Tutur Gong Besi, Pinugrahan dari Bhatara Dalem


Terjemahan dan penjelasannya :

Lagi mengenai orang ngaben, setelah naik di kuburan, dengan banten lengkap, adegan perwujudan orang yang mati itu sulit tata pelaksanaan upacaranya. Jika orang (yang mengantar upacara) tidak mengetahui prihal sekala-niskala (nyata dan tidak nyata), pekerjaan itu tidak akan berhasil katanya. Adapun atma si mati Sanghyang Kala Mretyu Jiwa namanya. Yang menerima atma si mati adalah I Dewa Dalêm Rajapati. Itulah yang patut dipuja. Jikā atma si mati diijinkan oleh beliau berdua yaitu Sanghyang (Kala) Mretyu Jiwa dan I Dewa Dalêm Rajapati, dan ia diijinkan menghadirkan Sanghyang Atma, pastilah sang atma datang.

Jika tidak demikian, maka tidak akan datang sang atma, tidak akan berhasil pekerjaan itu katanya. (Hal ini sama artinya) harta benda dibuang-buang dijalan raya. Janganlah hanya mengandalkan penyelenggaraan upacara, mempergunakan genta, pun pula brahmana, jika tidak demikian (mengetahui sakaia-niskala), tidak akan berhasil pekerjaannya. Janganlah tidak memperhatikan kata-kata Rsi yang telah sempurna yoga dan bratanya.

Ini kata-kata permohonan untuk menebus sang Pirata (atma simati), mantra:

Ih kaki empu atma, pwukulun angoda lana atmane si anu, ki atmane si anu, sabyantara anyusup adegan ipun, poma.

Setelah tiba di rumah, permaklumkan kepada Bhatara semua. Ini kata-katanya, mantra:

Ih pwukulun paduka Bhatara, wong manusa pwukulun, wus kawiturana pangaweruh, paduka bhatara, atman pun si anu, ingudalaken saking pasasenetan, wus kawinugraha ring I Dewa Dalêm Rajapati, anusup adegane sang byantara, poma sami paduka poma.

Lagi pada saat memandikan adeganeya, stanakan orang itu, lalu bersihkan, ini air untuk memandikān adegannya. Ini mantra untuk membangunkan aimya:

Ih sanghyang tirtha suci, atangya ta sira anak ira arsa adyus, payu atunggalan lawan ingsun, poma.

Bila sudah tiba waktu pelaksanaan ‘makutang’ (ngaben), mohonkan kepada dewa semua, begini kata-katanya, mantra:

Ih pwukulun paduka bhatara, manusa paduka anuhun pamit, ring paduka bhatara, kaula mulih maring lepas, poma.

Lagi saat menaikkan ke ‘wadah’ (menara usungan), mantra:

Ih tabe Ibu Pretiwi, mwah Bapa Akasa, anak ira munggah maring salu, lah tabe ingsun, pwukulun tabe, 3, lah poma, tabe.

Pada saat membakar ini mantranya:

Ong Ang Brahma ya nama swaha, pwukulun Sanghyang Geni Prakasa, angesengana watang kurungane si anu, tekaning sebel kandel ipun, tekaning papecakaning sarira, lebur geseng atemahan awu, Ang Ang Ang, 3.

Memasukkan (abu jenazah) ke dalam kelapa muda, mantra:

Om gni mirah, angeseng kurungan mas, awune mulih maring cucupu manik, bresih hening, 3.

Memasukkan ke laut, mantra:

Ih Wisnu mumbul, tirtha suci toya akrantun, eling sira asanak lawan manusa, manusa tunggalan sira, sira tunggal ring manusa, Swarganira maring bayu, bayu mulih maring manusa, hening pada hening, suci pada suci, sukla pada sukla, pada nemu rasaning swarga, poma.

Ngerorasin, mantra:

Om Ang Ung Mang. Ang Ung Mang, Om Ang Ah, pwukulun Ibu Pritiwi, Bapa Akasa, Sanghyang Ulan Lintang Tranggana, kaki empu atmada ring swargan, sareng Widyadari Widyadara, yan sampun tutug wates ipun, ateh mulih manumadi, maring manusa ring damuhnya, makta tuwuh makta urip, poma.

Kutipan diatas menjelaskan tentang urutan prosesi mengupacarai orang yang telah meninggal, prosesi tersebut memiliki tahapan yang teratur dan terstruktur sehingga tidaklah baik melaksanakan kegiatan tersebut secara acak harus memulai dari menebus atma di kuburan, memandikan adegan, menaikkan ke Bade, mekutang atau ngaben, memasukkan abu jenasah kedalam Bungkak, Nganyut, Hingga ngeroras, dan dalam tiap tahapan tersebut memiliki mantra tersendiri yang harus diucapkan dengan benar pada setiap prosesinya dan tidak boleh tertukar demi kesuksesan upacara kematian tersebut.

Waktu Pelaksanaan Upacara

Berikutnya akan membahas mengenai waktu pelaksanaan upacara tersebut. Melaksanakan suatu upacara tentu akan berpatokan dengan waktu atau Dawuh. Hindu dalam ajaran wariganya mengetahui adanya pembagian waktu yaitu dina, wuku, dan sasih. Teks Tutur Gong Besi memaparkan tentang pembagian sasih yang baik dalam melakukan upacara kematian tersebut, kutipannya sebagai berikut:

Yan, ing śaśih, ka, 1, ka, 2, ka, 3, ka, 9, ka, 10, destā, sadhā, irika ngutara yanā Sanghyang Śūrya, malih śaśih, ka 4, mabênêng Sanghyang Śūrya ring akasa, yaning…. Śaśih, ka, 5, ka, 6, ka, 7, ring dakśiṇā Sanghyang Śūrya, yan ing śaśih, ka, 8, mênêng ring akaśā Sanghyang Śūrya, nga, ikā kawêruhakna denya, yan śaśih, ka, 1, nguntarayanā Sanghyang Sūrya, menga pabahaning Wiśṇu, pabahaning Wiśṇu, pabahaning pitåêloka, nga, ayu mandewa yadnya, nga.
Yan ing śaśih, ka, 2, ka, 3, ikā mênga pabahaning yamaloka, mwang pitraloka, apan ngatimang pelakunya yamaloka, mwang pitraloka, apan ngatimang palakunya Sanghyang Sūrya, mainêb ikang swargan, bhaþāra, nga, ayu amuja pitra, nga, yan amuja Hyang mwang dewa, kambang panggih.
Artinya :
Kalau pada bulan 1 = Kasa (Juli), 2 = Karo (Agustus), 3 = Katiga (September), 9 = Kasanga (Maret), 10 = Kadasa (April), 11 = Destha (Mei), 12 = Sadha (Juni), pada waktu itu bergerak ke utara matahari itu.
Lagi pada bulan 4 = Kapat (Oktober) tepat di garis katulistiwa matahari itu. Kalau pada bulan 5 = Kalima (Nopember), 6 = Kanem (Desember),7 = Kapitu (Januari), di selatan garis katulistiwa matahari itu. Pada bulan 8 = Kawulu (Pebruari) lagi matahari itu tepat di garis katulistiwa. Itu hendaknya diketahui.
Kalau pada bulan 1 = Kasa (Juli), berjalan ke utara matahari, terbukalah pintu Wisnuloka (Sorganya Bhatara Wisnu), pintunya Pitraloka (Sorganya para Pitara), pada bulan ini sangat baik untuk melaksanakan Dewa Yajna. Kalau pada bulan ke 2 = Karo (Agustus), ke 3 = Katiga (September), pada waktu itu terbuka pintunya Yamaloka (Sorganya Bhatara Yama) dan Pitraloka (Sorganya para Pitra), sebab timpang perjalanan matahari, tertutup Sorganya Bhatara namanya, baik untuk memuja Pitra namanya. Kalau memuja Hyang (Tuhan) dan Dewa, tidak jelas (mengambang) hasilnya dinikmati.

Kutipan di atas memaparkan tentang baiknya melakukan upacara kematian tersebut pada sasih Karo atau bulan agustus hingga sasih Katiga atau bulan September, hal itu dikarenakan perpindahan tata letak matahari menuju utara yang berakibat pada terbukanya pintu Dewa Yama selaku Dewa yang menerima roh seseorang yang telah meninggal, maka dari itulah disarankan pada sasih tersebutlah upacara pitra yadnya dilaksanakan.

 




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga