Pengider Bhuana dan Wariga di Lontar Kanda Sangalukun


Download Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Info Akun

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini


4. Konsep Kelepasan

Secara keseluruhan karya sastra klasik sebagian besar memuat pedoman dan pandangan yang tajam terhadap ajaran spiritual. Secara umum prinsip semacam ini dapat memberikan konsep yang riil terhadap fungsi banyaknya umum terhadap sikap yang abstrak. Maka dengan demikian konsepsi ajaran yang memuat prinsip kelepasan harus dapat dipercaya dengan penuh keyakinan. Melalui konsep yang demikianlah lepasnya ātma dari tubuh manusia untuk dapat bersatu dengan Tuhan memberikan dasar keyakinan batiniah di hati manusia. Berbicara masalah konsepsi ajaran kelepasan yang terdapat dalam teks tutur Kanda Sangalukun adalah ajaran yang sangat tinggi yang memuat ajaran tentang rahasia Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (alam kecil atau tubuh manusia).

Secara prinsip ajaran kelepasan merupakan ajaran yang rahasia. Maka dengan demikian metode pengajarannya pun bersifat rahasia jnanam yang berarti seseorang tidak sembarangan bisa memahami ajaran kelepasan tersebut. Pada umumnya bentuk ajaran kelepasan merupakan ajaran yang sudah tua yang sudah diajarkan pada masa kerajaan Majapahit. Pada waktu itulah seorang pujangga  besar menyadur lontar-lontar yang berbahasa Jawa Kuno maupun berbahasa Sanskerta untuk memudahkan kalangan masyarakat memahaminya. Konsepsi ajaran kelepasan yang bersifat original  benar-benar sangat dirahasiakan karena ajaran semacam ini hanya bisa berlaku di lingkungan tertentu.

Di dalam lontar tutur Kanda Sangalukun disebutkan ajaran kelepasan/kamoksan. Walaupun pemaparannya tidak secara mendetail, namun di dalamnya tersirat makna kelepasan yang sangat rahasyam tidak sembarang orang dapat memahami dan mengalaminya.

Berdasarkan kutipan teks tutur Kanda Sangalukun di atas disebutkan bahwa Sang Hyang Taya adalah sebutan lain untuk Tuhan itu sendiri. Tuhan Yang Maha Esa memiliki banyak sebutan yang sering dijumpai pada lontar-lontar yang ada di Bali diantaranya; Sang Hyang Taya, Sang Hyang Licin, Hyang Nirbana, Hyang Tunggal, dan masih banyak sebutan yang lainnya. Pada prinsipnya, kelepasan atau kamoksan adalah kondisi menyatunya ātman dengan Brahman.

Adanya Pengider Bhuana menunjukkan bahwa Siwa yang menguasai arah Tengah sebagai pusat dari segala arah, maka sesuai dengan paham Siwa Siddhanta yang berkembang di Bali semakin memperkuat keyakinan Umat Hindu bahwa Siwa adalah pusat atau sumber dari setiap ciptaan-Nya, maka Siwa adalah Brahman itu sendiri dan merupakan tujuan akhir dari kehidupan ini yang disebut dengan kelepasan atau moksa.

Kelepasan/kamoksan adalah menyatunya ātman dengan Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa) sebagai sumber penyebab segala kehidupan di Dunia, yang merupakan esensi tertinggi yang kekal abadi, secara umum, moksa merupakan tujuan akhir hidup manusia, lebih-lebih bagi penekun  spiritual, demikian pula wiku, merupakan hakikat hidup yang sejatinya sangat patut diusahakan agar mampu dicapai. Kelepasan/kamoksan tidak lagi mendatangkan esensi dunia maya yang penuh dengan belenggu yang menyebabkan manusia berputar-putar pada lingkaran reinkarnasi. Dengan demikian, kelepasan/kamoksan adalah kedamaian abadi yang kekal, yang tidak terlahirkan kembali. Maka dari itu memang benar adanya bahwa tujuan tertinggi Agama Hindu adalah untuk mencapai moksa/kebahagiaan abadi (mokshatam jagaditha ya ca iti dharma) baik semasih hidup di Dunia maupun setelah kematian manusia.

5. Konsep Hakikat Jiwa Dalam

Adapun naskah tutur Kanda Sangalukun yang mengungkapkan tentang keberadaan ātman dapat dipahami dari kutipan naskah tutur Kanda Sangalukun (1b- 8b).

Agama Hindu meyakini bahwa jiwa disepadankan dengan ātman, ātman yang menghidupi badan disebut jiwātman. Esensi ātman adalah entitas yang menghidupi setiap badan pada makhluk hidup. Keyakinan terhadap adanya ātman merupakan Sraddha yang kedua dalam Panca Sraddha. Analogi sederhana yang perlu dipaparkan guna mempermudah pemahaman mengenai ātman yaitu bahwa ātman merupakan mesin yang dapat menghidupi dan memfungsikan tubuh manusia sesuai dengan tugasnya masing-masing, seperti halnya panca indriya yang bertugas sesuai dengan fungsinya karena berkat adanya ātman. Semua makhluk dapat hidup sesungguhnya ātmanlah sebagai penyebabnya, sedangkan ātman adalah percikan kecil dari Paramātman. Bila ātman meninggalkan badan maka makhluk itu  mati.

Bila ātman sudah tidak ada dalam tubuh maka unsur-unsur pembentuk tubuh pun hancur kembali pada asalnya. Badan adalah prakrti dan jiwa adalah purusha, dua unsur yang menyebabkan terjadinya kehidupan. ātman adalah jiwa atau roh. Dalam kitab suci Weda dinyatakan bahwa ātman adalah bagian dari Tuhan Yang Maha Esa. Sloka yang berbunyi “Brahman Ātman Aikyam” terdapat dalam kitab Upanisad yang artinya Brahman dan ātman adalah tunggal. ātman diumpamakan sebagai seberkas cahaya matahari yang terpancar ke seluruh alam semesta yang berasal dari satu bersumber tunggal yaitu matahari itu sendiri. Seperti itulah adanya ātman yang sesungguhnya berasal dari Brahman, kemudian merasuki serta memberi penyebab hidup pada badan jasmani dari setiap makhluk.

Nama lain dari ātman adalah Siwātman atau Jiwātman, yakni jiwa yang berasal dari Tuhan dalam fungsi memberi energi kehidupan bagi semua makhluk hidup, serta memberikan kekuatan hidup bagi alam semesta sebagai tempat hidup setiap makhluk. Oleh karena itu, berbicara ātman tidak terlepas dari pembahasan tentang Tuhan, maka ātman pun sama seperti sifat-sifat Tuhan yakni bersifat gaib, tidak mengenal kelahiran, kematian, kekal abadi.

Sesungguhnya pikiran dan semua aspek panca indriya manusia tak akan sanggup memberikan definisi yang sempurna untuk hakikat ātman yang sejati, atau dengan bahasa lainnya segala bentuk pemaknaan terhadap ātman berada di luar batas pikiran dan panca indriya manusia, sejatinya pemberian nama, ciri-ciri, serta sifat terhadap hakikat ātman semata-mata hanya untuk mempermudah alam pikiran dan panca indriya untuk memahaminya sesuai dengan sifat alam pikiran manusia dan panca indriya yang serba terbatas, maka menyadari akan hal itu ada benarnya sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa suatu keyakinan menyangkut sebuah rasa. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman spiritual yang berbeda-beda pada setiap orang akan memberikan sebuah rasa yang memperkuat keyakinannya dalam beragama yang tak dapat diukur dan tak dapat dinilai dengan apapun. Begitu pun dengan keyakinan terhadap adanya ātman sebagai bagian dari Brahman/Tuhan Yang Maha Esa dapat dirasakan  dan diyakini melalui pengalaman-pengalaman spiritual yang berbeda-beda pada setiap orang.

Demikian gaibnya ātman itu, ātman yang berasal dari Brahman/Tuhan Yang Maha Esa mempunyai sifat “Antarjyotih” (bersinar tidak ada yang menyinari, tanpa awal dan tanpa akhir, dan sempurna).

Jadi sumber yang menjadikan setiap makhluk dapat hidup adalah ātman, sedangkan ātman sebagai sumber hidup memerlukan alat yang akan dihidupi yakni alam pikiran dan badan wadagnya. Oleh karena itu, ātman memiliki peranan yang amat penting karena ātman itu yang bersifat abadi tidak mengalami kematian dan terus ada, sedangkan badan itu yang tidak kekal sewaktu-waktu dapat hancur maka ātmanlah yang menerima akibat dari kehidupan jasmani maupun rokhani dari pada makhluk tersebut dan bertanggungjawab terhadap akibat kehidupan jasmani itu.

Menyadari sifat ātman yang amat sempurna, maka manusia hidup ke dunia bertujuan untuk melepaskan ātman dari kekangan dan ikatan duniawi berupa siklus kelahiran berulang-ulang akibat kegelapan dan kebodohan (awidhya) yang mengelabui kesadaran sejati yang dimiliki oleh ātman. Kegelapan dan kebodohan inilah yang menyisakan hasil perbuatan manusia selama hidup yang disebut karma  wasana.  Dengan  berbuat  baik  (subha  karma)  sebagai  salah  satu  sifat  Brahman  akan   lebih mendekatkan ātman kepada kesadaran Brahman, dengan berbuat baik atas dasar ketekunan,  keuletan, dan pengabdian maka ātman berada pada kesadaran aslinya yaitu sempurna dan kekal abadi sama seperti Brahman sehingga ātman dapat terbebas dari ikatan duniawi dan kembali menyatu dengan Brahman/Tuhan Yang Maha Esa.



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

FACEBOOK COMMENT