Canakya Niti Sastra – Ilmu Politik, Kepemimpinan dan Moralitas


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Wanita dalam masa Grahasta

Pernikahan atau wiwaha dalam Agama Hindu adalah Yajna dan perbuatan dharma. Wiwaha (pernikahan) merupakan momentum awal dari Grahasta Ashram yaitu lahapan kehidupan berumah tangga. Dalam adat Hindu di Bali merupakan upaya untuk mewujudkan hidup Grhasta Asmara, tugas pokoknya menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut “Yatha sakti Kayika Dharma” yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma secara profesional haruslah dipersiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan.

Ketika sudah memasuki masa-masa Grahasta seorang wanita bisa disebut dengan istilah istri, dan apabila sudah memiliki putra bisa disebut dengan istilah ibu. Ketika sudah memasuki masa grahasta tugas seorang wanita pun berbeda dengan masa brahmacari. Tugas seorang wanita ketika menjadi istri adalah melayani suami dan anak-anaknya. Seperti tertera pada sastra berikut:

Samraajni svasure bhava, samraajni svasrvam bhava, nanandari samraajni bhava, samraajni adhi devrsu

(Rgveda X.85.46)

Terjemahan:

“Wahai mempelai wanita, jadilah nyonya rumah tangga yang sesungguhnya, dampingilah (dengan baik) ayah ibu mertuamu, dampingilah (dengan baik) saudara saudari iparmu”.

Dikatakan bahwa ketika seorang wanita yang sudah resmi menjadi seorang istri dari suaminya ia juga harus menghormati mertua serta iparnya. Karena ia harus menganggap mertua sebagai orang tuanya sendiri dan ipar sebagai saudaranya sendiri. Seorang istri hendaknya patuh selalu akan perintah serta aturan yang ada pada rumah suaminya serta menjunjung tinggi nama keluarganya.

Yantri raad yantri asi yamani, dhruvaa asi dharitrii

(Yajurveda XIV.22)

Terjemahan

“Wahai wanita jadilah pengawas keluarga yang cemerlang, tegakkanlah aturan keluarga, dan jadilah penopang keluarga”.

Dikatakan juga seorang wanita hendaknya sebagai penegak peraturan dan juga sebagai pengawas dalam keluarga. Karena dianggap wanita memiliki control yang baik dalam keluarga. Apabila seorang suami mengalami masa ketidak stabilan dalam keluarga hendaknya seorang istri sebagai pengarah dalam keluarga.

Viirasuup devakaamaa syonaa, sam no bhava dvipade, sam catuspade

(Rgveda X.85.43)

Terjemahan:

“Wahai wanita, lahirkanlah keturunan yang cerdas, gugah, dan berani, pujalah selalu Hyang Widhi, jadilah insan yang ramah dan menyenangkan kepada ssmua orang, dan peliharalah dengan baik hewan peliharaan keluarga”.

Seorang istri juga memiliki kewajiban untuk memberikan keturunan kapada keluarganya, keturunan ini bertujuan untuk meneruskan regenerasi keluarganya. Dengan keturunan juga bisa mempererat tali persatuan dalam keluarga karena kehadiran sang putra merupakan anugrah dari yang kuasa.

Seorang istri hendaknya selalu setia kepada suami, rajin dan taat dalam menjalankan puja bhakti kepada Hyang Widhi, melahirkan dan memelihara anak- anak agar cerdas gagah dan berani, selalu menopang keluarga dan menjalankan aturan dengan baik, berbicara dengan lemah lembut kepada semua orang, menghormati keluarga mertua, menjaga dan mengatur harta keluarga, tanaman, dan hewan peliharaan milik keluarga dengan baik. Bila demikian, niscaya keluarganya akan bahagia dan sejahtera selalu.




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga