A. Indra Brata, kepemimpinan bagaikan Dewa Indra atau Dewa Hujan; Di mana hujan itu berasal dari air laut yang menguap. Dengan demikian seorang pemimpin berasal dari rakyat harus kembali mengabdi untuk
Warsikamscaturo nasanyalha Indro bhiprawarsati, tathabhiwarsetsmam rastra kamair indrawratam caran
Manawa Dharmasastra, IX, 304
Artinya:
Laksana Indra yang mengirimkan hujan yang berlimpah selama empat bulan di musim hujan, demikianlah raja menempati kedudukan indra dengan menghujankan keuntungan bagi kerajaannya.
B. Yama Brata, kepemimpinan yang bisa menegakkan keadilan tanpa pandang bulu bagaikan Sang Hyang Yamadipati yang mengadili Sang Suratma.
Yatha yamah priya dwesyau prapte kaleniyacchati,
tatha rajna nyantawyah prajastaddhi yamawratam
Manawa Dharmasastra, IX, 307
Artinya:
Laksana Yama pada saatnya berkuasa baik kepada teman-temannya maupun kepada lawan-lawannya demikianlah hendaknya semua rakyatnya dikuasai oleh raja, demikianlah kedudukannya menyerupai Dewa Yama.
C. Surya Brata, kepemimpinan yang mampu memberikan penerangan kepada warganya bagaikan Sang Surya yang menyinari alam tanpa pilih kasih.
Astau masyanyathadityastoyam hariti rasmibhih
tatha haretkaram rastran nityamarka wratam hitat
Manawa Dharmasastra, K, 305
Artinya:
Laksana Surya, selama delapan bulan menyerap air melalui sinar-sinarnya dengan tidak terlihat demikianlah hendaknya ia dengan perlahan-lahan menarik pajak dari kerajaannya, karena inilah kedudukan yang menyerupai matahari.
D. Candra Brata, mengandung maksud pemimpin hendaknya mempunyai tingkah laku yang lemah lembut atau menyejukkan bagaikan Sang Candra yang bersinar di malam hari.
Paripurnam yatha candram drasfwa hrsyanti manawah, tatha prakritayo yasminsa candrawratiko, nripah
Manawa Dharmasastra, K, 309
Artinya :
Ia adalah raja yang menduduki tempatnya Dewi Candra, yang rakyat menyambut kehadirannya dengan penuh senang hati laksana orang- orang bersenang-senang melihat bulan purnama.
E. Bayu Brata, mengandung maksud pemimpin harus mengetahui pikiran atau kehendak (bayu) rakyat dan memberikan angin segar untuk para kawula alit atau wong cilik sebagimana sifat Sang Bayu yang berhembus dari daerah yang bertekanan tinggi ke rendah.
Prtawisya sarwabhautani yatha carati-marutah,
tatha caraih prawestawyam wratametaddi marutam
Manawa Dharmasastra, IX, 306
Artinya:
Laksana wayu bergerak kemana kemana masuk merupakan nafas bagi seluruh mahluk hidup, demikianlah hendaknya ia melalui mata-matanya masuk kemana-mana kedudukannya menyerupai angin.
F. Baruna Brata, mengandung maksud pemimpin harus dapat menanggulangi kejahatan atau peyakit masyarakat yang timbul sebagaimana Sang Hyang Baruna membersihkan segala bentuk kotoran di lautan.
Warunena yatha pasair badha ewabhiddreyate, tatha papannigrihniyad wrtametaddl warunam
Manawa Dharmasastra, IX, 308
Artinya:
Laksana orang-orang berdosa tampak terikat tali oleh waruna, demikianlah hendaknya ia menghukum orang-orang jahat itu, itulah kedudukannya yang menyerupai Waruna.
G. Agni Brata, mengandung maksud pemimpin harus bisa mengatasi musuh yang datang dan membakarnya sampai habis bagaikan Sang Hyang Agni
Pratapa yuktasstejaswi nityam syat papa karmasu dustasamantahimsrasca tadagneyam wratam smritam
Manawa Dharmasastra, IX, 310
Artinya:
Bila ia bersemangat menumpas penjahat dan memiliki kekuatan- kekuatan cemerlang serta menghancurkan penguasa-penguasa daerah yang jahat, maka sifatnya dikatakan sama dengan agni.
H. Kwera atau Prthiwi Brata, mengandung maksud seorang pemimpin harus selalu memikirkan kesejahteraan rakyatnya sebagaimana bumi memberikan kesejahleraan bagi umat manusia dan bisa menghemat dana sehemat- hematnya seperti Sang Hyang Kwera dalam menata kesejahteraan di kahyangan.
Yatha sarvvani bhutani dharadharayata sanam,
yatha sarwani bhutani bibratah parthiwam wratam
Manawa Dharmasastra, IX, 311
Artinya :
Laksana bumi menunjang semua makhluk hidup sama rata, demikianlah hendaknya raja terhadap rakyatnya, dalam menduduki tempatnya dewi pertiwi.









