Canakya Niti Sastra – Ilmu Politik, Kepemimpinan dan Moralitas


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

b. Ksatriya

Ksatriya ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kewibawaan cinta tanah air serta bakat kelahiran untuk memimpin dan mempertahankan kesejabteraan masyarakat, Negara dan umat manusia berdasarkan dharmaaya. Seseorang yang menjadi seorang pemimpin bisa disebut dengan Ksatriya seperti: Presiden, Gubernur, Bupati, sampai Kepala Desa dan lain sebagainya.

Golongan Brahmana dengan golongan Ksatriya sama-sama sebagai seorang pemimpin, akan tetapi yang membedakannya adalah Brahmana memimpin upacara Yajna dan Ksatriya memimpin Rakyatnya. Pada zaman dahulu raja selalu didampingi oleh Purohita (Pandita), diibaratkan seperti suami dengan istri. Purohita membutuhknan raja sebagai pelindung, dan Raja membutuhkan Purohita sebagai pemimpin upacara.

Yatra brahma ca ksatram ca Samsyancau caratah saha Tam lokam punyam prajnesam Yatra devah sahagnina

Yajurveda, XX.25

Terjemahan:

Dinegara itu harus diperlakukan warga negaranya sebaik mungkin, disana para Brahmana dan para Ksatriya hidup dalam keserasian dan orang-orang yang terpelajar melaksanakan persembahan (pengorbanan).

Dalam mantra Yajurveda diatas dikatakan bahwa bagaimana cara memperlakukan seorang Brahmana dan Ksatriya, karena seorang Brahmana dan Ksatriya merupakan pemimpin kita yang harus kita hormati. Seorang Ksatriya hendaknya menjadi pelindung bagi rakyatnya, sesuai dengan kedudukannya yaitu sebagai pemimpin di masyarakat. Dalam Parasara Dharmasastra tentang tugas dari seorang Ksatriya:

Ksatriyo Hi Praja Raksan Samjapanih Pracandavat Vijitya Parasainyani Ksitim Dharmena Palayet

Parasara Dharmasasira, 1.58

Terjemahan:

Para Ksatriya harus melindungi warga negaranya, menaklukan kekuatan tentara musuh dengan gagah berani dan memerintah Negara sesuai dengan aturan-aturan kebajikan.

Na Srih Kula Kramayatam Svarupa Likhitapi Ya, Khadgena Kramya Bhunjita Virabhogya Vasundhara

Parasara Dharmasastra, 1.59

Terjemahan:

Kemenangan atau kemakmuran walaupun ditegakkan dengan mantap tak akan pernah menjadi harta milik turun temurun. Kemenangan yang diperoleh dengan pedang; kenikmatan akan (kekuasaan) duniawi hanyalah hak menyombongkan diri atas keberanian.

Pada sloka diatas dikatakan bagaimana seharusnya seorang Ksatriya dalam melindungi warganya, serta berperang melawan musuhnya dengan gagah berani tanpa mengharapkan imbalan. Kemenangan yang diperoleh pun bukanlah kemenangan dirinya sendiri melainkan kemenangan rakyatnya. Kekuasaan yang dimiliki bukanlah sebagai suatu kenikmatan, melainkan suatu tugas mulia dari

Negara. Dalam kitab Arthasastra buku I, bab 19, bag.16, ayat 35, juga dikatakan bahwa:

“Oleh karena itu, seorang raja harus selalu aklif memajukan kesejahteraan. Akar kesejahteraan adalah kegiatan, sebaliknya malapetaka adalah kebalikannya”.

Makna dari ayat diatas adalah seorang raja hendaknya selalu bekerja untuk rakyatnya, tanpa hasil apa-apa yang diinginkan kecuali demi kesejahteraan rakyatnya. Apabila seorang raja tidak mau bekerja demi rakyat dan hanya bekerja demi kepentingannya sendiri maka malapetaka atau kehancuran bagi rakyatnya. Apapun yang dilakukan seorang raja selalu berpengaruh bagi rakyatnya.

Rajni dharmini dharmisthah Pape papah same samah Rajanamanuvartante

Yatha raja tatha prajah

Canakya Niti Sastra, XIII.8

Terjemahan:

Kalau raja saleh rakyat pun saleh, raja jahat rakyat pun jahat, raja setengah saleh setengah jahat, rakyat pun demikian. Rakyat hanya mengikuli sang raja, sebagaimana raja begitulah rakyatnya.

Makna yang tertera pada sloka diatas adalah menunjukan pengaruh raja terhadap rakyatnya, apapun yang dilakukan seorang raja rakyat pun menirunya. Bahkan rakyat liisa lebih dari apa yang dilakukan rajanya. Seperti pepatah mengatakan bahwa guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Rakyat selalu mengikuti bahkan lebih dari pada rajanya, karena raja adalah guru bagi rakyatnya. Apabila seseorang telah menjadi Kesatriya, lakukanlah tugas agar menjadi pelindung dan pembimbing bagi rakyatnya.




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga