Ajaran Tantra Yang Terkandung dalam Cerita Brayut


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Peninggalan Prasejarah dari Pengaruh Tantra di Bali

Salah satu tinggalan purbakala yang menunjukkan kuatnya pengaruh Tantra Bhairawa di Bali adalah area Kebo Parud di Desa Pejeng Gianyar. Yang menarik perhatian adalah periode setelah penyeran­ gan raja Kerta Negara ke Bali yaitu bahwa ajaran Panca Makara yang menjadi identitas Tantrayana mengalami proses sublimasi di Bali. Hal ini dapat diindikasikan dari bentuk tinggalan purbakala yang tidak lagi menggambarkan phalus dan vagina dalam bentuk natural tetapi telah mengalami sublimasi dan stilisasi menjadi bentuk-bentuk lingga yoni yang semakin abstrak. Penggambaran lingga yoni sebagai simbol perkawinan kosmik antara purusa prakerthi rupanya merupakan hasil lokalisasi paham yang datang dari India, yang kemudian melahirkan berbagai bentuk simbol yang menggam­barkan keduanya sebagai media untuk memohon kesuburan.

Untuk menelusuri lebih Ianjut tentang keberlanjutan pengaruh ajaran Tantra di Bali saat ini selain berupa benda-benda tinggalan purbakala, dapat pula diperhatikan pada berbagai bentuk aktivitas ritual maupun sarana yang digunakan dalam kegia­tan ritual tersebut.

  1. Pada upacara Perang Ketupat di Desa Kapal Badung, jelas menggunakan sarana tipat dan bantal. Tipat adalah lambang vagina atau lambang keperempuanan, sedangkan bantal adalah lambang phalus atau penis sebagai simbol seks laki-laki. Pertemuan keduanya melalui aktivitas ritual berupa “perang” diharapkan akan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat
  2. Dalam upacara perkawinan di Bali selalu meng­gunakan tipat bantal sebagai sarana pokok dalam ritualnya. Hal ini tidak hanya melambangkan pertemuan mempelai laki-laki dengan mempelai perempuan, secara meluas bermakna sebagai “perkawinan” komunitas atau keluarga laki-laki dengan keluarga perempuan, sehingga muncullah istilah mawarang yang artinya sama-sama punya modal dalam terbentuknya keluarga barn dimaksud. Penggunaan simbol-simbol seks dalam ritual perkawinan bisa juga diamati dalam ritual perkaw­inan di desa Sesetan Denpasar melalui simbol Kala Badeg. Tradisi ritual med-medan di desa Sesetan Denpasar, dapat juga diartikan sebagai “perkawinan kosmik” dengan tujuan memperoleh kesejahteraan bersama.
  3. Bila diperhatikan sarana upacara di Bali akan selalu menemukan alat yang disebut caratan coblong. Sepasang keramik sebagai wadah air yang jika diamati lebih jauh rupanya merupakan pasan­ gan simbolik phalus dan vagina atau lambang purusha dan prakerthi. Demikian juga penggunaan porosan silih asih yang dibentuk dari dua buah daun sirih.
  4. Dalam bidang kesenian kita juga mengenal kend­ang lanang-wadon, dengan nada yang diatur sede­mikian rupa penggabungan keduanya menghasilkan nada-nada yang harmonis.
  5. Penggunaan daging, minuman tuak, arak, berem dalam aktivitas ritual di Bali rupanya merupakan keberlanjutan ajaran panca makara dalam Tantrayana. Tentu masih banyak lagi yang belum teramati pada kesempatan ini sehingga dibutuhkan penelitian yang lebih intensif tentang keberlanjutan ajaran Tantrayana di Bali. Adanya kepercayaan   prasejarah    mengenai kekuatan alam yang Maha Kuasa, lalu dihinduisasi­kan menjadi keyakinan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Kekuatan-kekuatan alam tertentu kemudian dihinduisasikan menjadi aspek-aspek kekuatan Sang Hyang Widhi menjadi kekuatan-kekuatan dewa­-dewi. Demikianlah kekuatan air dipersonifikan menjadi dewa Indra, kekuatan api dipersonifikasi­kan menjadi dewa Agni, dan kekuatan angin diper­sonifikan menjadi dewa Marutha. Pemujaan kekua­tan matahari sebagai Dewa Surya, lalu dihinduisasi­kan menjadi pemujaan Siwa.
  6. Adanya kepercayaan di zaman prasejarah tentang Jiva, dihinduisasikan menjadi keyakinan terhadap atman. Kepercayaan adanya Jiva ini dihubungkan dengan adanya tradisi pembuatan bangunan terras pyramid, menhir, dan tahta batu. Menhir adalah simbolisasi roh nenek moyang, kepala suku atau seorang tokoh masyarakat (phallus), sedangkan terras pyramid adalah symbol atau replica gunung sebagai bentuk ekspresif kepercayaan bahwa roh­-roh bertempat tinggal di gunung. Dalam agama Hindu di Bali kepercayaan akan adanya atman disamping stula sarira (badan jasad) pada diri seseorang. Ketika manusia meninggal dunia, atman itulah yang meninggalkan badan jasadnya. Agar atman itu menjadi suci dan bersatu dengan sumbemya yang semula yaitu Brahman, maka dibu­tuhkan adanya upacara seperti ngaben dan mamu­kur sehingga roh itu dipandang telah menjadi suci kembali sehingga ditempatkan di sanggah kemulan dan dipuja oleh sanak keluarganya. Kepercayaan kepada gunung sebagai alam roh berlanjut ketika masuknya pengaruh Hindu. Gunung sebagai alam roh kemudian dibuatkan replikanya berupa bangu­nan meru. Kata meru rupanya berasal dari sebutan gunung Mahameru.
  7. Kepercayaan mengenai kelahiran kembali diduga sudah dikenal di Bali sejak zaman megalitik berdasarkan atas penemuan-penemuan yang terse­bar luas di suluruh Bali. Pada umumnya mayat ditemukan dalam posisi dilipat, artinya kedua belah kakinya dalam posisi ditekuk sampai di depan perut dan kedua tangannya bersilang di depan dada, kepala agak merunduk dan miring ke samping. Hal ini melambangkan bahwa mereka telah kembali ke dalam kandungan dan nanti akan lahir kembali (Punarbawa). Sebuah sarkopagus yang ditemukan di Bali Barat atau di desa Ambyarsari, malahan diben­tuk menyerupai kelamin perempuan. Hal ini jelas melambangkan konsep kelahiran kembali. Kepercayaan setelah masuknya Hindu tetap bertahan.
  8. Dalam upacara di Bali hingga saat ini masih menggunakan kerbau sebagai sarananya seperti upacara titimamah, pakelem. Penggunaan kerbau dalam ritual besar di Bali kemungkinan berlatar belakang pada sistem keykinan pada masa praseja­rah. Pada zaman megalitik, kerbau memiliki kedudukan penting secara sosial ekonomi dan religious kultural bangsa Indonesia. Pada masa itu kepulauan Indonesia menjadi centrum van buffel­ cultus dimana penyembelihan kerbau dimaksudkan sebagai binatang kurban dalam upacara tertentu misalnya dalam upacara kematian. Selain dipan­dang sebagai binatang suci dalam ritual keagamaan, kerbau juga dipandang memiliki kekuatan magis yang sering dihubungkan dengan kultur nenek moyang dan upacara kemakmuran atau kesuburan. Bersamaan dengan itu didirikanlah bangunan­ bangunan megalitik yang dihubungkan dengan kultus nenek moyang seperti terdapat di kalangan penduduk pulau Nias, Flores, dan Sumba. Dengan demikian dalam alam kepercayaan Indonesia telah mulai tumbuh kembang suatu konsep kepercayaan bahwa kerbau adalah binatang suci, sebagai sumber kekuatan magis dan sekaligus pula sebagai memi­ liki kekuatan penolak terhadap gejala-gejala kekua­tan jahat. Kerbau juga dipandang sebagai kendaraan bagi arwah nenek moyang. Pada masa prasejarah berkembang pula sistem keyakinan yang bersifat dualism (bipartite system) dimana alam semesta ini dibagi atas dua hal yang saling berhubungan satu sama lainnya, misalnya dunia atas dan dunia bawah, laki-laki dan perempuan, dan lain sebagainya. Dalam sistem dualism ini kerbau dipandang sebagai symbol bumi, air dan Sistem keyakinan ini tetap bertahan dan berkembang terus setelah masuknya agama Hindu.
  9. Dalam bidang pengarcaan dapat juga diungkap­kan adanya unsur-unsur prasejarah. Patung-patung nenek moyang yang digunakan sebagai medium antara manusia dengan roh-roh dimasa praseja­rah, dapat dipandang sebagai dasar-dasar dalam membuat area-area perwujudan yang banyak dijumpai di Bali. Arca-area ini banyak tersimpan di pura Panerajon di puncak Bukit Panulisan Kintamani. Pembuatan area perwujudan rupa­nya tidak dikenal di India. Sementara itu tentang munculnya area-area dewa di Bali, tampaknya itu berang­kat dari konsep yang berbeda. Agama Hindu men­gakui keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki umat manusia dalam memahami eksistensi Tuhan (Hyang Widhi Wasa) dalam bentuknya yang abstrak, tanpa bentuk phisik nyata. Untuk menga­rahkan pikiran menuju Tuhan dan menjaga agar pikiran tetap teguh pada Tuhan pada saat-saat pere­nungan tentang Tuhan, suatu bentuk area atau symbol tertentu merupakan bantuan yang berharga. Pikiran yang belum kuat harus berangkat dari yang nyata menuju yang abstrak. Tuhan memang ada dimana-mana, namun demikian dalam kaitan dengan persembahyangan Tuhan digambar­kan seakan-akan berada dalam suatu objek tertentu.
  10. Dalam arsitektur bangunan-bangunan suci di Bali, unsur-unsur prasejarah masih tampak nyata. Bangunan-bangunan berundak yang terdapat di desa Penebel, Sembiran, dan Geigel dapat dikata­kan kelanjutan dari bangunan terras piramid dimasa prasejarah. Jika hal ini dihubungkan dengan struk­tur halaman pura di Bali, tampaknya masih menun­ jukkan hubungan yang signifikan. Hampir semua pura memiliki halaman yang bertingkat-tingkat. Pura Besakih yang terletak di kaki gunung agung memiliki tujuh tingkatan, demikian juga pura Kehen Bangli yang bertingkat lima. Terlepas dari konsep teologis dan filosofis adanya tingkatan­ tingkatan dalam bangunan pura menunjukkan adanya keberlanjutan tradisi bangunan terras pyra­mid dari masa prasejarah.

 


Sumber :

Jurnal Seni Budaya Mudra, Oleh I Wayan Budi Utama


 



Buku Dasa Mahavidya
Rahasia Sepuluh Pengetahuan Dewi Agung

Dāśa Mahāvidyā

Detail Buku


Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga