalu dijepit dengan sepotong janur, sedangkan bunganya dialasi dengan janur yang berbentuk tangkih atau kojong. Kojong dengan bentuk bundar disebut “uras-sari”.

Bila keadaan memungkinkan dapat pula ditambahkan dengan pandan-arum, wangi-wangian dan sesari (uang). Waulupun perlengkapan banten ini sangat sederhana, tetapi hampir semuanya mempunyai arti simbolis antara lain:

  • jejaitan/tetuwasan reringgitan, melambangkan kesungguhan hati,
  • daun-daunan melambangkan ketenangan hati.
  • Sirih, melambangkan dewa wisnu,
  • kapur melambangkan dewa siva,
  • pinang melambangkan dewa brahma,
  • suci bersih, dan wangi-wangian sebagai alat untuk menenangkan pikiran kearah kesegaran dan kesucian.

Canang ini, baik besar maupun kecil bahkan selalu digunakan untuk melengkapi sesajen-sesajen yang lain, hanya saja bentuk alat serta porosannya berbeda-beda.

8. Canang Buratwangi

Bentuk banten ini seperti canang genten dengan ditambahkan “burat wangi” dan dua jenis “lenga wangi”. Ketiga perlengkapan tersebut masing-masing dialasi kojong atau tangkih. Burat wangi dibuat dari beras dan kunir yang dihaluskan dicampur dengan air cendana atau mejegau. Ada kalanya dicampur dengan akar-akaran yang berbau wangi. Lenga Wangi ( minyak wangi) yang berwarna putih dibuat dari menyan, ‘malem” ( sejenis lemak pada sarang lebah), dicampur dengan minyak kelapa. Lenga wangi (minyak wangi) yang berwarna kehitam-hitaman dibuat dari minyak kelapa dicampur dengan kacang putih, komang yang digoreng sampai gosong lalu dihaluskan.

Ada kalanya campuran tersebut dilengkapi dengan ubi dan keladi (talas), yang juga digoreng sampai gosong. Biasanya untuk memperoleh campuran yang baik, terlebih dahulu minyak kelapa dipanaskan, kemudian barulah dicampur dengan perlengkapan lainnya. Secara keseluruhan “lenga-wangi” dan “burat-wangi” melambangkan Hyang Sambhu. Menyan melambangkan Hyang Siva, Majegau melambangkan Hyang Sadasiva sedang cendana melambangkan Hyang Paramasiva. Banten ini dipergunakan pada hari-hari tertentu seperti pada hari Purnama, Tilem, hari raya Saraswati dan melengkapi sesajen-sesajen yang lebih besar.

9. Canang Sari

Bentuk banten ini agak berbeda dengan banten/canang genten sebelumnya, yaitu dibagi menjadi dua bagian. Bagian bawahnya bisa berbentuk bulat ataupun segiempat seperti ceper atau taledan. Sering pula diberi hiasan “Trikona/plekir” pada pinggirnya. Pada bagian ini terdapat pelawa, porosan, tebu, kekiping (sejenis jajan dari tepung beras), pisang emas atau yang sejenis dan beras kuning yang dialasi dengan tangkih. Dapat pula ditambah dengan burat wangi dan lengawangi seperti pada canang buratwangi. Di atasnya barulah diisi bermacam-macam bunga diatur seindah mungkin dialasi dengan sebuah “uras sari/sampian uras”.

Canang sari dilengkapi dengan sesari berupa uang kertas, uang logam maupun uang kepeng. Perlengkapan seperti tebu, kekiping, dan pisang emas disebut “raka-raka”.

  • Raka-raka melambangkan Hyang Widyadhara- Widyadhari.
  • Pisang emas melambangkan Mahadewa,
  • secara umum semua pisang melambangkan Hyang Kumara,
  • sedangkan tebu melambangkan Dewa Brahma.

Canang sari dipergunakan untuk melengkapi persembahan lainnya atau dipergunakan pada hari-hari tertentu seperti: Kliwon, Purnama, Tilem atau persembahyangan di tempat suci.

10. Canang Pesucian

Canang ini disebut juga canang pengeraos yang terdiri atas dua buah aled atau ceper. Pada bagian bawah berisi kapur, pinang, gambir, tembakau yang dialasi dengan kojong. disusuni beberapa lembar daun sirih, sedangkan aled atau ceper yang lain berisi bija serta minyak wangi yang dialasi celemik atau kapu-kapu kemudian dilengkapi bunga yang harum.




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga