Canakya Niti Sastra – Ilmu Politik, Kepemimpinan dan Moralitas


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Login

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

RSI CANAKYA

Dari beberapa pendapat para ahli memang meragukan bahwa yang menyusun Kitab ini adalah Canakya. Beliau juga mengakui bahwa penyusunan karyanya berdasarkan atas kitab-kitab serupa pada masa lalu. Dalam bukunya I.B. Radendra S., S.H., M.H. yang berjudul ekonomi dan politik dalam Arthasastra dikatakan bahwa ada sekitar 112 kali Arthasastra menyebut para penyusun sebelumnya dan pandangan-pandangannya. Lima aliran pemikiran, yakni Brihaspati, Ushana, Prachetasa Manu, Parasara, dan Ambhi. Akan tetapi karya- karya sebelumnya tidak bisa ditemukan, dan yang ditemukan hanya karya Arthasastra dari Canakya saja.

Penyusunan kitab Arthasastra memang sangatlah banyak ditemukan, dan selalu bertuliskan tentang Canakya didalamnya. Rupanya ini ada kaitannya tentang ramalan bahwa Canakya adalah penghancur Raja Nanda yang ada dalam kitab-kitab Purana yaitu Vismi Purana dan Bhagavata I’linnm. Sepertl yang dikutip dalam Srimad Bhagavatam 12.1.11-12 “seorang Brahmana (Canakya) akan menghancurkan raja Nanda dan delapan putra-putranya dan akan menghancurkan dinastinya. Selanjutnya para Maurya akan memerintah. Brahmana ini akan mengangkan Candragupta sebagai Raja. Putranya akan bernama Varisara. Putra Varisasra akan bernama Asokavardhana” (darmayasa, 1995).

Dalam Sri Visnu Purana 24.20-28, juga dikatakan bahwa “Raja  Mahananda akan menurunkan Mahapadma dari istri sudra. Raja kuat penghancur para ksatria. Mulai saat itu raja keturunan sudra akan memerintah kerajaan. Dia akan melanjutkan pemerintahan bersama 8 orang putra-putranya, seperti sumali dan lainya selama 100 tahun. Suatu ketika akan muncul seorang Brahmana bernama kautilya, akan menghancurkan kesembilan nanda tersebut. setelah itu raja Maurya akan menikmati bumi, Kautilya akan menobatkan Candragupta sebagai Raja” (Darmayasa, 1995).

Dari ramalan tersebut dapat disimpulkan bahwa memang benar Canakya yang menghancurkan Raja Nanda dan menempatkan Candragupta sebagai Raja. Tentang proses penghancuran kerajaan Nanda oleh Canakya menurut para tokoh berbeda-beda. Seperti pada buku modul pembelajaran Niti Sastra oleh I Ketut Lancar, dkk yang menceritakan tentang kisah Rsi Canakya ketika menjadikan Candragupta sebagai raja di Magada: dalam cerita ini Beliau bersama Candragupta dikatakan pahlawan yang berhasil merebut kembali kerajaan Magada dari tangan Iskandar Zulkarnaen. “Setelah kerajaan Magada diserang oleh Iskandar Zulkarnaen, putra dari raja Magada bemama Chandra Gupta bersama Rsi Canakya pergi menyelamatkan diri kehutan. Ditengah hutan Chandra Gupta bersama Rsi Canakya melakukan konsolidasi untuk merebut kembali kerajaan Magada. Karena strategi dan pertahanan yang kuat akhirnya Chandra Gupta pun berhasil merebut kerajaan Magada. Akhirnya Chandra Gupta pun menjadi raja dan Rsi Canakya menjadi penasehat”. Pada saat menjadi penasehat di Magada Rsi Canakya menyusun kitab Arthasastra yang lebih populer dengan sebutan  Kautilya Arthasastra.

Dalam bukunya I.B.Radrendra S. dikatakan dengan versi yang agak berbeda yaitu dikarenakan Rsi Canakya sakit hati kepada raja Dhana Nanda. Ketika Kautilya datang ke ke istana Raja Dhana Nanda di Patalipura untuk sebuah acara diskusi filsafat. Canakya ikut dalam pertemuan itu karena ia dikenal sebagai ahli Veda, Mantra dan siasat dalam berperang namun memiliki kelemahan dalam fisiknya. Sementara itu Dhana Nanda, Raja Patalipura, konon seorang raja yang bersifat arogan dan tidak terhormat. Tak terhormat di sini dalam arti yang sesungguhnya karena kabarnya ayahnya memiliki seorang tukang cukur yang berselingkuh dengan sang Ratu (ibu Dhana Nanda), yang lalu membunuh Raja yang sedang bertakhta.

Raja Dhana Nanda juga membunuh seluruh Pangeran dan ahli waris dari kerajaan. Ketika pertemuan tersebut Raja Dhana Nanda yang arogan ini menghina Kaulilya karena fisiknya yang buruk. Ia mengusir Kautilya dari pesta makan tersebut dan mengatakan bahwa Canakya tak yang berarti tidak mudah ditipu, banyak akalnya, suka membalas kebaikan orang lain apabila orang tersebut berbuat baik begitu juga sebaliknya akan berbuat jahat apabila beliau disakiti.

Canakya juga disebut dengan Wishnugupta yang berarti seorang menteri Negara, ahli polotik, tokoh agamawan (Brahmana), adalah orang yang dianggap sebagai penulis karya yang agung.

Wishnugupta hidup sekitar tahun 321-296 Sebelum Masehi (Astana dan Anopdiputro, 2003:vi). Sewaktu menutup karyanya, kautilya menyatakan “sumber kehidupan umat manusia adatah artha (kesejahteraan), denga kata lain adalah bumi (dengan segala isinya) yang didiami manusia. Ilmu yang mencakup cara untuk mencapai dan melindungi bumi adalah Arthasastru, Ilmu Politik” (Arthasastra, Buku XV, Bab I, Bagian 180, ayat 1).




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga