Pengider Bhuana dan Wariga di Lontar Kanda Sangalukun


Download Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Info Akun

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini


2. Konsep Padewasan

Aspek-aspek lain yang dimaksud berupa ajaran-ajaran tentang konsep Padewasan (baik-buruknya waktu), ajaran tentang Dharma Pewayangan (aturan-aturan menjadi seorang dalang/orang yang mementaskan/memainkan/menarikan wayang), ajaran tentang hakikat kelepasan, ajaran tentang hakikat jiwa yang ada pada badan, dan ajaran tentang hakikat Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Keseluruhan ajaran-ajaran tersebut diungkapkan menjadi satu kesatuan tak terpisahkan yang diungkapkan dalam tutur Kanda Sangalukun sebagai berikut:

Ketentuan atau dasar hukum ilmu wariga termuat dalam lontar Wariga Gemet sebagai berikut: Wewaran halah dening Wuku, Wuku halah dening tanggal/Panglong, Penanggal/Panglong halah dening Sasih, Sasih halah dening Dawuh, Dawuh halah dening Hning. Wetunya Sanghyang Tridasa Saksi.

Maksud dari ketentuan diatas bahwa akhirnya semua dapat diatasi dengan 13 kekuatan atau manifestasi Tuhan (kesucian bhatin yang merupakan perwujudan Tridasasakti yang disebut juga Sanghyang Trayodasha Sakti : Aditya (matahari), Candra (bulan), Anila, Agni (api), Apah (cair),   Akasa (ruang/langit), Pretiwi (padat/bumi), Atma, Yama (sabdha), Ahas (siang), Ratri (malam),  Sandhya (senja), Dwaya (pagi). Sehingga dapat disebutkan bahwa, yang berperan dalam Wariga adalah: Pertama; manah (pikiran) yang hening, kedua; dalam wariga adalah dawuh (waktu), ketiga; adalah  Sasih, keempat; adalah tanggal/panglong, kelima; adalah perhitungan Wuku, keenam; adalah Wewaran. Dari ilmu Wariga dapat ditentukan dauh ayu (hari baik) atau Padewasan, yang dapat dibedakan menjadi : Untuk kepentingan sehari-hari; cukup dengan perhitungan hari dan pawukon saja, untuk kepentingan jangka lama/berkala; seperti di atas ditambah perhitungan baik buruknya tanggal/panglong, sasih bahkan dawuh, untuk padewasan berkala sebaiknya mohon pada Sulinggih (orang suci) atau yang bekompeten untuk itu. Untuk susksesnya suatu pekerjaan sangat tergantung dari kesepakatan dari Sang Tri Manggalaning Yadnya yaitu: Sang Yajamana; orang yang beryadnya, Sang Widya; penyelenggara (tukang/Serati), Sang Sadaka; Sang Sulinggih (orang suci) yang akan menyelesaikan (muput) jalannya suatu upacara.

Hal-hal yang dipelajari dalam ilmu Wariga diantaranya; Wewaran, Wuku, Tanggal dan Pengelong, Sasih, dan Dauh/dedauhan.

Yang dimaksud dengan Wewaran adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, dan seterusnya, yang masing-masing mempunyai urip/neptu, tempat, dan Dewata yang dominan. Wewaran berasal dari kata “wara” yang dapat diartikan sebagai hari, seperti hari senin, selasa dan seterusnya. Masa perputaran satu siklus tidak sama cara menghimpunnya. Semua unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasan (baik- buruknya dewasa). Siklus ini dikenal misalnya dalam sistem kalender Hindu dengan istilah bilangan, sebagai berikut: (1) Eka Wara; luang (tunggal), (2) Dwi wara; menga (terbuka), pepet (tertutup), (3) Tri wara; pasah, beteng, kajeng, (4) Catur Wara; sri (makmur), laba (pemberian), jaya (unggul), menala (sekitar daerah), (5) Panca Wara; umanis (penggerak), paing (pencipta), pon (penguasa), wage (pemelihara), kliwon (pelebur), (6) Sad Wara; tungleh (tak kekal), aryang (kurus), urukung (punah), paniron (gemuk), was (kuat), maulu (membiak), (7) Sapta Wara; redite (minggu), soma (senin), anggara (selasa), budha (rabu), wrihaspati (kamis), sukra (jumat), saniscara (sabtu). Jejepan; mina (ikan), taru (kayu), sato (binatang), patra (tumbuhan menjalar), wong (manusia), paksi (burung), (8) Asta Wara; sri (makmur), indra (indah), guru (tuntunan), yama (adil), ludra (pelebur), brahma (pencipta), kala (nilai), uma (pemelihara), (9) Sanga Wara; dangu (antara terang dan gelap), jangur (antara jadi dan batal), gigis (sederhana), nohan (gembira), ogan (bingung), erangan (dendam), urungan (batal), tulus (langsung/lancar), dadi (jadi), (10) Dasa Wara; pandita (bijaksana), pati (dinamis), suka (periang),   duka (jiwa seni/mudah tersinggung), sri (kewanitaan), manuh (taat/menurut), manusa (sosial), raja (kepemimpinan), dewa (berbudi luhur), raksasa (keras). Disamping pembagian siklus yang merupakan pembagian masa dengan nama-namanya, lebih jauh tiap wewaran dianggap memiliki nilai yang dipergunakan untuk menentukan ukuran baik-buruknya suatu hari. Nilai itu disebut urip atau neptu yang bersifat tetap. Karena itu nilainya harus dihafalkan.

Disamping perhitungan hari berdasarkan wara sistem kalender yang dipergunakan dalam Wariga dikenal pula perhitungan atas dasar wuku (buku) dimana satu wuku memiliki umur tujuh hari, dimulai hari minggu (raditya/redite). Setiap wuku juga mempunyai urip/ neptu, tempat dan Dewa yang dominan, juga kesemuanya unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasan. 1 Tahun kalender pawukon = 30 wuku, sehingga 1 Tahun wuku = 30 x 7 hari = 210 hari. Adapun nama-nama wukunya sebagai berikut: Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Taulu, Gumbreg, Wariga, Warigadean, Julungwangi, Sungsang, Dunggulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan, Matal, Uye, Menail, Prangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Klawu, Dukut dan Watugunung.

Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut dengan Penanggal dan Pangelong. Masing masing siklusnya adalah 15 hari. Perhitungan penanggal dimulai 1 hari setelah (H+1) hari tilem (bulan mati) dan panglong dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh). Padewasan yang berhubungan dengan tanggal pangelong dibagi dalam empat kelompok, yaitu: (1) Padewasan menurut catur laba (empat akibat: baik-buruk-berhasil-gagal), (2) Padewasan berdasarkan penanggal untuk pawiwahan (perkawinan) misalnya hindari menikah pada penanggal ping empat karena akan berakibat cepat jadi janda atau duda, (3) Padewasan berdasarkan pangelong untuk pawiwahan (perkawinan) misalnya hindari pangelong ping limolas karena akan berakibat tak putus-putusnya menderita, (4) Padewasan berdasarkan wewaran, penanggal, dan pangelong misalnya: Amerta Dewa, yaitu Sukra (hari jumat) penanggal ping roras, baik untuk semua upacara.

Sasih secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan. Sama sepertinya kalender internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun, perhitungannya menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 Maret. Padewasan menurut sasih dikelompokkan dalam beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun, pawiwahan (pernikahan), yadnya, dan lain sebagainya. Adapun pembagian sasih tersebut adalah; (1) Kedasa = Mesa = Maret – April, (2) Jiyestha = Wresaba = April – Mei, (3) Sadha = Mintuna = Mei – Juni, (4) Kasa = Rekata = Juni – Juli, (5) Karo = Singa = Juli – Agustus, (6) Ketiga = Kania = Agustus – September, (7) Kapat = Tula = September – Oktober, (8) Kelima = Mercika = Oktober – November, (9) Kenem = Danuh = November – Desember, (10) Kepitu = Mekara = Desember – Januari, (11) Kewulu = Kumba = Januari – Februari, dan (12) Kesanga = Mina = Februari – Maret.

Dauh/dedauhan Merupakan pembagian waktu dalam satu hari. Sehingga dedauhan ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan maka pergantian hari secara Hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WITA). Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh, antara lain; (1) Redite = siang; 7.00 – 7.54 dan 10.18 – 12.42, malam; 22.18 – 24.42 dan 3.06 – 4.00, (2) Soma = siang; 7.54 – 10.18, malam; 24.42 – 3.06, (3) Anggara = siang; 10.00 – 11.30 dan 13.00 – 15.06, malam; 19.54 – 22.00 dan 23.30 – 1.00, (4) Buda = siang; 7.54 – 8.30 dan 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30 dan 2.30 – 3.06, (5) Wraspati  =  siang;  5.30  –  7.54  dan  12.42  –    14.30, malam; 20.30 – 22.18 dan 3.06 – 5.30, (6) Sukra = siang; 8.30 – 10.18 dan 16.00 – 17.30, malam;   17.30 – 19.00 dan 24.42 – 2.30, dan (7) Saniscara = siang; 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30. Menggunakan dawuh sebagai acuan kegiatan dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu: (1) Dawuh Sekaranti (berdasarkan jumlah urip Saptawara dan Pancawara, dikaitkan dengan penanggal/ pangelong, selama siang hari saja/ 12 jam dalam lima dawuh), (2) Panca Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh), (3) Astha Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi delapan dawuh), (4) Dawuh Kutila Lima (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh dikaitkan dengan penanggal dan pangelong), (5) Dawuh Inti yaitu waktu yang tepat berdasarkan pertemuan Panca Dawuh dengan Astha dawuh.

Yang dimaksud dengan kodrat adalah kehendak Hyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa mengatur dan menetapkan segalanya. dan semua itu bisa berjalan dengan yadnya yang berdasarkan manah (pikiran) hening suci nirmala. Dalam pengertian ini ditafsirkan bahwa ala ayuning dewasa dapat dikecualikan dalam keadaan yang sangat mendesak, tetapi menggunakan upacara dan upakara tertentu. Misalnya jika tidak dapat dihindarkan melaksanakan upacara penguburan mayat secara massal sebagai korban peperangan, huru-hara, dan lain sebagainya, maka Padewasan dapat dikecualikan dengan upacara maguru piduka, macaru ala dewasa, mapiuning di Pura Dalem, Ngererebuin, dan lain sebagainya. Yang dimaksud dengan kalimat “alah dening” adalah “kalah dengan” atau ditafsirkan lebih lengkap sebagai “pertimbangkan juga…” Pelaksanaan padewasan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu:

  • Padewasan sadina artinya sehari-hari, dan
  • Padewasan masa artinya Padewasan sadina ditentukan  oleh Wewaran  dan Pawukon  (wuku). Semut  Sadulur adalah  padewasan  menurut Pawukon, pada saat mana terjadi pertemuan urip Pancawara dan urip Saptawara menjadi 13 (tiga belas) beruntun tiga kali, yaitu: Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon. Hari-hari itu jatuh pada Wuku: Kulantir, Tolu, Julungwangi, Sungsang, Medangsia, Pujut, Tambir, Medangkungan, Prangbakat, Bala, Dukut, dan Watugunung.

Kala gotongan adalah pertemuan urip Saptawara dan urip Pancawara 14 (empat belas), yaitu Sukra Kliwon pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; Saniscara Umanis pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; dan Redite Paing pada Wuku: Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, dan Ugu. Di samping itu ada juga dewasa yang tidak baik untuk atiwa-tiwa (Pitra Yadnya/Ngaben) menurut Pawukon, yaitu: Dungulan, Kuningan, Langkir, dan Pujut, meskipun dalam Wuku itu ada hari-hari yang bukan Semut Sadulur atau Kala Gotongan; jika untuk mengubur mayat atau makingsan di gni saja masih dibolehkan.

Semua kehidupan di Dunia ini tidak terlepas dari pengaruh waktu dan keadaan alam. Begitu pula dengan aktifitas keseharian orang Bali yang selalu berpedoman pada dewasa. Dan khusus untuk waktu (dewasa) kelahiran akan berpengaruh terhadap perwatakan seseorang, terutama saat pemotongan tali pusarnya. Saat kelahiran terjadi, merupakan awal masuknya unsur-unsur zat yang terkandung  di Bhuwana Agung ke dalam Bhuwana Alit, dan sekaligus menandai berakhirnya seluruh suplai sari-sari makanan dari sang ibu kepada si jabang bayi melalui tali pusar. Itulah pertanda awal sang bayi menghirup udara langsung dari alam semesta.

Sejatinya, tidak ada yang kekal dalam alam fana ini kecuali perubahan. Setiap detik terjadi perubahan pada jiwa dan raga manusia secara kodrati. Maksudnya, kodrat hidup sebagai manusia selalu berubah dan ada batasannya, yakni saat terlahir adalah ringan belum mengerti tentang kehidupan. Kemudian bertumbuh menjadi anak remaja, dewasa, bertambah berat mulai mengerti tentang kehidupan, dijejali dengan kenikmatan duniawi. Selanjutnya, akan kembali menjadi ringan, pada batas akhir kehidupan di dunia, menjauhi kenikmatan dunia terhadap ragawi, serta melepas keterikatan sanak keluarga yang membebani pikiran.

Oleh sebab itu, hidup di Dunia hanya sebagai suatu proses pemurnian bagi sang jiwa dengan adanya suatu proses tersebut, maka tidak bisa lepas dari hakikat sang waktu. Segalanya akan tunduk pada sang waktu, hanya dengan menyadari akan hal ini hendaknya kehidupan ini dipergunakan untuk berbuat baik sesuai dengan ajaran Agama Hindu sehingga dalam proses pendakian spiritual yang panjang bahkan melewati siklus reinkarnasi/punarbhawa berkali-kali akan membawa sang jiwa pada titik kemurniannya dan menyatu dengan sumbernya yang maha tunggal yaitu Brahman/Tuhan Yang Maha Esa.



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

FACEBOOK COMMENT