Proses dan Peran Catur Sanak (Kandapat) dalam Kehidupan


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

3. Peran Sebagai Etika

Ini dapat dilihat dimana saudara masing-masing Catur Sanak (Saudara Empat) diurutkan dari yang lebih tua, kemudian yang lebih muda. Hal ini dapat diartikan orang yang lebih muda harus menghormati atau beretika yang baik kepada orang lebih tua, tidak boleh memotong pembicaraan orang tua, tidak boleh mendahului yang lebih tua, tidak boleh melawan orang tua, ini mengajarkan kepada manusia harus selalu hormat kepada saudara atau sesama.

Selalu menempatkan dirinya baik secara fisik  maupun mental berada dibawah kedudukan yang yang lebih tua dalam hal ini, dalam ajaran Catur Sanak (Saudara Empat) selain sebagai saudara juga sebagai Guru. Guru terdiri dari ; Guru Rupaka (orang tua), Guru Pengajian (guru yang mendidik), Guru Wisesa (pemerintah), Guru Swadiayaya (Tuhan). Disamping itu juga seorang anak harus selalu beretika baik terhadap yang lebih tua atau orang tuanya seperti sloka dalam Sarassamuscaya mengatakan: “Perbuatan seorang yang Setia dan Bhakti terhadap Orangtuanya, membuat Orangtuanya sangat senang dan puas hatinya, pahalanya tetap akan diterima baik saat berbuat maupun dimasa mendatang dan akan mendapat pujian karena telah melaksanakan kebajikan” (Sarassamuscaya: 241) ”Oleh karena itu terhadap orangtua (ibu dan ayah), hendaknya selalu memberi salam selamat dan menyapa dengan sopan santun, mempersilahkan duduk serta dengan sikap sopan duduk didekatnya  atau dihadapannya, ketika beliau hendak berangkat hendaklah dihantarkan” (Sarassamuscaya: 248).

Jadi sloka diatas mengisiaratkan orang yang lebih tua adalah guru, saudara yang lebih tua adalah guru, orang yang memang dari segi umur lebih tua semuanya itu harus dihormati. Sloka ini sangat terkait Catur Sanak (Saudara Empat) dimana saudara kita yang duluan lahir harus selalu dihormati yang disimbulkan Palinggih ditengah-tengah halaman rumah yang disebut dengan Palinggih Ratu Sakti Pangadan-ngadangan, begitu juga dalam hubungan dengan saudara yang kandung satu ibu, dimana kakak dan beradik harus selalu rukun, aman, tentram, saling menghormati terutama adik- adiknya kepada yang lebih tua

Penjelasan diatas sejalan juga dengan sloka yang ada dalam Manawa Dharma Sastra, untuk lebih jelasnya diuraikan sebagai sebagai berikut ; ”Guru adalah gambaran dari Brahman (Tuhan), Ayah adalah gambaran dari Prajapati, Ibu adalah gambaran dari Prtwi, Kakak adalah gambaran dari diri sendiri” oleh sebab itu jangan ragu-ragu menghormati semuanya (Manawa Dharmasastra, II:226). Maka dari itu harus selalu ingat kepada saudara yang lebih tua, apalagi dalam ajaran Catur Sanak tersebut sekaligus sebagai Dewa yang menjaga, memberikan kehidupan sehari-hari

Kedudukan Catur Sanak merupakan hubungan Tri Hita Karana dimana hubungan antara manusia dengan Tuhannya hal ini dapat dilihat dari keempat saudara (catur sanak) berubah menjadi Dewa atau Tuhan. Disamping itu juga kebersamaan dapat dilihat dalam Atharwa Weda : 19.62.1 dikatakan ”Priyam ma krnu deve su priyam rajasu ma krnu priyam sarvasya pasyata uta sudra    utarye”

yang artinya saya mendapatkan kasih sayang dari Para Brahmana, Ksatrya, Vaisya, dan Sudra, demikian juga saya mendapatkan kasih sayang dari semua mahkluk yang bisa melihat. Hubungannya dengan penelitian ini dapat diartikan bahwa semua orang dimata Tuhan adalah sama dan harus bersama-sama memupuk kasih sayang  baik itu Brahmana, Ksatrya, Wesya, Sudra karena banyak  masyrakat yang saling menjaga jarak tidak ramah kepada masyarakat bawah.

Begitu juga dalam bagian yang lainnya dikatakan ”Etada roha vaya unmrjanah sva lha brhadu didayante abhi prehi madhyato mapa hasthah pitrnam lokam prathamo yo” (Atharvaveda : 18.3.73) artinya wahai manusia, dengan menyucikan kehidupan ini tingkatkanlah kesejahteraan keluarga dan sahabatmu yang banyak memiliki keistimewaan. Majulah engkau dari semua lapisan dan jangan meninggal dunia sebelum waktunya. Hiduplah dalam lingkungan keluarga, karena hidup bermasyarakat adalah hal penting didunia ini.

Begitu pentingnya dalam bermasyarakat tidak  boleh sombong dan bermusuhan apalagi dengan sesama suami istri. Hidup harus memandang bahwa semua adalah keluarga dan sahabat, karena banyak sahabat hidup menjadi tenang bepergian jauh menjadi tenang, semua harus dilihat sebagai sahabat seperti mantra Yajurveda : 36.18 mengatakan ”Drte Drha ma mitrasya ma caksusa sarvani bhutani samiksantam mitrasyaham cak susa sarvani bhutani  samikse mitrasya cak susa samik samahe” artinya Oh Tuhan yang menghancurkan kegelapan, anugrahilah saya supaya semua  makhluk memandang saya sebagai sahabat, demikian pula  saya melihat mereka sebagai sahabat, teguhkanlah saya dalam keyakinan ini.



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan