Tata Cara Nyukat & Nyakap Karang serta Membangun Rumah Bali


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Donasi

Total: Rp100.000,00


Penting :

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email yang aktif untuk Konfirmasi dan Login.
  • Pembayaran : Transfer Bank (VA Account), QRIS (QR scanner seperti BCA Mobile, OVO, Dana, LinkAja, Gopay, Shopee pay, Sakuku, dll).
  • Aktivasi akun : Tidak diperlukan untuk melakukan konfirmasi pembayaran, karena sistem Gateway  akan melakukan verifikasi otomatis jika pembayaran sudah terverifikasi (sukses) oleh penyedia Payment Gateway di iPaymu. Max. 1×24 jam di Hari / Jam Kerja setelah pembayaran diterima.
  • Email Aktivasi : akan dikirimkan ke email. Periksa inbox atau spambox / junkmail folder anda untuk petunjuk Login.
  • Jika ada masalah login silahkan menghubungi disini.
  • Contoh PDF hasil dari download
    Klik disini

Membangun Merajan

Dalam membangun merajan, maka ada beberapa hal penting mesti diperhatikan: Tempat merajan atau sanggah adalah di hulu yang merupakan arah kaja kangin (timur laut). Jika berada di tanah rantauan maka wajib membangun padmasari atau pengayatan bhatara kawitan.

Besar kecilnya merajan:

  • Nista (paling kecil) ialah : Tri Lingga,  terdiri dari: Rong Tiga, Ratu Ngurah, dan Taksu
  • Madya, berupa Panca Lingga terdiri dari Rong Tiga, Ratu Ngurah, Taksu, Gedong Sari, dan Pelik sari
  • Utama, berupa Sapta Lingga terdiri dari: Rong Tiga, Ratu Ngurah, Pelik sari, Taksu, Gedong Sari, Gedong Catu dan Manjangan Saluang
  • Utamaning Utama, jika disungsung oleh 100KK lebih, maka membangun Eka Dasa Lingga yang terdiri dari : Rong Tiga, Ratu Ngurah, Pelik sari, Taksu, Gedong Sari, Gedong Catu dan Manjangan Saluang, Pesaren, Limas Sari, Padma dan tugu.

Selain pelinggih yang terdapat di merajan, terdapat juga pelinggih:

  • Padmasari, yang berada di hulu pekarangan untuk memuja kebesaran Bhatara Surya dan Sanghyang Tiga Wisesa, apabila karang tersebut karang panes
  • Sedahan karang atau petunggun karang di pojok barat laut atau di depan merajan. Atau ada juga di tengah sengker merajan barat laut, di sebelah barat pelinggih Taksu, disbeut dengan Dalem Karang.
  • Pelinggih Indra Balaka yakni pelinggih untuk pekarangan yang tumbak rurung atau karang panes di samping pempatan, sebelah banjar, bersebelahan di samping pempatan, sebelah banjar, bersebelahan dengan pura, sebelah setra atau pernah terjadi salah pati, disambar petir, dll. Letaknya di hulu pekarangan atau pada posisi tumbak rurung.
  • Pelinggih pengayatan seperti : kawitan, kahyangan, dan taksu dalang atau balian, dll.
  • Pelinggih tumbal, sesuai petunjuk balian atau dukun.

Pelinggih Padma di Merajan:

  • Apabila ada sulinggih di rumah pemilik merajan tersebut sebaiknya membangun Padmasana sebagai stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sebab sulinggih nyurya sewana setiap dan beliau hanya mebhakti di padmasana.
  •  Apabila sebagai Pengayatan Kawitan atau pura-pura lainnya, maka cukup membangun padma sari.
  •  Bagi yang membuat tempat suci di perantauan seperti BTN, dll, maka cukup membuat padmasari dan penunggun karang. Dan membuat padma andap apabila lokasi rumah tumbak jalan.
  • Merajan di atas rumah bertingkat dibenarkan berdasarkan konsep Tri Angga dan Tri Mandala.
  • Bagi yang tinggal di rumah susun/asrama, cukup membuat plangkiran rong tiga di pojok timur laut, ± 30 cm di bawah plafon
  • Skaat/ukuran pelataran merajan ada beberapa ukuran memakai “depa alit/depa agung” sepanjang dari ujung sangan kanan keujung sangan kiri yang direntangkan dan selalu diisi pengurip 1 asta musti (panjang dari siku sampai ujung jari).
  • Adapun ukurannya sebagai berikut : 6 x 5 depa alit, 8 x 7 depa alit, 10 x 9 depa alit, 11 x 10 depa alit, 12 x 11 depa alit, 19 x 18 depa alit, 21 x 20 depa alit detabas urip adapula 11 x 10 depa agung
  • Bila merajan alit memanjang keselatan. Bila merajan gede memanjang ke barat tempat kosinya sama.

 

Upakara Untuk Bangunan

Upacara untuk menebang kayu:

  • Dewasanya adalah Bteng Was, bulan X, XI.
  • Yang dipuja adalah Sang Hyang Paramawisesa meraga Sang Hyang Sangkara, Sang Hyang Les Mangening yang disebut dengan SIra Sedahan dan Bhatara Sangkara
  • Bantennya: beras akulak, uang kepeng 225 kepeng. Benang tukelan, tampilan canang, segehan putih dan kuning.
  • Mantranya:  Pakulun bhagawansira wyanggama, sira ta sedahan taru ingsun dewataning sitra kara, ingsun angemit angurubuh taru, tarun ida bhatara sangkara, bhatara siwa, wastu pakulun ingsung kataman dewa.
  •  Lalu siratin kayunya dan taburi beras benang, ayaban canang segehan dan cekakk 3 kali, lalu baru ditumbangkan.
  • Pada saat kayunya tumbang mantranya: Om Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya. Diupayakan agar kayunya tumbang ke utara atau timur, tidak memotong jalan atau sungai.

Upacara Merancang Bangunan:

Bantennya katur kehadapan Ida Bhatara Bhagawan Panyarikan

Bantennya: beras akulat, uang kepeng 11 biji, benang tukelan, sudang, taluh, ketan, base, injin, lembaran jangkep, buah bancangan jadikan satu dulan, canang sari, segehan putih kuning.

Mantranya : 

Om awing-awang miber tan karwan, sang kanta tumiba pwa kita ring ibu pertiwi, dadi kita kayu yata yata kita rinubuh ritampak paluning pande besi. Inastu pwa kita angadegaken enaran sang les mangening aran ira. Rinancang rinancing denira bhagawan panyarikan sama kita ngiton ingaran bapa sang aji guru, niyata kita pinastu pinarasten, winastu pukulun sidhaka.

Banten tersebut di-ayab-kan, kayu bahan bangunan diperciki tirtha, demikian juga dengan bangunan. Selama bekerja (proses pembangunan), banten tersebut (banten sagi-sagi) sepatutnya dibiarkan nyejer di hulu tempat bekerja. Setiap hari sebelum tukang bekerja, hendaknya mengahturkan sekedarnya seperti yadnya sesa.

Upacara Membuat Gegulak (Ukuran Bangunan):

Bantennya sama dengan yang di atas, namun ditambah lagi dengan peras daksina dan pengengeh/satsat pengengeh. Gegulak (patok) terbuat dari bamboo diberi cangget (tanda) sesuai dengan lebar dan panjang bangunan, baru kemudian diberi satsat pengengeh. Kemudian dirajah dengan Ang, Ah.

Diperciki tirtha pebersihan diberi mantra pengastawa sebagai berikut:

Om ang ah

Om an gang ang

Om ya namah swaha

Om dirgayusa namah swaha

Karena undagi atau tukang bangunan adalah seorang manusia, maka ia harus menyucikan dirinya sebelum bekerja dan menggunakan mantra berikut (dalam hati)

Om sang hyang sahasa munggwing tungtungi lidahku

Om sang hyang cakra dharma sudha aji ati munggwing lidahku

Angentos saluiring papa neraka kabeh

Waluya jati mulih swalunan ira nguni teka waras bersih

Om om sa ba ta a I na ma si wa ya

Mantra untuk melubangi :

Om gempang gempung

Bolong song homa jalan palite kasetan

Om sang hyang apti kang ayu duk binolong sang hyang indera dewaning taru

Sang hyang citra gotra dewaning tatah, sang hyang punggung dewataning pengotok

Om om sa ba ta a I na ma si wa ya

Mantra menutup lubang :

Om kaki pel nini gempeng ingsun amanjing wakwakania I papurus ira batara marin surunira, betari sekapet rapet.

Mantra memasukkan sunduk :

Om ang ngundang-ngundang, timba ta karwa sangkan ira, tunibapwakita ri Ibu peertiwi, dadi kayu, yatikarinubuh, ritampak palune pande besi, winastu pwa kita angadegaken, inganang Sanghyang Les mangening aran ira rinancang rinancing dening Bhagawan Penyarikan, yata kita hison ingaran Bapa Sang Aji Guru niyata kita winastu pinarastu nama swaha

O mom awigna astu

Siwa sampurna ya namah

Mantra memasang sunduk:

Om ang akasa tawya yoga sekala niskala nama swaha

O mom awigna astu

Siwa sampurna ya namah



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga