Tattwa / Tutur Candrabherawa dengan Yudistira


Download Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Info Akun

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini


Tyajatī dūta mityuktaṃ,

druhaḥ vugaśca sambhavāḥ, akulaṃ hastinaṃ dhipaṃ, atyarthaṃ pacaté dado.

Mohon dirilah si Utusan, segera berangkat. Tidak diceritakan di jalan, tibalah di Negeri Hastina. Ia menghadap kepada Baginda Raja. Telah disampaikan semua pesan Raja Candrabherawa. marahlah maharaja Kṛṣṇa, disambut oleh Sang Bhīma, Arjuna, Nakula, dan Sahadéwa.

Dengan segera mengumpulkan pejabat para mentri dan panglima perang, prajurit, termasuk kuda, gajah, kereta perang, lengkap dengan pesenjataan. Waktupun berlalu, pagi-pagi berangkatlah Raja Hastina, berangkat bersama pasukan berkuda, gajah, kereta perang dengan perlengkapan, diiringi oleh prajurit yang gagah berani, seratus juta jumlahnya. Hiruk pikuk seluruhnya lengkap dengan senjata. Bergemuruhlah suara kendang, sungu, gong beri ditabuh bertalu- talu, bagikan mnggegerkan langit. Begitu pula sorak sorai prajurit bergema, bagaikan suara ombak beradu. Entahlah berapa malam di perjalanan, tibalah mereka di tepi wilayah Negeri Déwantāra.

Mundurlah orang-orang pedusunan, semua lari ke kerajaan, melapor kepada para mantri. Maka itu, berangkatlah Patih Witarāga, Patih Mangkubhūmi, Patih Déwantaka, diiringi oleh para prajurit, lengkap dengan pesenjataan. Tidak diceritakan keadaan perang, banyaklah prajurit yang gugur. Tewaslah Patih Witarāga oleh Sang Arjuna. Terbunuhlah Patih Mangkubhūmi oleh Sang Bhīma, terbunuhlah Patih Déwantaka oleh Sang Nakula. Pada waktu itu mundurlah semua prajurit Parya.

Segeralah Brahmā dan Wiṣṇu melapor kepada Raja Candrabherawa dari keraton, diiringi oleh para mentri delapan dewa. Tidak diberikan membawa senjata. Adapun Patih yang gugur itu tidak atas perintah Sang Raja, betindak tidak atas perintah atasan.

Diceritakan langkah Sang Nakula dan Sang Sahādéwa, mengejar larinya musuh. Mereka dihadang oleh Raja Candrabherawa, yang  berperang tanpa senjata. Kata Sang Nakula: “ Wahai raja, engkau Sang Candrabherawa, mengapa engkau berperang tanpa senjata, silakan ambil senjatamu”.

Kata Raja Candrabherawa: “ Wahai engkau Sang Nakula, Sahadéwa, kalian tidak tahu dengan senjataku, aku datang sudah membawa senjata, namun engkau tidak tahu tentang rahasia senjataku, tiada matilah aku oleh mu, silahkan tusukkan senjatamu pada tubuhku”.

Marahlah Sang Nakula dan Sang sahadéwa, lalu dicingcang dan dikeroyok Sang Candrabherawa, namun beliau sangat kuat, sedikitpun tubuhnya tiada terluka. Tersenyumlah Sang Candrabherawa, sembari beliau mengambil batu, untuk mencerminkan kekuatan beliau. Batu itu dipakai menangkis senjata Sang Nakula dan Sang sahadéwa, pecahlah batu itu. Kata Sang Candrabherawa: “Wahai kamu Nakula dan Sahadéwa, pecahlah batu itu oleh senjatamu, kami tiada terkalahkan, jika aku mau membalasnya, pastilah engkau mati tiada berdayanya.

Kebingungan Sang Nakula dan Sang Sahadéwa, lalu mereka lari, melapor kepada Sang Arjuna tentang kesaktian Sang Candrabherawa.

Dhananjaya dhīré dhīraḥ, Bhāvéṣyat téśva gaéacati, Santa payajanti téripuh, Sanggha taśca pravākśyami.

Marahlah Sang Arjuna, lalu berangkat dia, menantang Raja Candrabherawa. Kata Sang Arjuna: “Wahai mengapa engkau Sang Candrabherawa, berlaga tanpa senjata. Tidakkah perilaku seorang Kṣatriya yang gagah berani”.

Menjawab Sang Candrabherawa: “Aku membawa senjata, tetapi engkau tidak mengetahui senjataku, silahkan keluarkan seluruh ilmu panahmu semua”. Demikianlah kata Raja Candrabherawa.

Marahlah Sang Arjuna, segeralah mengeluarkan seluruh ilmunya, setelah memusatkan batinnya, dilepaskanlah Panah sempata dan Panah Sang Hyang Paśupati. Tetapi tiada terluka Raja Candrabherawa. Katanya: “Hai kamu Arjuna, tiada mati aku oleh senjata panahmu itu, yaitu Panah Sampata dan Panah Paśupati.

Śara artinya kata-kata. Sampat artinya tubuh, Paśu artinya baik, Pati artinya intisari perkataan. Pantaslah Sang Karṇa mati oleh senjata itu, sebab tiada mengetahui hakikat panah Paśupati, sebagai Dewa dari perkataan. Begitu pula Sang Niwātakawaca, patutlah mati oleh senjata ini, karena dia sombong, pada mulutnya ujung panah Sampata, diketahui oleh mereka yang mendalami ajaran, hanya di mulut saja pengetahuannya. Bagi mereka yang belum mengetahui, pasti mati oleh senjata ini, sangat sukarlah mencari orang yang jujur dalam perkataan. Berbeda denganku, sebab aku tahu dengan intisari perkataan, aku tiada akan mati oleh Panah Sampata dan Pana Paśupati, walaupun beberapa kali olehmu. Mantra Paśupati semua yang terdiri dari empat bagian, tidak ada orang mati oleh karena Mantra”. Demikianlah kata Raja Candrabherawa.



Buku Amrita Kundalini
Meditasi-Yoga menuju Realisasi Diri

Amrita Kundalini

Detail Buku

Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

FACEBOOK COMMENT