Proses dan Peran Catur Sanak (Kandapat) dalam Kehidupan


4. Peran Religius

Sikap religus tidak hanya mengajarkan seseorang untuk bersifat kaku atau panatik. Namun, sikap religus akan memberikan pandangan bahwa manusia agar mampu melaksanakan seperti ajaran Catur Marga Yoga yang memiliki berbagai cara untuk memuja Tuhan namun pada akirnya adalah akan sampai pada Tuhan. Begitu juga melalui ajaran Catur Sanak akan sampai juga kepada Tuhan.

Religius merupakan sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanakan ibadah dan hidup rukun dalam kehidupan beragama tanpa adanya intimidasi terhadap kepercayaan lain. Sikap religuis juga memberikan gambaran bagaimana seseorang mengamalkan ajaran agama dengan perpedoman pada nilai-nilai Ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam tataran individu maupun kelompok.

Hal ini dapat dilihat juga dalam percakapan Sri Krisna dengan Arjuna. Dimana pada bagian Bisma Parwa merupakan bagian diwedarkannya kitab bagawad Gita oleh Sri Krisna kepada Arjuna saat hari pertama pertempuran Bharata Yuda. Bagawadgita yang merupakan salah satu kitab suci dalam Hindu yang menguraikan mengenai hakikat Ketuhanan. Melalui percakapan antara Sri Krisna dengan Arjuna menggambarkan hubungan antara Tuhan dengan umatnya. Sri Krisna sebagai persononalitas Tuhan sedangkan Arjuan sebagai hamba Tuhan. Percakapan yang panjang dan begitu mendalam tidak hanya berbicara masalah filsafat akan tetapi berbicara bagaimana hakikat Tuhan, jiwa, dan dharma serta bagaimana memahaminya yang bisa dilakukan dengan empat jalan yang disebut dengan Catur Marga Yoga yaitu: Bhakti Marga Yoga jalan dengan bhakti, Karma Marga Yoga jalan dengan karma atau perbuatan. Jnana Karma Yoga jalan dengan ilmu pengetahuan, dan Raja Marga Yoga jalan penyerahan diri secara totalitas.

Wejangan Sri Krisna dan Arjuna menjelaskan untuk senantiasa melakukan penyerahan diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai wujud sikap religius seorang umat kepada Tuhannya ini dapat dilihat dari sloka Bagawad Gita VIII.7 yang dimana Bagawad Gita merupakan bagian Bisma Parwa. Karena itu kapanpun juga, ingatlah selalu pada-Ku dan berjuanglah untuk perpegang kepada-Ku pikiran untuk ingat pada-Ku hasilnya kau akan sampai pada-Ku.

Sloka tersebut menguraikan bagaiman hendaknya seseorang salalu bertindak dan berbuat dalam kesadarn Tuhan. Senantiasa bertindak dibawah perintah Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga ajaran- ajaran Ketuhana hendaknya senantiasa dijadikan pedoman untuk bertindak dan berbuat dalam kehidupan sehari-haris sebagai cerminan insan yang relegius. Dalam penelitian Peran Catur Sanak terhadap kehidupan manusia juga mengisyaratkan selalu ingat kepada Beliau yaitu Nyama Pat (Saudara Empat) dimanapun dan apapun juga.

Begitu juga pada Bagawadgita dijelaskan mengenai sikap toleransi terhadap bagaimana seseorang dapat menggunakan jalan untuk memuja Tuhan. Sehingga disini terdapat sikap toleransi yang tercemin dalam aplikasinya manusia sebagai makluk religius. sikap toleransi merupakan bagian dari nilai karakter khususnya dalam pelaksanaan nilai-nilai Ketuhanan seperti yang diuraikan dalam Bagawadgita IV.11 “Dalam cara apapun manusia memuja Aku, Dengan cara yang sama Aku menemukan kasih-Ku, Berbagai cara yang ditempuh oleh manusia, tetapi pada akhirnya mereka akan sampai pada-Ku.

Dari uraian sloka tersebut sangat terlihat bagaimana nilai toleransi yang terkandung dalam Bisma Parwa khusunya dalam Bagawad Gita. Sikap toleransi yang tercermin dalam sloka tersebut memberikan nilai-nilai positif bagi perkembangan karakter jika diajarkan pada usia dini guna untuk menumbuhkan sikap relegius yang berlandaskan toleransi.

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat lingkungan (alam, sosial, dan budaya), Negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Tindakan yang menunjukan prilaku tertib dan patuh terhadap berbagai aturan dan ketentuan. Sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas (Zubaindi, 2012: 75). Dalam Bisma Parwa menganai tanggung jawab disiplin dan mandiri dapat dilihat dari percakapan antara Sri Krisna dengan Arjuna yang terurai menjadi ajaran Bagawad Gita. Uraian Bagawad Gita sangat jelas ditekankan mengenai tanggung jawab, disiplin, dan mandiri. Yang dikenaal dengan Swadarma seseorang ini dapat dilhat dari ketika hari perang pertama akan dimulai dan ketika Arjuna menagalami kebingungan ketika harus berhadapan dengan musuhnya di Kurusetra.

Pada kebingungan Arjuna, Sri Krisna menguraikan bagaimana manusia hendaknya melaksanakan tanggung jawab secara mandiri dan disiplin dalam hal ini bagaimana hendaknya Arjuna dapat melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang Kesatria, ini dapat dilihat dari makna Sloka Bagawad Gita II.33 “Akan tetapi, apabila engkau tidak melaksanakan kewajiban Dharmamu, yaitu bertempur, engkau pasti menerima dosa akibat melalaikan kewajibanmu, dan dengan demikian kemansyuranmu sebagai kesatria akan hilang”.

Arti seloka tersebut bahwa seseorang hendaknya menyadari akan tanggung jawab dan kewajibanya dan bisa melaksanakan dengan disiplin dan mandiri agar terbebas dari dampak buruk yang ditimbulkan apa yang menjadi tugasnya. Kaitanya dengan sikap tanggung jawab, mandiri, bahwa semua orang agar senantiasa menjalankan kewajibannya menuju harmonis, sejahtera. Melaksanakan kewajiban merupakan memerangi kehidupan antara suami-istri agar tercapai keharmonisan, kebahagian rumah tangga untuk bermasyarakat, bernegara. Semua orang harus berperang yang dalam hal ini artinya memerangi kompleksnya kebutuhan manusia ini, hindu memberikan ruang untuk adat, budaya yang berbeda. Bisa menjalankan kewajibannya atau tangggung jawabnya sebagai masyarakat, mengikuti peraturan, maka ia akan bisa melewati setiap langkah. Melaksanakan tanggung jawab juga dituntut untuk senantiasa bisa menjalankan tugasnya secara mandiri dan disiplin guna untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Berdasarkan makna nilai yang menekankan pada segala sesuatu yang mengandung hal yang baik dan bisa direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka nilai yang dipetik dari sloka diatas adalah supaya berkarakter yang baik. Karakter merupakan suatu sistem pembentukan nilai-nilai karakter kepada warga masyarakat. Nilai merupakan sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Misalnya, nilai-nilai agama yang perlu diindahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Pada mulanya kata nilai dipergunakan dalam ilmu ekonomi serta dalam perkembangan selanjutnya. Kata nilai dipergunaan dalam pergaulan hidup manusia untuk mengatur hubungan yang harmonis, dalam upaya untuk menciptakan kelangsungan hidup manusia sehari-hari. Terciptanya hubungan yang harmonis, sehingga selaras, sangat membutuhkan atau memerlukan suatu yang dianggap indah, baik, benar serta sesuatu itu berguna dalam kehidupan manusia disebut nilai kemanusiaan, demikian juga halnya segala sesuatu yang indah, baik benar dan berguna dalam hidup kekeluargaan baik dalam arti sempit maupun dalam arti luas disebut dengan nilai-nilai kekeluargaan. Jika kata nilai dihubungkan dengan aktivitas kehidupan agama khususnya kehidupan agama Hindu, maka keseluruhan dari praktik Agama disebut nilai-nilai Agama.

Secara umum pendidikan karakter di Indonesia didasarkan pada sembilan pilar karakter dasar yaitu 1) Relegius, 2) tanggung jawab, disiplin, dan mandiri, 3) Jujur, 4) Hormat dan santun 5) Kasih sayang, peduli dan kerja sama, 6) Percaya diri, kereatif, kerja keras, dan pantang menyerah,7) Keadilan dan kepemimpinin, baik danrendah hati, 9) Toleransi cinta damai dan persatuan .

Percakapan yang terjadi antara Sri Krisna dengan Arjuna merupakan perumusan suatu ilmu pengetahuan. Dimana melaui percakapan mengenai filsafat maka pengetahuan tertinggi dapat dikenal yang terangkum dalam Bagawad Gita. Dari proses percakapan yang mengulas pengetahuan merupakan salah satu aplikasi dari pendidikan karakter. Dimana pendidikan karakter menekankan bagaimana pengembangan emosional. Karakter yang dibangun yaitu bagaimana pasangan suami istri mampu melangsungkan hidup yang akan terjadi nantinya akan melahirkan kualitas manusia yang unggul. Begitu juga dalam makna pengetahuan Long life education belajar seumur hidup sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, semakin sering belajar semakin sadar terhadap adat, budaya tradisi disebuah tempat dan ingin mengetahuinya seperti apa yang disebutkan diatas. Hendaknya seorang setiap hari memperdalam ilmu pengetahuan, misalnya: kesusastraan, filsafat, ilmu ekonomi, ilmu pengobatan, astrologi dan lain-lainnya yang dapat menambah kesempurnaan pengetahuannya. Ia juga harus mempelajari segala sesuatu yang mengajarkan bagaimana mendapatkan harta, segala yang berguna untuk hidup keduniawian dan demikian pula Nigama yang memberikan penjelasan tentang Weda (Manawa Dharmastra, IV : 19)


Sumber
I Nyoman Nadra

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Katalog Dalam Terbitan (KDT)



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Dapatkan Dalam Versi Cetak
Baca Juga