Siklus Hidup Manusia Hindu, Berdasarkan Lontar Tutur Rare Angon



“Oh, anak-anaku yang masih berada di dunia maya, kok tak sedikitpun Engkau menyatakan belas kasihan pada orang tuamu, Kamu tidak pernah memberikan makanan berupa bubur ataupun seteguk air, sebenarnya aku banyak mempunyai anak cucu, dan kepada semuanya itu telah kuberikan kebaikan, demikian pula segala yang aku miliki, semuanya telah dipegang- nya, tak sedikitpun kubawa mati, mereka jugalah yang memiliki semuanya, kuharap agar dipergunakan secara baik-baik, uta- manya agar mereka tidak menghilang dari ayah dan ibu, juga dari kawitan (leluhur), akan tetapi Kamu tidak memberikan tirta pangentas (tirta pembebasan), jah tasmat, moga-moga Kamu anak-anaku Kau mendapatkan pendek usia”
Demikianlah kutukan dari leluhur yang mendapatkan kesengsaraan terhadap para turunannya. Demikianlah isi dari filsafat yang termuat atau tertulis pada Aji Purwa Tatwa.

Ketérangan dari filsafat Agama Tirtha, tatakrama matirtha (diperciki air suci = tirtha), yakni: memercikan tiga kali, maksudnya menghaturkan pembersihan ke hadapan Betara Kawitan, yang tiga tahap lagi, juga meminum tiga kali, bermakna melebur yang namanya : trimala (tiga kekotoran), setanjutnya meraup tiga kali, maknanya, membersihkan sang catur lokapala pada badan kita. Maksud dari menelan bija (beras) sebanyak tujuh butir, maknanya adatah: agar bibit yang berasal dari sapta tirtha tidak boleh diremukan, akan tetapi dimakan atau ditelan juga, agar keberhasilan kehidupan ini terwujud, yang menghidupkan sang sapta pramana, yang merupakan jiwa dari jagat raya.
Maksud dari mempersunting sekuntum bunga, yaitu: setelah terbebas dari trimala menjadi trikaya parisudha, kemudian akan menjadi harum semerbak. Demikianlah isi dari Aji Tatwa Kapandhitan, dan juga pada Meghaswari Tatwa-Indraloka.

Inilah upacara / Upakara Padiksan (peno- batan untuk menjadi seorang Pandita, Sulinggih, atau Wiku) ada pula menyebutkan Sadaka. Jenis sesajinya : yang di Gurukrama,
daksina 4 buah, dewa-dewi 4 buah, panglemek 4 tamas, tigasan putih, berisi uang kepeng bolong 225 (satak selae), tali suntagi (bersilang), berisi kwangi (kwangen) satu-satu. Lain dari pada itu, tegen-tegenan, sedhah woh atamas,
Di bawah Gurukrama: sesayut, tumpeng bang, ayam wiring yang dipanggang, sampian andong bang, uang kepeng bolong sebanyak 225, daksina 1, dengan uangnya:4000, Lagi di depan Gurukrama, uang 4 kranjang, tiap kranjang berisi uang : 4000.

Agar didirikan sanggar tutwan di timur, di sana diisi suci asoroh, selengkapnya, juga disertakan daksina 2 buah, isinya seperti tersebut di depan, di sertakan pula uang 2 kranjang, dengan jumlah uangnya empat ribuan, dewa-dewi 2 buah, sebagai pemuput karya yadnya harus sang pendeta, sesayut abatekan, tidak disertai sesate sebagai upakara, hanya ada beakala.
Perlengkapan orang yang akan diniksan (yang akan dinobatkan sebagai pendeta), pabersihan, yang disertai busana serba putih selengkapnya (saparadeg. Masing- masing berisi ponjen satu-satu, diper- sembahkan kepada Sang Guru sebuah, suci asoroh di depan pawedan, panguriaga (punia), jauman selengkapnya, daksina, dengan jumlah uangnya: nista, madya dan utama, tak ketinggalan pula sirih suhunan (ampinan), yang disertai dengan pedudusan dan pelukatan.

Inilah tatakrama orang melakukan atau menjalani upacara pawintenan. Jenis-jenis upakaranya: pertama-tama dibuat sanggar tutwan, bebantennya yakni: suci asoroh selengkapnya dewa-dewi 1, sedhah woh 1, sesayut gana 1, uang sebanyak tiga kranjang, masing-masing berisi uang 4000, daksina 1, tataban abatekan, Iabaan sang mawinten, biu kayu 20 buah, jajan gegodoh, 2 jenang pradnyan, dilengkapi dengan sirih, pinang sang urip berisi tulisan : Ka Kha Ga Gha Nga, Sa, Ra, La Wa. Yang akan diwinten ditulisi oleh sang Pandita?Sulinggih, aksaranya sesuai dengan nista madya mottama. adapun sesaji pada pawedaan, diantaranya suci asoroh, peras daksina, dengan uangnya sosual dengan bilangan: nista madya dan utama.

Bila ada orang yang tidak membayar kaul berupa sot, akan dibikin celaka yakni didera oleh Sang Bhuta Galungan, dialah yang menguasai kaul sot itu, dia juga yang akan menimpakan hukuman.
Besar dosa orang yang bersifat durhaka, atau berbohong, apabila berbohong kepada jenis hewan, maka selama sepuluh tahun kehinaan akan menimpa dirinya, demikian pula bila berbohong kepada Sang Pendeta/Wiku, bagaikan aliran air kehinaan akan menimpa dirinya. Oleh karena Sang Pendeta/Wiku itu perwujudan dari para dewata (betara), yang mampu memberi anugrah kepada manusia, serta mensukseskan segala jenis karya (perbuatan) yang bertujuan baik.

Apabila seorang bocah telah berumur enam bulan, sudah disebut aoton. Adalah sejenis upakara / upacara nya, artinya bocah itu memohon anugrah dari Sang Hyang Ibu Pretiwi, agar tidak terkena kutuk pastu dari Betara Pretiwi, dan untuk selanjutnya buat pertama kalinya sang bocah itu menginjakkan kaki di tanah, dan Sang Catur Sanak juga harus mendapat ruwatan lagi berganti nama, yakni: Sang Garga, Sang Maitri, Sang Kurusya, Sang Pretanjala. Kemudian lalu disuruh oleh Sang Pendeta agar pulang ke tempat masing-masing.

Demikian riwayatnya, sesuai dengan isi Aji Tatwa Jarayutantra .




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

HALAMAN TERKAIT
Baca Juga