Upakara Untuk Karang Panes ( Pekarangan Tidak Baik)


2. Caru Penanggulangan Karang Panes

Menurut keyakinan masyarakat Hindu yang ada di Bali bahwa area suatu pekarangan memilki perbedaan dengan masayarakat hindu yang ada di luar Bali. pembangunan rumah sebagai tempat tinggal mempergunakan ukuran sesuai dengan ukuran perhitungan Bali yang disebut dengan Asta Bhumi dan Asta Kosala-KosaliKarang panes  selain diakibatkan oleh letak atau lokasi  tanah juga diakibatkan oleh kesalahan pada waktu mengukur suatu pekarangan. Seperti disebutkan di atas bahwa untuk menanggulangi yang disebut dengan Karang panes yang diakibatkan oleh letak pekarangan yang kurang baik, maka dibuatkan bangunan yang disebut dengan Padma  Andap atau Padma Capah.

Selain  itu dalam lontar Bhama Kretih juga disebutkan upacara dan upakara dalam menaggulangi Karang panes yang disebut dengan caru, seperti tersebut dibawah ini :

… Iki Caru Pengasih Bhuta nga, pamahayu pekarangan, pamahayu sanggar pomahan. Umaparania, ca, tumpeng putih kuning den agung, hinideran sarwa sekar, rakania putih kuning, canang genten, iwaknia satha sudhamalagrungsang kumatandhang mapanggang, muwah itik putih ginuling, mawadah dulang anyar, marajah surya candra. Wus minantra pendhem tengahing natar. Phalania, yan hana wong hakriya hala, salwiring tuju tluh taranjana, leyak prakasa, bhuta kala dengen, mari denia dewa sih bhuta wedhi. Mangkana kramania, haywa sang pandhita mapi tan weruh sastra iki, apan sinilib se Sang Hyang licin, nging haja wera, rahasya temen.

Mwah yan hana kayu rempak, pungkat mwang punggel tan pa karana, pada panese, tan pegat hamilara. Mwah nyuh macarang, bwah macarang, jaka macarang, ntal macarang, byu macarang, mwang wetunya kembar, tunggal panese, kadi kagenibhaya nga, panes Yan hana sanggah pungkat mwah jineng, pawon, pungkat tan pakarana, nwang katiben amuk, kalebon amuk, panca bhya nga, panes. Yan hana hanggawe pungkate, panes karang ika, kewale cacad, tan kawenang malih ingagge, wenang gentpsin lakare sami. Muwah yan hana wong mentik ring babatar ing salu, wong bhaya nga, panes. Yan hana lulut metu ring pekarangan, kalulut bhaya nga, panes. Yan hana getih kentel ring pekarangan, mwang sumirat ring humah ring pakubwan tan pakarana, karaja bhaya nga. Yan hana samangkana, apang sampunang langkungan ring petang dasa dina, mangda puput macaru, dados caru ika halitan. Yan langkung ring petang dasa dina, hageng nagih caru hika kanget akna. 

Lontar Bhama Kretih menyebutkan bahwa jika ada tanda-tanda seperti tersebut di atas hendaknya penghuni pekarangan membuat upakara berupa banten caru dan diharapkan jangan sampai pelaksanaannya lebih dari tiga hari sejak gejala dimaksud diketemukan. Jika pelaksanaan caru kurang dari tiga hari maka upacara dan upakarannya lebih sederhana atai keci misalnya caru ayam brumbun, prayascita durmanggala, beyakaonan. Jika mampu membuatnya buatlah caru yang disebut dengan caru pengasih bhuta. Ini dimaksudkan agar seluruh unsur alam (bhuta) melindungi penghuni pekarangan tersebut. Namun jika upacara dan upakara digelar lebih dari tiga hari sejak gejala tersebut dilaksanakan maka upacara dan upakaranya lebih besar karena diibaratkan penyakit sudah mewabah, ini memerlukan upakara yang lebih besar seperti caru panca sata dan yang sejenisnya.

Caru palemahan adalah upacara untuk mengharmoniskan areal pelataran atau wilayah hunian yangt dilaksanakan berdasarkan waktu baik secara rutin maupun secara insidensial. Caru secara rutin dilaksanakan secara terus menerus seperti kajeng keliwon, piodalan yang dislaksanakan tetap pada kurun waktu tertentu. Sedangkan caru  yang bersifat insidensial dilaksanakan hanya sewaktu-waktu apabila diperlukan dengan tujuan untuk mengharmoniskan atau mengembalikan keseimbangan areal akibat sesuatu yang tidak wajar seperti sakit yang mewabah menimpa penghuninya, terjadi pembunuhan atau bunuh diri. 

 Selain itu menurut Wikarman membagi caru pelemahan seperti Caru Karang panes dan caru kegeringan. Caru Karang panes dengan cirri-ciri sakit tak henti-hentinya yang berakibat kematian, binatang peliharaan selalu terkena penyakit, ataupun disebabkan oleh keadaan areal pekarangan yang tidak sesuai dengan ukuran (sikut) termasuk Karang Panes. Ini wajib diupacarai sesuai dengan petunjuk sastra.


Sumber

I Made Dwitayasa

Universitas Hindu Negeri IGB Sugriwa Denpasar



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga