- 1Padma Bhuwana dan Pengider-Ideran
- 2Smaralaya dan Fase Gestasi Janin
- 3Regulasi Waktu Kosmis
- 3.1Fenomena Uncal Balung dan Pembatasan Ritual
- 3.2Manifestasi Dewata Penguasa 30 Uku
- 3.3Manifestasi Dewata Penguasa 12 Sasih (Bulan)
- 3.4Penguasa 15 Hari Tanggal (Bulan Terang)
- 3.5Kosmogoni Material Deitis
- 4Mitigasi Bencana Teo-Ekologis dan Eksorzisme Bumi
- 5Ritual Atiwa-tiwa dan Transmutasi Atma
- 5.1Prosesi Fisik Atiwa-tiwa
- 5.2Klasifikasi Durasi Cuntaka
- 5.3Eskatologi Evolusioner Atma
- 6Sosiologi Agama : Hukum Pratiloma dan Larangan Adat
- 6.1Regulasi Kematian Tidak Wajar (Salah Pati)
- 6.2Ritus Bayi Cacat (Salah Wtu)
- 6.3Batasan Penggunaan Naga Banda
- 7Terjemahan Lontar Siwa Tattwa Purana
Naskah lontar Siwa Tattwa Purana mengemban misi ganda : sebagai risalah teologis yang menguraikan hakikat kesadaran tertinggi (Cetana) Bhatara Siwa, sekaligus sebagai kitab instruksional praktis yang mengatur tata ritus kehidupan (Samskara) dan kematian (Pitra Yadnya) bagi umat manusia. Teks ini diawali dengan visualisasi teofani di Suralaya atau Siwaloka, di mana Sang Hyang Jagatpati (nama lain dari Bhatara Siwa) memimpin sidang agung bersama seluruh putra-putranya yang diidentifikasi sebagai manifestasi dewata penjaga dimensi ruang dan waktu.
Naskah lontar Siwa Tattwa Purana membuktikan bahwa dokumen kuno ini merupakan sebuah sistem pengetahuan yang sangat terstruktur, komprehensif, dan saling mengikat antara aspek spiritual, ekologis, dan regulasi sosial. Teks ini menegaskan bahwa setiap eksistensi materi di dunia ini dikawal oleh kesadaran kedewataan yang teratur lewat perputaran waktu kosmis Wariga.
Pembatasan ketat seperti masa Uncal Balung dan sanksi berat atas perkawinan Pratiloma memperlihatkan fungsi teks sebagai instrumen penjaga struktur kekuasaan keagamaan tradisional di Bali agar tidak terjadi pencampuran yang merusak sistem nilai spiritual kemurnian darah.
Di sisi lain, kepekaan ekologis yang terkandung dalam konsep mitigasi bencana melalui upacara Eka Dasa Rudra menunjukkan bahwa leluhur Hindu Bali telah memiliki kesadaran sains-spiritual yang sangat tinggi. Kehancuran alam semesta dipahami sebagai akibat langsung dari rusaknya moralitas manusia yang memanaskan tubuh naga bumi Hyang Nantaboga.
Dengan demikian, pesan abadi dari Siwa Tattwa Purana adalah bahwa kelangsungan hidup manusia di bumi hanya dapat dicapai apabila manusia mampu menjaga kesucian diri melalui ritual Samskara yang benar, menghormati leluhur lewat evolusi roh Pitra Yadnya, dan merawat kelestarian alam gunung, danau, dan laut sebagai hulu kehidupan semesta.
Padma Bhuwana dan Pengider-Ideran
Struktur kosmologis yang diletakkan dalam Siwa Tattwa Purana bertumpu pada konsep Padma Bhuwana, yaitu visualisasi dunia sebagai kelopak bunga padma mistis yang dikuasai oleh berbagai manifestasi Tuhan.
Pada bulan Kartika, Sang Hyang Jagatpati dihadap oleh para dewa yang bertakhta di atas Padmasana emas bertatahkan ratna mutu manikam. Pertemuan ini melahirkan sistem pembagian ruang kosmis yang dikenal di Bali sebagai Pengider-Ideran.
Berbeda dengan beberapa teks klasik yang hanya mengidentifikasi sembilan dewa (Dewata Nawa Sanga), Siwa Tattwa Purana menyajikan model perluasan kosmologis yang sangat detail dengan menyertakan lima belas entitas dewata, lengkap dengan atribut warna busana, jenis payung kebesaran (catra / payung), makhluk pengawal (bhuta), serta wilayah kekuasaan (loka) masing-masing.
| Dewata | Arah | Warna | Payung / Catra | Entitas Bhuta | Mandala / Loka |
| Iswara | Timur (Purwa) |
Putih (Ptak) |
Perak Putih (Rukma Sweta) |
Ki Bhuta Putih |
Iswara Loka |
| Sambu | Timur Laut (Ersanya) |
Dadu (Pink/Biru Muda) |
Cahaya Permata (Ratna Kumnyar) |
Ki Bhuta Dadu |
Sambu Loka |
| Wisnu | Utara (Uttara) |
Hitam (Ireng) |
Emas Berkilauan (Rukma Kumnyar) |
Bhuta Ireng |
Wisnu Loka |
| Sangkara | Barat Laut (Wayabya) | Hijau (Wilis) | Cahaya Permata (Ratna Kumnyar) | Ki Bhuta Wilis | Sangkara Loka |
| SMahadewa | Barat (Pracima) |
Kuning (Napita) |
Permata Berkilau (Rukma Lwir Ratna) |
Bhuta Kuning |
Rudra Bhuwana |
| Sata Ludra | Barat Daya (Nariti) | Merah-Kuning (Rakta Pita) | Merah-Kuning (Rakta Pita) | Bhuta Kwanta | Rudra Bhuwana |
| Brahma | Selatan (Daksina) |
Merah (Bang) |
Emas (Rukma) |
Bhuta Bang |
Brahma Loka |
| Misora & Indra | Tenggara (Agneya) |
Putih Bercampur Merah |
Putih Kemerahan (Ptak Smu Bang) | Bhuta Sliwah | Indra Bhuwana |
| Aswinodewa | Pusat / Khusus | Lima Warna (Manca Rupa) | Emas Berkilauan (Rukma Kumnyar) | (Tanpa Pengawal) | Smara Loka |
| Durmuka | Pusat / Khusus | Serba Dadu | Cahaya Permata (Ratna Kumnyar) | (Tanpa Pengawal) | Ana Loka |
| Kala & Glap | Tenggara / Suma | Poleng Merah | Selang-seling (Sliwah) | Bhuta Angga Rupa | Suma Desa / Loka |
| Baruna | Barat Daya / Laut | Serba Indah | (Tanpa Catra) | (Tanpa Pengawal) | Baruna Loka |
| Rawi | Angkasa (Gambur Anglayang) | Ganitri Aslimpet | Putih (Sweta) | (Tanpa Pengawal) | Surya Loka |
| Kweraka | Barat Laut | Warna-warni (Indah) | Kuning Keemasan (Pita Rinukmi) | Bhuta Ro | Kwera Loka |
| Yama | Selatan | Poleng Merah | Tiga Warna | Bhuta Sliwah | Yama Loka |
Perluasan bagan kosmologi ini memberikan indikasi teologis bahwa sistem kepercayaan Saiwa di Bali sangat akomodatif terhadap penyerapan berbagai fungsi dewa penolong Puranik. Kehadiran Sanghyang Rawi di angkasa sebagai saksi agung (saksyani ujar) menekankan prinsip kejujuran kosmis dalam interaksi antar-dewa. Sementara itu, kedatangan Sanghyang Kala dan Sanghyang Glap dengan wujud menyeramkan (kagiri-giri) memberikan dasar teologis bagi integrasi kekuatan destruktif ke dalam sistem pemujaan guna menjaga keseimbangan semesta.





















