Runtutan Upacara Ngaben Arya Kubon Tubuh


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Menurut lontar “Tutur Saraswati” (Sudarsana; 2008:37), kata ngaringkes berasal dari kata “ringkes” yang maksudnya dibulatkan menjadi satu atau menjadi tunggal. Sesungguhnya manusia berasal dari “Ongkara Sunya”, kemudian bermanifestasi menjadi “Ongkara Mula”, dan dari sini bermanifestasi lagi menjadi sastra “Modre”, Nuriastra (Wreastra), dan menjadi sastra “Swalalitha”, sehingga memiliki sebutan “Manusa”. Kemudian dari ketiga bentuk sastra ini bermanifestasi menjadi 108 aksara suci untuk memberikan kekuatan terhdap semua organ tubuh yang ada. Sebagai contoh dari salah satu komponen aksara suci Wreasta adalah sebagai berikut:

  1. Aksara A, memberikan kekuatannya pada Ati Putih
  2. Aksara NA, memberikan kekuatannya pada Nabi (Puser)
  3. Aksara CA, memberikan kekuatannya pada Cekokang Gulu (Ujung Leher)
  4. Aksara RA, memberikan kekuatannya pada Tulang Dada (seperti bentuk senjata Keris)
  5. Aksara KA, memberikan kekuatannya pada Pangrenga (Kuping)
  6. Aksara DA, memberikan kekuatannya pada daerah Dada
  7. Aksada TA, memberikan kekuatannya pada Netra (Mata)
  8. Aksara SA, memberikan kekuatannya pada Sebuku-buku (Persendian)
  9. Aksara WA, memberikan kekuatannya pada Uluati (Madya)
  10. Aksara LA, memberikan kekuatannya pada Lambe (Bibir)
  11. Aksara MA, memberikan kekuatannya pada Cangkem (Mulut)
  12. Aksara GA, memberikan kekuatannya pada Gigir (Punggung)
  13. Aksara BA, memberikan kekuatannya pada Bahu (Pangkal Leher)
  14. Aksara NGA, memberikan kekuatannya pada Irung (Hidung)
  15. Aksara PA, memberikan kekuatannya pada Pupu (Paha)
  16. Aksara JA, memberikan kekuatannya pada Jejaringan (Penutup Usus)
  17. Aksara YA, memberikan kekuatannya pada Nyali (Empedu)
  18. Aksara NYA, memberikan kekuatannya pada Kama (Smara)

Aksara suci di atas, sudah dapat memberikan suatu pengertian bahwa, semua dari organ tubuh manusia adalah merupakan aksara suci tak tertulis (sastra tanpa tulis) atau disebut dengan “Sastra Dirga”.

Sesungguhnya asal dari dosa dan moksah manusia adalah tergantung dari mampu atau tidaknya manusia itu sendiri mempertahankan kesucian dari aksara sucinya yang dikaruniai oleh Sang Hyang Widhi. Melihat dari sinilah maka ajaran Agama Hindu menuntut umatnya agar setiap saat mampu meningkatkan kesucian diri dari segala aspek kehidupan, setelah meninggalkan dunia, aksara-aksara tersebut disucikan, serta dikembalikan ke bentuk tunggal yaitu ke “Aksara Ongkara Mula”. Hal itulah yang disebut dengan kata “Ngaringkes”.

Mengacu pada pengertian tentang ngaringkes seperti yang dipaparkan diatas, upacara ngaringkes dalam kaitannya dengan upacara ngaben memiliki nilai religius. Upacara ngaringkes yang dilakukan dalam rangkaian upacara ngaben adalah prosesi dari memandikan jenazah sampai dengan diberi pakaian seperti orang masih hidup, sebagai tanda penghormatan kepada almarhum dan diteruskan dengan persiapan muspa, dan diteruskan memohon kehadapan Sang Hyang Siwa Raditya, tirtha panglukatan pabresihan untuk dipercikan ke jenazah, diayab banten seperti : bubur pirata, nasi angkeb, saji sebagai bekal roh yang akan meninggalkan dunia ini.

Bagian akhir dari rangkaian ini adalah Ngunggahang Tumpang Salu, dimana Tumpang Salu sendiri adalah tempat dimana sawa yang ada dalam peti bandusa mendapatkan penyucian (samskara) oleh Pandita.

Tumpang Salu ini dibuat dari bambu gading. Balainya diikat dengan kawat panca datu yaitu emas, perak, tembaga, timah, dan besi. Dengan demikian, balainya merupakan simbol dari bumi. Dinding belakangnya bertumpang. Oleh karenanya bale ini disebut Tumpang Salu. Tumpang Salu merupakan pelinggihan sawa dan rohnya. Ia diibaratkan Naga Tatsaka yang akan menerbangkan roh.

9. Melaspas Pangiriman

Secara sederhana upacara melaspas adalah bertujuan untuk menyucikan benda (perangkat upakara) berupa pangiriman yang dipergunakan sebagai tempat pengusungan sekah dan kajang menuju kuburan. Pemelaspasan bukan hanya berarti penyucian, melainkan menjadikannya sakral, juga bertujuan meng utpati atau menghidupkan, selesai dipelaspas status pangiriman tersebut sebagai sarana secara religius merupakan wadah (alat angkut) yang hidup.

Sarana upakara tersebut tidak lagi hanya sekedar himpunan kayu, bambu, kain, kertas, kapas, sebagai barang mati. Namun dengan sarana upakara dan tirta pemelaspas, pangiriman menjadi bhawa (suatu yang hidup). Dengan pengertian lain juga dimaksudkan untuk mempertemukan sekala lawan niskala, unsur sekalanya berupa bangunan pangiriman, dan unsur niskalanya adalah dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Adapun rincian upakaranya adalah sebagai berikut :

  • Peras, daksina, canang soda ditaruh di sanggah cucuk,
  • Tumpeng adulang genep, peras, pengambean, prascita, sorohan tumpeng solas pengulapan dan sesayut.

Pelaksanaan upacara pemelaspasan seperti nampak pada gambar dibawah.

10. Ngaskara

Pangaskaran (pengaskaran; upacara ngaskara; askara) adalah upacara penyucian atma petra menjadi pitara. Ketika kematian terjadi, prakerti (badan kasar) terpisah dengan atma tetapi masih diikuti oleh suksma sarira (alam pikiran, perasaan, keinginan, nafsu), karenanya sebagaimana disebutkan dalam sumber kutipan tata cara indik ngaben, atma ini disebutkan perlu dibersihkan dengan ngaskara. Oleh karena itu atma yang tidak diaben puluhan tahun akan menjadi Bhuta Cuil yang mengganggu kehidupan manusia.

Pelaksanaan ngaben harus diikuti upacara pengaskaran untuk mengembalikan unsure panca maha bhuta secara sempurna, sehingga kesucian dari Sang Petra terus ditingkatkan, dari Petra menjadi Pitra, pitra menjadi Dewa Pitara, kemudian dari status Dewa Pitara menjadi Hyang Pitara atau Betara Hyang.

Pelaksanaan ngaben Warga Dadya Arya Kubontubuh mempunyai kekhasan tersendiri karena pelaksanaannya dilakukan seperti ngelanus versi Ida Pedanda Budha, ditandai dengan perbedaan pada pelaksanaan pengaskaraan yang diawali dengan ngereka sawa karsian. Kelebihan yang dilakukan pada pengaskaraan meliputi sarana dan prosesnya, yaitu dalam hal sarana: menggunakan banten puriagan, banten suluh agung, sekah lilit dan tumaligi untuk semua sawa yang hanya boleh dibuat oleh Tarpini Sulinggih, sedang pada proses, Ida Pedanda Budha melakukan nepak dan penyolsolan sekah lilit dengan bebek putih, ayam putih dan kucit butuan selem.




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga