Tutur Gong Besi, Pinugrahan dari Bhatara Dalem


Baik Buruknya Sifat sesuai Pawukon di Tutur Gong Besi 

SINTA

Dewanya Sang Hyang Yamadipati. Kakinya terbenam di air. Kayunya Kandayakan. Burungnya Gagak. Gedongnya di depan.

Artinya: (Orang yang lahir) pada Wuku Sinta wataknya Pretampayan, Besar marahnya. Tidak sabar, sering menderita, tetapi kalem budinya. Tidak mudah percaya. Tutur katanya halus.

  • Memegang bendera artinya : Keberuntungannya besar.
  • Kaki terbenam di air, artinya : Segala perintahnya panas diawal tetapi sejuk kemudian.
  • Kayunya Kandayakanartinya : Tempat berteduh, tempat berlindung bagi orang sengsara dan orang minggat.
  • Burungnya Gagak artinya : Awet muda dalam segala pekerjaan. Dan memahami firasat.
  • Gedongnya di depan artinya : Pamer dan membeberkan kekayaannya. Murah hati, tetapi tidak sampai ke dalam. Bahayanya mati tengah umur.

Sebaiknya diupacarai dengan Sega Bulen, liwetan Sapitrah. Dagingnya kerbau seharga 21 kepeng. Ayam sebagai pelengkap. Hutangnya 4 kepeng sebagai pembeli bahaya. Kala Uku berkedudukan di timur laut. Dalam Wuku Sinta jangan pergi menentang Kala.

 

LANDEP

Dewanya Sang Hyang Maha Dewa. Kaki kirinya terbenam di air. Burungnya Atat Kembang. Gedongnya di depan. Kayunya Kandayakan.

Artinya: (Orang yang lahir) pada wuku Landep baik perbawanya. Romantis hatinya. Banyak Putranya. Berhati terang, senang bertapa.

  • Kakinya dibelakang terbenam air artinya : Segala perintahnya panas pada awalnya, tetapi sejuk kemudian.
  • Kayunya Kandayakan artinya : Menjadi tempat berteduh bagi orang-orang sengsara. Tempat tamu berteduh untuk mendapat kebahagiaan dan orang-orang minggat.
  • Burungnya Atat Bunga artinya : Menjadi kesayangan orang besar. Jika mengabdi mendapat perhatian. Disayang oleh tuannya.
  • Gedongnya di depan artinya : Senang membeberkan kekayaannya. Murah pikirannya tetapi tidak demikian dalam hatinya. Angkuh budinya. Besar untungnya. Bahaya kematiannya ditimpa kayu.

Sepatutnya diupacarai dengan :Tumpeng 1 biji, Liwetan 1 catu.Dagingnya daging Menjangan diolah menjadi Gecok Panggang. Utangnya 4 kepeng, sebagai penolak bahaya.Kala Uku berkedudukan di barat. Dalam Wuku Landep jangan bepergian menentang Kala.

 

UKIR

Dewanya Sang Hyang Mahayukti. Kakinya menginjak gunung menghadapi air Jambangan. Benderanya di depan. Kayunya Nagasari. Burungnya Manyar. Gedongnya didepan.

Artinya : (Orang yang lahir) pada Wuku Ukir wataknya tidak dapat dipercaya. Pikirannya pemurah. Banyak orang diberinya makan.

  • Kakinya menginjak gunung artinya : Setiap orang yang datang (ada) ditempatnya, diperintahnya.
  • Menghadapi air Jambangan artinya : Merendahkan hati budinya.
  • Benderanya di depan artinya : Keberuntungannya di belakang hari.
  • Kayunya Nagasari artinya : Perbawanya baik, manis tutur katanya, disayangi oleh tuannya.
  • Burungnya Manyar artinya : Tidak mau kalah dengan sesamanya. Terampil dalam segala pekerjaan.
  • Gedongnya di depan artinya : Suka membeberkan kekayaan. Murah hati, tetapi tidak iklas dalam hatinya. Bahayanya mati karena dibencanai.

Sepatutnya diupacarai dengan Tawur. Sega Urih Liwetan 1 catu.­ Dagingnya ayam putih Lembaran yang berkokok(masih muda).Kakuluban 5 warna. Untangnya 4 kepeng sebagai penolak bahaya. Kala Uku berkedudukan di tenggara. Dalam Wuku Ukir jangan bepergian menantang Kala.

 

KULANTIR

Dewanya Sang Hyang Langsur. Memegang Bendera, kayunya Tinggas. Gedongnya di depan terkapar. Burungnya Slinditan. Air Jambangan di sebelah kiri.

Artinya (Orang yang lahir) pada wuku kulantir pandai mengusahakan dan mengambil hati orang lain.

  • Merasakan diri, tidak pemarah, pemaaf, besar hati budinya.
  • Memegang bendera artinya : Keberuntungannya besar dikemudian hari.
  • Kayunya Tinggas artinya : Tidak baik sebagai tempat berteduh dan peristirahatan, Pelit.
  • Gedongnya terkapar di tanah bagian depannya artinya : Harta bendanya cepat habis dan tidak bisa berkumpul.
  • Burungnya Slidetan artinya : Dimanapun ia bertempat tinggal menemui kesengsaraan, walaupun ia disayangi oleh tuannya.
  • Air Jambangan disebelah kiri artinya : Setiap yang diinginkannya menjadi jalannya (mendapat) sengsara, Sodangiwa, bahayanya bila mana ia jatuh karena naik. Itulah jalan kematiannya.

Sepatutnya diupacarai dengan tawur :Tumpeng, Liwetan 1 pitrah.Dagingnya ayam muda setengah umur diolah. Utangnya 7 kepeng. I gardongnya Rajukna, sebagai penolak bahaya. Kala Uku berkedudukan di bawah Dalam Wuku Kulantir jangan bekerja ke tanah dan turun dari gunung.

 

TOLU

Dewanya Sang Hyang Bayu. Kayunya Palikukun. Burungnya Brancangan. Gedongnya di depan. Benderanya di belakang.

Artinya (Orang yang lahir) pada Wuku Tolu wataknya kuat, keras hatinya, panjang pikirannya dan baik tutur katanya.

  • Kayunya Palikukun artinya : Lentur kuat gerak pukulannya. Perwira pemberani.
  • Burungnya Krancangan artinya: Tidak kenal lelah. Cerdas dan cekatan dalam bekerja. Kuat bergadang diwaktu malam.
  • Gedongnya di depan artinya : Memamerkan kekayaan. Buruk hatinya, tetapi tidak sampai ke dalam hatinya.
  • Benderanya di belakang artinya : Menjadi kaya karena mendapat untung. Bahayanya ditanduk oleh segala yang bertanduk, digigit oleh segala yang bertaring sebagai kematiannya.

Sebaiknya diupacarai dengan :Sega gurih, Liwetan 1 pitrah, ayam dimasak kukus 1 ekor. Utangnya 3 kepeng. Igardongannya Kabula ? sebagai penolak bahaya. Kala Uku berkedudukan di barat-Iaut. Dalam Wuku Tolu jangan bepergian menentang Kala.

 

GUMBREG

Dewanya Sang Hyang Cakra. Kaki kanan di depan terendam di air. Kayunya Beringin. Burungnya Ayam hutan. Gedongnya di bagian kiri rata sampai di belakang.

Artinya : Watak (Orang yang lahir) pada wuku Gumbreg melebihi watak sesamanya. Sekali bicara disetujui. Selalu menyenangkan hati.

  • Kaki kanan di depan terendam air artinya : Setiap perintahnya menyejukkan pada awalnya, tetapi panas di belakang.
  • Kayunya Beringin artinya : Menjadi tempat perlindungan dan tempat peristirahatan bagi sanak saudaranya.
  • Burungnya ayam hutan artinya : Segala pikiran dan usahanya dikagumi oleh orang besar. Tutur katanya manis, banyak bicaranya dan banyak usahanya. Besar untungnya, banyak mendapat laba.
  • Gedongnya disebelah kiri rata kebelakang artinya : Tidak sayang kepada harta milik dan tidak tanggung-tanggung. Bahayanya tenggelem, hanyut jalan kematiannya.

Sepatutnya diupacarai dengan :Sega Wera Liwetan 1 cantung. Dagingnya ayam brumbun yang berbalung dipanggang. Pakuluban 9 warna. Utangnya 4 kepeng. Igardongannya Rajukna sebagai penolak bahaya. Kala Uku berada di selatan menghadap ke utara. Dalam Wuku Gumbreg jangan pergi menghadap Kala.

 

WARIGA

Dewanya Sang Hyang Smara. Kayunya Surawanita. Burungnya Kapondang menghadap ke candi.

Artinya : Watak (Orang yang lahir) pada Wuku Wariga baik rupanya. Menyenangkan sebagai kembang rumah. Lengkap sempurna pernikahannya. Buruk hatinya dan pretampayanga, menyusahkan dalam kesenangannya. Memberatkan sampai pada tempatnya bercengkrama.

  • Kayunya Sulatri artinya : elok parasnya, banyak orang terpesona, senang memandangnya.
  • Burungnya Kepondang artinya: Pratampayan dan tidak suka berkumpul-kumpul.
  • Selalu menghadap candi artinya : Pikirannya susah. Susah hati. Bahayanya dihalangi/dirintangi sebagai jalan kematiannya.

Sepatutnya diupacarai dengan sega dicampur dengan Liwetan 1 catu. Dagingnya daging kerbau diolah menjadi gagecok.Utangnya 8 kepeng.Igardongannya Tulak Balak sebagai pembeli tenaga. Kala Uku berkedudukan di atas.Dalam Wuku Wariga jangan naik menentang Kala.

 

WARIGADIAN

Dewanya Sang Hyang Maharsi. Kayunya Cemaga Burungnya Betit. Gedongnya 2 buah, tempatnya di depan dan di belakang. Benderanya dibelakang.

Artinya: Watak (Orang yang lahir) pada wuku Warigadian besar tanggung jawabnya dan banyak daya tariknya.

  • Kayunya Cemara artinya : Banyak bicara, tutur katanya halus manis, perintahnya dituruti. ­
  • Burungnya Bitit Artinya : Keras hati, pandai mencari makan minum.
  • Gedongnya 2 buah di depan dan di belakang artinya : Kesukaannya menengah.
  • Benderanya di belakang artinya : Keberuntungannya di belakang hari. Bahayanya karena dimarahi oleh anak cucunya. Itulah jalan kematiannya.

Sepatutnya diupacarai dengan: Segagurih Liwet 1 pitrah. Dagingnya bebek diolah gurih, dan Kakuluban 5 warna. Hutangnya 5 kepeng. Igardongannya (tolak balanya) adalah Rasul sebagai penolak bahaya. Kala Uku berkedudukan di utara, menghadap ke selatan. Dalam Wuku Warigadian jangan bepergian menentang Kala.       

 

JULUNGWANGI

Dewanya Sang Hyang Sambu, memegang tiang bendera. Menghadap air Jambangan. Burungnya Kutilang. Kayunya Cempaka.

Artinya : Watak (Orang yang lahir) pada Wuku Julungwangi (gemar kepada) segala yang berbau harum. Segala pikirannya belum berhasil.Pendapatnya disetujui oleh orang banyak.

  • Memegang Bendera artinya : Mapapak (memakan ?) untungnya. Menghadap air Jambangan artinya: Murah pikirannya, berbelas kasih tetapi hendaknya disebut-sebut belas kasihnya.
  • Burungnya Kutilang artinya: Banyak cakapnya dan dituruti oleh sesamanya. Laku dagangannya.
  • Kayunya Cempaka artinya : Tutur katanya halus manis. Dicintai orang banyak. Bahaya yang menjadi jalan kematiannya adalah karena disergap macan.

Patut diupacarai dengan : Sega Kabuli Liwetan 1 pitrah. Dagingnya ayam berbulu merah ditaruh melingkar pada sega. Utangnya 1 kepeng tulak balanya Tulak-tulak sebagai penolak bahaya. Kala uku berkedudukan di selatan.Dalam Wuku Julungwangi jangan bepergian menentang Kala.

 

SUNGSANG

Dewanya Sang Hyang Gana. Kayunya Tangan. Burungnya Nori. Gedongnya terkapar di belakang.

Artinya: (Orang yang lahir) pada Wuku Sungsang karakternya adalah keruh hatinya. Kuat mengangkat barang.

  • Kayunya Tangan artinya : Rajin dan terampil dalam bekerja. Kaku hatinya, senang dengan milik orang lain.
  • Burungnya Nori artinya: Boros dan rakus. Untungnya menjauh, kelakuannya serakah, daya upayanya tidak baik.
  • Gedongnya terkapar di belakang artinya : Tidak sayang kepada harta milik. ­Tetapi hatinya tidak tulus.Bahaya kematiannya kena besi. Patut dibayar, nasi magana, liwetan 2 catu, dagingnya Itik, ayam dicampur kebas, jangan (sayur 9 jenis, dicampur pada nasi gana, utangnya 10 kepeng, gardongannya karbula, sebagai penolak bahaya kala ukur bertempat di timur, selama wuku sungsang jangan bepergian berpapasan ­dengan kala. Dunggulan Dewanya Sang Hyang kamajaya, merunduk ; memandang air dalam bokor, burungnya bidho,
  • Kayunya langan  artinya; pada wuku Dunggulan wataknya bagus bebas, tidak bimbang dalam hati, tahu menuntun suara orang yang kesedihan dalam hati dan merunduk memandang air dalam bokor, senang menolong, dirinya tidak bisa menguji atau menjaga miliknya dan sedikit untungnya,
  • burungnya bidho, besar kemarahannya terhadap milik orang lain, waktunya jalan bahaya kematiannya berkelahi (berdarah, patut dibayar, nasi liwet acatu, daging kambing di olah semuanya, ayam hitam mulus setengah umur, boleh ditutu atau dipindang, uangnya satu kepeng pada gagedongannya selamat pina itu sebagai penulak bahaya. Kalau wuku bertempat di neriti (Barat daya), selama wuku dunggulan jangan bepergian berpapasan kala.

 

KUNINGAN

Dewanya Sang Hyang Indra, kayunya wijaya kusuma, burungnya urang-urangan, gardongannya tertutup dari belakang.

Artinya, pada wuku kuningan tabiatnya memiliki pengetahuan, tutur katanya baik wataknya agak angkuh,

kayunya wijaya kusuma, wajahnya sangat tampan, senang berdiam di tempat yang sepi, pikirannya baik wataknya agak angkuh, tetapi pekerjaannya baik, rajin sembahyang,

burungnya urang-urungannya, segala pekerjaan dikerjakan cepat selesai dan rajin agak sombong tapi dalem,

gedongnya memanjang ke belakang dan tertutup, wataknya candi pidik Sri Kikih, waktu bahayanya di serang itulah alasnya kematiannya

Patut ditebus dengan nasi punar, liwetan (bubur beras merah), dagingnya kerbau di goreng uangnya 11 kepeng gardongannya kabala, sebagai penolak bahaya kala ukur bertempat di barat, selama wuku kuningan, janganlah kepergian berpapasan kala.

 

LANGKIR

dewanya Sang Hyang Kala, menggigit ibu jari tangan, mapakendi kayunya dua jenis tingas, cemara, condong hampir rehab, burungnya gemuk.

artinya pada wuku langkir tabiatnya besar kemarahannya tidak takut sendirian, air ditakuti, pikirannya buruk, bodoh, pikirannya serakah, hatinya panas, wataknya tidak ingin di dekati orang, setiap yang dekat terbakar, lenyoh artinya, hatinya bersinar

kayunya camara, hampir rehab condong, tidak ingin didekati sebagai perlindungan dan peristirahatan, kata-katanya kasar.

burungnya gemah, memakai pakaian seperti prajurit, berani, tidak takut sesama manusia, waktu bahayanya kecurian sebagai jalan kematiannya

Patut ditebus dengan nasi gurih diur satu catu dagingnya kambing dan jenis ikan sungai di goreng, sayur-sayuran selengkapnya, uangnya 5 kepeng, gardongannya selamatpinna sebagai penolak bahaya, kala wuku bertempat ditenggara, selama wuku langkir jangan bepergian berpapasan kala.

 

MEDANGSIA

dewanya Sang Hyang Brahma kayunya pabon asam, burungnya Blatuk bawang, gerdongnya tertutup didepannya.

artinya pada wuku medangsia tabiatnya kuat dan besar badannya cepat marah tetapi ada baiknya, perintahnya lemah, pepohonannya asaro, wataknya ngales, dan disenangi banyak orang, menjadi perlindungan seperti tempat peristirahatan orang sengsara.

Burungnya blatuk bawang, budinya kuat, tidak pemah puas segala yang dipikirkannya gerdongnya tertutup di depan, tahu memegang memperbaiki segala miliknya, mas, perak, uang dan besar keuntungannya, waktu bahayanya tertimpa kebakaran jalan kematiannya. Patut ditebus dengan nasi sudah bau, bubur sapi treh, beras merah, dagingnya ayam merah dipindang sayurnya bayam mang, bunganya serba merah sekar taman, uangnya uang baru 4 kepeng gardongannya selamat pina, sebagai penolak bahaya kala ukur bertempat di atas.

Selama wuku medangsia jangan naik atau memanjat-manjat Panjat dewanya Sang Hyang Guretno, kayunya rembuyuk, burungnya princowang, menghadapi gunung, mengelilingi air jambangan artinya pada wuku pujat, wataknya diam kalau marah, tenang keluar, tutur katanya halus, dan ada kebaikannya, kayunya rembuyuk, bagus bentuknya tapi tidak ada baunya, dimanapun tempatnya dicari, burungnya perit, cawang besar harapannya, halus pemikirannya menghadapi gunungnya, bahayanya kena guna-guna jalan kematiannya, patut dibayar (ditebus dengan tunpeng liwetan satu catu, dagingnya ayam merah dipanggang, kakuluban/sayurnya. 9 jenis uangnya 3 kepeng, gardongannya bala sarwa dan kukun, sebagai penolak bahaya, kala wuku bertempat di barat laut, selama wuku pujut jangan bepergian berpapasan dengan kala.

 

PAHANG

dewanya Sang Hyang Tantra memegang senjata burungnya, kayunya kandayakan, disamping kiri air jambangan, gerdongannya membentang.

artinya pada wuku pahang, wataknya kata-katanya tidak pernah merendah, penderitaannya selalu sakit, badannya menggigil dan membawa senjata ia juga waspasa, kata-katanya keras, dan brahmantia/marah, burungnya cukcuk banyak bicaranya, kayunya kandayakan, menjadi kekaguman orang dan peristirahatan orang yang menderita lenyap.

Disamping air jambangan, artinya kesenangannya senang berbuat buruk.

Gerdongannya membentang artinya, segala yang ada cepat habis, tidak sayang pada miliknya, waktu bahayanya waktu kagawe-gawe pindrajaya, jalan kematiannya ia patut tebus nasi gurih dibubur satu catu, dagingnya ayam putih tutus dipanggang terbuka, sayumya 11 jenis, uangnya 9 kepeng gerdongannya dirasus sebagai penolak bahaya kala wuku bertempat diselatan, selama wuku pahang jangan bepergian berpapasan dengan kala.

 

KRULUT

dewanya Sang Hyang Wisnu membawa cakra barangnya spehan, kayunya prijata, gerdongannya di depan.

artinya pada wuku krulut tabiatnya sadar menekuni pekerjaannya, sedikit bicaranya, senang dipuji, menceritakan pekerjaan dan merasakan dalam hatinya membawa cakra, perwira, selamat dan hatinya suci, luhur budinya, burungnya spahan, segala yang diperkirakannya,

Kayunya parijata artinya senang pada sanak keluarganya, dan sedikit ada kesedihan hatinya.

Gerdongannya ada di depannya, artinya berceritera tentang kekayaannya, mudah mengerti tetapi tidak tulus sampai ke lubuk hati, banyak pengetahuannya dan banyak untungnya.

Waktu bahayanya, sedih dibuat-buat, jalan kematiannya patut ditebus dengan banten penyempurna, nasi bubur/liwetan satu catu, dagingnya kambing kakinya yang di depan putih keduanya, diolah selengkapnya kulitnya dipakai bayang-bayang utangnya/uangnya 100 kepeng, gardongannya selamat kabula, sebagai penolak bahaya, kala wuku bertempat di atas, selama wuku krulut jangan memanjat/naik.

 

MERAKIH

dewanya Sang Hyang Suranggana, kayunya tangguli tidak ada burungnya, benderanya terbalik, gerdongannya dipegang

artinya pada wuku Merakih wataknya mudah mengerti, menerima dirinya, ingat kepada kesanggupan ucapannya dan berani menderita.

Kayunya tangguli, artinya tidak mengambil buahnya, tidak ada gunanya, tidak mempunyai burung, tidak bisa disuruh bepergian jauh, sering menemui bahaya/bencana, benderanya terbalik, murah rejekinya.

Gedongnya dipegang, artinya menceriterakan dikasihi leluhurnya, waktu bahayanya tenggelam hanyut jalan kematiannya, patut dibayar dengan nasi bubur gurih satu catu, dagingnya ayam putih masak, lebaran, dan raka warna-warni utangnya/uangnya 100 kepeng, gardongannya tulak bayu, kala wuku bertempat di utara, selama wuku merakih jangan bepergian berpapasan dengan kala.

 

TAMBIR

dewanya Sang Hyang Siwa, burungnya perenjak, kayunya paupas, gerdongannya 3 semua tertutup.

artinya wuku tambir wataknya setiap yang sudah jadi masih di luar, tidak tulus sampai di hati.

  • Burungnya pranjak, artinya gerdungannya mengagumkan dirinya dan kesenangannya membuat tujuan yang dikagumi dan dia tahu bencana orang dan tahu wangsit,
  • Kayunya upas artinya tidak ingin ditempati untuk perlindungan dan peristirahatan, semua kata-katanya panas.
  • Gerdongannya tiga semuanya tertutup, artinya cerdik, kikir, menyakitkan hati, mencintai dewa, waktu bahayanya kena pepasangan, jalan kematiannya.

Patut dibayar nasi bubur pulen acatu, dagingnya bebek ayam diolah dipindang, raka-raka putih merah dipakai amengan/mentimun 25 buah. Utangnya panset waja, dan jarum satu biji, gerdongannya selamat pinna, dipakai penolak bahaya, kala wuku bertempat di barat daya, selama wuku tambir jangan berpapasan dengan kala.

 

MEDANGKUNGAN

dewanya Sang Hyang Basuki, burungnya pelung, kayunya plasa, gerdongannya di atas hatinya.

Artinya pada wuku mendangkungan, wataknya kata-katanya tulus dan menerima keadaan dirinya, pikirannya tetap/berketetapan hati.

  • Burungnya pelung, senangnya pada air, pikirannya bertemu pada akhirnya,
  • Kayunya plasa, artinya menjadi bunga di hutan, dikota tidak berguna
  • Gedongnya ada di atas, artinya menceritakan dan memperlihatkan kekayaannya, waktu bahayanya kena kasingsek perampok, dibabat pencuri malam hari, itulah jalan matinya

Patut dibayar dengan nasi punar bubur satu catu, dagingnya ayam merah kuning dan ayam berumbun dipotong-potong digoreng dan dibangun urip, serta canang harum, bubur merah, di bayar 5 kepeng, gardongannya camur, sebagai penolak bahaya kala wuku jangan bepergian berpapasan dengan kala.

 

MATAL

dewanya Sang Hyang Sakra, pepohonannya nagasari, burungnya ayam hutan, gerdongannya bertumpang memakai bendera

artinya pada wuku matal wataknya keras hati, budinya tetap pendiriannya,

  • Kayunya nagasari, disenangi oleh orang besar, dikasihi raja/pimpinan
  • Burungnya ayam hutan, artinya dapat kepercayaan orang besar, pikirannya ringan, baik, lembut tutur katanya, diterima perbudakan, banyak kesombongan dan besar keuntungan
  • Gerdongannya ditumpangi bendera, artinya kekayaan dan pangkatnya datang bersamaan, waktu bahayanya jalan matinya.

Patut dibayar dengan nasi gurih bubur satu catu, dagingnya bebek dan ayam dimasak dipanggang diguling pangauju denaga mulyakena, utangnya 4 kepeng, gerdongannya rasul, sebagai penolak bahaya kala wuku bertempat ditimur laut, selama wuku matal jangan bepergian berpapasan kala.

 

UYE

Dewanya Sang Hyang Kwera, tempatkan keris ngaliga pada undagan, di bawah tempat tidur dan pelinggih, gerdongannya mem­bentang di depannya, kayunya ental, burungnya gagak.

artinya pada waktu uye tabiatnya dapat mengambil hati orang keluar tangkas, kata-katanya mengherankan tidak ikut rame-rame, keinginannya perwira, memerintah dengan pikiran pendek, dan menyombongkan diri, tetapi tidak terus selamanya tabu terang/jelas dengan pekerjaan yang baik,

  • Tempatkan keris membentang pada undagan/tangga, artinya waspada dan tajam hatinya,
  • Gerdongannya membentang di hadapannya, artinya tidak ragu hati dengan kesenangan/terlena dengan milik orang lain yang dicintainya, menjadi kesenangannya, sudah tidak terpakai diingat keinginannya berlebihan dan percaya, tetapi gemar mutung.
  • Kayunya ental, artinya panjang umurnya besar keuntungannya, sangat kaku lengkap dari bandel hatinya,
  • Burungnya gagak, artinya sangat pratempayan, tidak senang dengan keramaian, waktu bahayanya kena guna-guna dan kena perintah.

Patut dibayar dengan banten yang dibeli di pasar seharga 225, belikan madu dipakai selawat utangnya, gardongannya tulah balak pindaka penolak bahaya, kala waku bertempat di barat, selama wuku Uye jangan bepergian berpapasan kala.

 

MENAIL

dewanya Sang Hyang Citragatra, memegang tombak tanpa sarung menyalal/ngliga, kayunya tigaron burungnya spahan, membelakangi ari jambangan.

artinya pada wuku menail, tabiatnya menyombongkan diri, tahu dia berkumpul dalam keramaian, tetapi sangat angkuh, siap juga menjaga orang yang berbuat dosa,

  • memegang tombak ngliga, artinya waspada runcing/tajam hatinya,
  • kayunya tigaron, artinya pantang dipakai berbuat baik di dalam hutan, sedikit gunanya, tetapi bulan dirindukannya
  • burung spahan, artinya pendek pikirannya dan halus akal budhinya
  • membelakangi air jambangan artinya merendah perintahnya, tetapi tidak terpakai pangkat, waktu bahayanya terkena senjata, jalan kematiannya

Patut dibayar nasi agung bubur satu catu, dagingnya ayam besar diolah lengkap dan ikan sungai, dan sayur-sayuran selengkapnya, sambel gepeng, selawat utangnya 9 kepeng gardongannya selawat tulak-balak, sebagai penolak bahaya, kala wuku bertempat ditenggara, selama wuku Menail jangan bepergian berpapasan kala.

 

PERANGBAKAT

dewanya Sang Hyang Bisma, kaki kanannya direndam air jambangan, kayunya tirisan/batok kelapa, burungnya urang-urangan

artinya pada waktu perang bakat wataknya kokoh dalam hati, kelakuannya merenggut, mengringas dalam pikiran dalam lubuk hati, doyan/sering menceriterakan keperwiraannya diikuti apabila berperang, pikirannya tidak pernah susah, tangkas tutur katanya.

  • kakinya yang kanan direndam air, artinya kalau perintahnya sejuk dahulu akhirnya panas,
  • kayunya kelapa, artinya ia panjang umur, tegap meruntun ikut diikuti, makan minumannya dan pakaiannya kokoh kuat lagaknya,
  • burungnya urang-urangan artinya ringkas segala pekerjaan­nya, waktu bahayanya memanjat-manjat

tingkah lakunya patut dibayar atau ditebus dengan banten tumpeng bubur satu catu, dagingnya sate sari bumbunya manis, sayur-sayuran selengkapnya, utangnya tambah (cangkul) doanya alamat pinna, sebagai penolak bahaya kalau wuku bertempat di bawah selama wuku perang bakat ajangan mencangkul tanah dan bepergian berpapasan kala.

 

BALA

Dewanya Bhatari Durga, kayunya cemara, burungnya ayam hutan, gedongnya di depan

artinya pada wuku bala, perbuatannya sering membuat huru-hara, takut orang bila mendengarnya, jail (usil) sering mengikuti perbuatan kotor, tidak pernah takut pada sesama manusia, sangat jahat, prilakunya.

  • kayunya cemara, artinya kata-katanya remek, comel, crewet, tidak bisa dipakai perlindungan, dan peristirahatan, perintahnya panas tapi diikuti
  • burungnya ayam hutan, artinya pikirannya pendek dan didekati oleh orang besar, besar kesombongannya, banyak untungnya, diterima pengabdiannya,
  • gedongnya di depan, artinya bola halangannya, kena perintah dan terkena upas.

patut ia dibayar dengan banten tumpeng bubur satu catu, dagingnya ayam hitam dipanggang, sayur-sayuran tujuh jenis, utangnya 40 kepeng, gardongannya rajukna di barat sebagai penolak bahaya, kala wuku bertempat di barat laut, selama wuku bala jangan bepergian berpapasan/berlawanan dengan kala.

 

UGU

Dewanya Bhatara singajadma, wataknya pidik cerdik, banyak akalnya, banyak pengetahuannya budinya panjang. Gedongannya tertutup dan bertempat di belakang, tabiatnya tangguh dalam memikirkan. Kayunya wani, setiap yang mengetahui heran tentang perlakuannya makan, tidak ambil pusing buat makanan kalau diejek hiba hatinya,

Burungnya podang, iri dengki lagaknya, tetapi senang berkumpul dengan orang banyak, bulannya pada wuku ugu, seperti awang-awang, kelakuannya baik budhi dan hatinya kaluyukrah, waktu bahayanya sesama temannya, matinya kena teluh, (sihir) dicampur ulat.

Patutlah ditebus/dibayar dengan banten nasi bubur pungawan satu catu, dagingnya bebek putih sepasang diguling atau ketutu, dan jajan dibeli dipasar berwarna-warni; gegodoh, tumpi, utangnya 10 kepeng, doanya salawat kabula, kalanya bertempat diselatan selama wuku ugu, jangan bepergian berpapasan dengan kala.

 

WAYANG

Dewanya Bhatari sri, wataknya senang mengumpulkan sandang pangan dan minuman yang banyak, tabah, astiti bakti, murah hati, merendah, perintah atau tutur katanya disenangi oleh orang banyak, dan orangnya jambangan, ada didepannya dilebarkan, wataknya aryaman, sangat baik (darma), makan dan pakaian sederhana, senang menceritakan kekayaannya.

Kayunya cempaka, wataknya tidak ada kesedihan, banyak orang senang, anak-anak, remaja, tua sama­-sama senang. Burungnya keker, dikasihi orang besar, dicintai teman dan sahabat, tutur katanya manis, harum perintahnya merendah, banyak orang ingin mengabdi padanya kalau diterima, dikasihani oleh atasannya, dan senjatanya ada dibelakang besar keinginannya, banyak yang dijamin, banyak pegangannya, segala perintahnya pasa awalnya ringan akhirnya sukar, bulannya pada wuku wayang, seperti lampu yang menerangi bumi dan langit, keremajaan, banyak memiliki pengetahuan, pat artinya sinar berjalan, menjadi hinangan oleh orang banyak, waktu bahayanya mati kena kaciarih dan ditusuk.

Patut ditebus dengan banten nas wiwiksa, sapi trah, dagingnya kambing kendit diolah selengkapnya, jajannya gagodoh halus, patut disertai oleh 4 orang anak kecil doanya panjang umur, sebagai penolak bahaya kalanya di atas, selama wuku wayang jangan memanjat-manjat dan bepergian berpapasan dengan kala.

 

KELAWU

Dewanya Bhatara Sadana, wataknya kokoh pikirannya, berketetapan hati, luhur budinya berpikiran luas, air jambangan di depan, besar harapannya, banyak bawaannya, mabutengan hati, gedongannya di depan, senang dipuji, suka memamerkan kekayaannya, murah hati, tetapi tidak tulus sampai ke lubuk hati, banyak kesenangannya semuanya tidak tetap.

Burungnya nuri atat, wataknya koas, bores dan hampa, sesuhu hati-hatinya pemarah, pemurah pada yang dikuasainya tulus seperti tutur katanya.

Klandenya di belakang, setiap yang keluar selalu dipikirkan bertemu dengan asahnya, bulannya pada wuku kelawu, seperti: air menetes pada sendang, sedikit miskin pada awalnya, setengah umur sedang-sedang, pada akhirnya kayalah mereka.

Perbuatannya seperti burung dewata yang berkumpul, itulah hasil perbuatan, wataknya/tabiatnya tulusih sinihan, waktu bahayanya dipatuk ular sebagai akhir kematiannya.

Patut dibayar dengan nasi bubur kwanta/dadu/, dagingnya, bebek, ayam, ikan sawah, diolah secukupnya, doanya kabula mina, sebagai penolak bahaya, kalanyal waktunya di utara, selama wuku kelawu jangan bepergian berpapasan dengan kala.

 

DUKUT

Dewanya Sang Hyang Agni, adat kelakuannya gagah perkasa, bersih perwira dalam hati, istrinya cantik, menurun pada orang lain, sampai dengan putra keturunannya banyak.

Gedongannya panggung (tinggi), wataknya sedikit cerdik, senang menjalani ilmu hitam, menjalankan yang tidak patut, kayunya ental, disurati bertepi kedera sisinya, baik rupanya kurang pantas, diirinya tempatnya tajam perolehannya jika disenangi, bulannya pada wuku dukut seperti tuggul indah di mata pekarangan, baik rupanya.

Api perwira tajam artinya takut pakertinya seperti kirti ditata, wataknya kokoh, hatinya bodoh gelap, waktu bahayanya di dalam peperangan yang menyebabkan kematiannya kelak.

Patut dibayar/ditebus dengan banten seperti: tumpeng liwetan acatu, dagingnya ayam berumbun dipanggang dapat pula putihkuning, utangnya tiga setengah kepeng, doanya selamatkan yang menyebabkan bumi ini kotor, kalanya di barat daya tempatnya, selama wuku dukut jangan bepergian berpapasan dengan kala.

 

WATUGUNUNG

Dewanya Sang Hyang Anantabhoga dan Sang Nagagini, kelakuannya amat angker, dapat atau senang melakukan tapa brata, Sang Anantabhoga, suka bermain diluar istana/rumah sang Nagagini patut memadu kasih dengan suaminya.

Kayunya wijaya kusuma, besar pantangannya banyak jalannya tetapi tidak senang dengan yang ramai-ramai. Burungnya gogik, besar pantangan yang dilakukannya, pratamapayan (periuk = jambangan), candinya di depan, besar perbuatannya, sengsara, sedih, penuh dengan keprihatinan, bulannya pada wuku Watugunung seperti  bintang bulan siang hari terang hatinya, tetapi tidak memiliki cahaya. Waktu bahayanya terikat tergantung terikat sampai kelak kemudian.

Patutlah ia bayar/ditebus dengan banten, dagingnya kaki empat yang mulus diolah selengkapnya, nasi liwetan/bubur acatu, jajannya gagodoh, sayur-sayuran selengkapnya, bumbunya manis, ikannya sayurannya sesuai dengan rasanya, doanya menuju keselamatan dirinya, gedongnya menuju keselamatan kala, selama wuku watugunung jangan bepergian berpapasan dengan kala. Selesai.

 

Selesai ditulis pada hari kamis, umanis, wuku matal, tanggal ping 4, sasih kapat roh, O, tenggek 1 tahun saka 1910 Warsaning loka.

 




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga